
Setelah mereka selesai menunaikan shalat. Bima memesan meja juga menu lengkap mulai dari sushi, hot pot beserta isiannya, juga daging wagyu untuk dipanggang, tak lupa teh ocha khas jepang dan jus jeruk untuk Nara.
Nara tak hentinya berceloteh lantaran senang bisa menghabiskan waktu dengan sang ayah juga bundanya, makan dengan lahap penuh rona bahagia. Hingga saatnya pulang pun tiba, wajahnya sedikit ditekuk dari mulai perjalanan pulang hingga sampai di rumah. Bima menggendong anaknya masuk ke dalam rumah dan entah kenapa Nara tiba-tiba merajuk mulai rewel.
“Kenapa sih, Ayah gak pernah bobo sama Nara? Kenapa nggak tinggal sama Nara? Temen-temen Nara suka bilang, kalau malam-malam takut petir, mereka tidurnya ditemenin Ayah Bundanya. Selalu bersama-sama tiap hari, Tapi kenapa kita nggak?” keluh bocah itu dengan wajah muram, dia masih menempel duduk di pangkuan Bima.
Viona tampak kebingungan, terlebih lagi Bima. Rasa bersalah semakin menumpuk penuh sesak di kalbunya, akibat dirinya diperbudak barang laknat itu kini mereka tercerai berai dan tak bisa saling memeluk satu sama lain dalam ikatan yang utuh.
“Begini sayang, Ayah masih belum sehat betul, jadi belum boleh pulang ke sini.” Bima mencoba mencari alasan yang sekiranya bisa dicerna anak kecil. Jika mengatakan yang sebenarnya tentang statusnya dengan Viona, ia juga kebingungan harus memulai dari mana.
“Kapan Ayah sembuh?” Bola mata jernihnya menatap Bima penuh tanya.
“Ayah juga belum tahu, tapi yang pasti setiap akhir pekan kita akan menghabiskan waktu bersama.” Bima mengusap-usap rambut anaknya yang tengah merajuk itu.
“Nara, ini sudah sore. Kita mandi dulu yuk, Ayah juga harus segera pulang.” Viona mengulurkan kedua tangannya hendak meraup Nara, tetapi tiba-tiba Nara menepisnya dam malah menangis.
“Huwaaa… Nara masih pengen sama Ayah,” ucapnya seraya terisak-isak.
Keduanya kebingungan. Viona menarik napas dan menyugar rambutnya.
“Anak baik, sayangnya Bunda. Nggak boleh gitu dong, nanti kalau Ayah sakit lagi gimana? Nanti jadi bakal lama gak bisa ketemu Nara.” Ia membujuk putri semata wayangnya yang tak mau lepas seinci pun dari Bima.
“Nggak!” bocah kecil itu rewel tak seperti biasanya. “Ayah jangan pulang! Huwaaa….”
Bima juga tidak ingin berpisah berjauhan dengan anaknya, tetapi ia juga merasa tak enak pada Viona lantaran status mereka yang rumit. Anaknya merajuk rewel pasti menguji kesabaran Viona, terlihat dari air muka mantan istrinya itu yang tampak makin serba salah.
“Gini deh, gimana kalau ayah temenin sampai Nara bobo. Barulah ayah pulang. Bolehkan Bunda?” Bima mencoba bernegosiasi dengan bocah yang menangis itu sekaligus meminta persetujuan Viona.
Memejamkan mata sejenak dan mengusap wajah, Viona kemudian mengangguk dan berkata, “Boleh, nah sekarang Nara jangan nangis lagi ya.”
Bima mengangguk dan mengecup pipi basah Nara. “iya, Ayah janji.”
*****
Pukul delapan tiga puluh malam akhirnya Nara tertidur pulas dipelukan Bima. Lelaki jangkung itu bangun perlahan dari ranjang sang anak, meyelimuti, mengecup penuh sayang lalu keluar dari sana. Sejak tadi Nara terus mengekorinya, bahkan saat ke kamar mandi pun bocah itu menunggui di luar pintu takut sang ayah pulang lebih awal.
“Vi, aku pulang dulu.” Bima mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja dan melangkah keluar.
Viona mengantar hingga ke dekat mobil dan Bima menghentikan langkahnya di sana.
“Aku pamit.”
“Hmm… hati-hati di jalan. Maaf, Mas jadi pulang terlambat. Biasanya Nara tak pernah rewel begini, entah kenapa sejak kemarin malam dia banyak merajuk dan tadi sore semakin parah.”
“Tak perlu meminta maaf. Jika harus jujur akupun tak mau pulang dan ingin terus memeluknya. Lagipula kita jadi seperti sekarang juga salahku, salahku yang terlalu tunduk pada kubangan dosa itu di masa lalu.” Bima berucap lirih.
“Semua sudah berlalu. Semoga Mas bisa terus menjadi sosok yang lebih baik lagi agar Nara bangga padamu, hanya itu yang kuharapakan sekarang.”
Mereka saling berpandangan menyelam dalam diam. Sama-sama dilanda rindu yang terhalang jurang pemisah, dan penyelaman mereka harus terhenti kala suara Juna menginterupsi.
*****
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....