
Pukul dua dini hari terjadi kegaduhan di motel kumuh tersebut, Sesil dan juga pria tua itu belum menyadari sedang terjadi penggrebekan di tempat mereka berbuat asusila. Keduanya tengah cekikikan dalam keadaan setengah sadar setelah beberapa saat yang lalu mencicipi barang laknat favorit mereka selepas bercinta tadi. Hingga giliran kamar mereka yang didobrak, Sesil dan juga si bandar itu terciduk dalam keadaan teler tanpa busana.
"Jangan bergerak! Kami polisi, segera serahkan diri kalian. Cepat geledah ruangan ini!" seru seorang dari mereka seraya menodongkan moncong berisi timah panas di dalamnya ke arah dua orang itu.
Keduanya terhenyak. Meskipun kesadaran mereka hanya separuh, tetapi begitu mendengar kata "polisi" kepanikan menerjang tanpa ampun. Sesil yang terkejut seketika pucat pasi, ia menyambar selimut yang tergeletak sembarang di lantai untuk membungkus tubuh polosnya, sedangkan si pria berperut buncit itu memakai celana panjangnya dengan terburu-buru.
"Cepat ringkus mereka!" perintah salah satu pria berseragam abu-abu dan coklat itu, sepertinya dia adalah pemimpin operasi ini.
"Apa-apaan kalian sembarangan menangkap orang! Kalian akan menyesal karena telah menganggu kesenanganku. Aku kenal sangat baik dengan atasan kalian!" bentak si pria tua itu.
"Jangan banyak berkilah! Kami sudah lama membuntutimu hingga bukti-bukti terkumpul yang menyatakan bahwa kamu adalah bandar dan juga pengedar narkoba di daerah ini!" teriak si pimpinan penggrebekan.
"Mana buktinya! Jika menangkapku tanpa bukti, kupastikan akan menuntut kalian semua tanpa terkecuali." Si pria itu balas berteriak-teriak dengan amarah mencoba berkelit menggunakan berbagai macam alasan.
"Kami menemukan ini." Salah seorang dari mereka menyerahkan bungkusan plastik kecil berisi sisa barang haram yang dipakai Sesil dan bandar tua bangka itu kepada si pimpinan.
"Sial!" Si pria tua yang sudah beruban itu mengumpat dan mengusap wajahnya kasar. " barang Itu bukan punyaku, tapi milik si j*lang itu." Tunjuknya pada Sesil, dia masih mencoba mengelak padahal semua bukti ada di depan mata.
"Kami akan melakukan tes urin. Jika Nona terbukti negatif bersih dari narkoba, pasti akan kami lepaskan. Semuanya, borgol mereka dan bawa ke kantor polisi!"
Pria tua itu menundukkan wajahnya dengan rahang mengeras ketika kedua tangannya terjalin dalam gelang besi kembar yang bernama borgol, sedangkan Sesil menjerit meraung-raung memohon tanpa henti agar polisi melepaskannya. Keduanya digiring masuk ke dalam mobil polisi dan langsung dibawa ke tempat yang seharusnya.
*****
Di pagi akhir pekan ini, sambil menunggu sarapan disiapkan oleh asisten rumah tangganya, Viona tengah bersantai di sofa empuk berbentuk melengkung bersama si kecil Nara sembari menonton televisi, kemudian Bima menyusul duduk di sebelah mereka.
Semenjak mempunyai bayi, Viona mempekerjakan dua orang asisten rumah tangga di rumahnya. Dia ingin fokus mengurus buah hatinya yang masih butuh perhatian ekstra, sehingga pekerjaan mengurus rumah dan juga memasak diserahkan kepada kedua asistennya itu, meskipun sesekali jika Nara tidak rewel, dia tetap terjun ke dapur untuk mempersiapkan makanan favorit Bima.
Berita pengrebekan dan penangkapan bandar narkoba di sebuah motel tadi malam ikut menghiasi siaran berita pagi ini. Bima yang juga ikut menonton, hampir saja terlonjak kaget begitu wajah Sesil tersorot kamera meskipun agak samar.
"Kasihan wanita itu ya, Mas. Padahal masih muda, tapi karena didapati mengkonsumsi narkoba akhirnya ditangkap polisi. Aku kadang tidak paham dengan mereka yang memakai barang haram semacam itu, manfaatnya apa coba? Hanya merugikan diri sendiri," ucap Viona kepada Bima.
"I-iya sayang. Aku juga nggak ngerti," sahutnya kikuk karena merasa tertohok dengan perkataan Viona yang seolah ditujukan untuknya.