Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Firasat



Dengan wajah kusut Yoga membanting pintu sekencang-kencangnya hingga menimbulkan dentuman yang menggetarkan dinding. Nia yang terbangun lantaran suara gaduh itu memilih berpura-pura tidur bergelung selimut tak ingin kembali menjadi sasaran pelampiasan kekesalan Yoga. Berharap Yoga sedikit berbelas kasihan padanya jika melihat dirinya tertidur pulas meski terkadang itu semua hanya angan-angan belaka.


Yoga baru pulang dan kalah taruhan judi dengan nominal yang cukup besar menyebabkannya naik pitam. Ia juga kesal karena para lintah darat hanya meminjamkan sedikit saja sebab hutangnya makin menumpuk, orang yang meminjamkan uang justru malah menagih di tempat berjudi dan mengatakan akan menyita mobil mewah yang dipakainya yang tinggal satu-satunya jika tak segera membayar. Akibatnya ia tak bisa melanjutkan permainan yang menurutnya pasti menang sedikit lagi dan pulang dengan uang tunai terkuras.


Belum lagi pihak bank yang terus-menerus menerornya akan menyita semua aset perusahaan dan tentu saja Homeshopping akan disegel jika Yoga tak segera membayar kredit. Kepalanya berdentam serasa mau pecah. Namun, ia bukannya berhemat di saat terdesak begini, malah makin menjadi-jadi menghamburkan hartanya yang masih dalam genggaman.


Otaknya berputar dan berpikir. Ia tak mau meninggalkan gaya hidup borosnya. Jika dirinya bangkrut, ia tak siap mengucapkan selamat tinggal pada hidup mewahnya. Yoga kembali geram pada Bima, merasa hidupnya kini terpuruk dan bisnisnya makin tak diminati gara-gara Sinar Abadi Grup membatalkan kerja sama.


Yoga sungguh tak sadar diri, bukannya berkaca malah mencari kambing hitam. Justru dia lah yang menggunakan nama besar perusahaan yang kini berada dalam kuasa Bima untuk memanipulasi para pebisnis lain supaya percaya akan kebijakan menggiurkan yang ditawarkan. Dan benar saja, banyak perusahaan yang langsung datang berbondong-bondong menginginkan kerja sama tanpa berpikir panjang, padahal jika ditelaah dengan teliti, isi surat perjanjian untuk perusahaan lainnya sangatlah berbeda dengan surat untuk Sinar abadi grup. Milik yang lainya lebih banyak sisi merugikan setelah ditinjau lebih ulang.


Yoga masuk ke kamar dan sempat melirik sekilas ke arah ranjang di mana Nia berbaring miring. Ia membuka brangkas dan mengambil sejumlah uang tunai yang makin menipis. Setelahnya keluar lagi tanpa menutup pintu kamar dan memangil para preman yang berjaga di pintu luar untuk masuk ke dalam apartemen dan berembuk tentang sesuatu.


Yoga yang gelap mata mulai menyusun rencana untuk mendapatkan banyak uang dalam waktu singkat, juga demi melampiaskan kemarahannya.


Nia yang masih terjaga samar-samar dapat mendengar pembicaraan Yoga dengan para preman. Gadis rapuh itu penasaran dan berusaha menajamkan pendengaran saat terdengar nama Bima pimpinan Sinar Abadi Grup disebut.


Setelah percakapan di ruang tamu usai. Nia merasa resah dalam kepura-puraannya memejamkan mata. Kalau Yoga benar melancarkan rencana busuknya, maka dirinya pun akan ikut terseret menjadi tersangka jika nanti Yoga tertangkap polisi atas tindak kejahatannya.


Ia sudah tak tahan juga lelah. Ditambah rencana jahat Yoga sekarang membuat Nia makin tertekan, keburukan Yoga makin menjadi-jadi dan terus memaksa menyeretnya ikut kemanapun pergi karena file video syurnya membelit dan membelenggunya. Mendesah lelah, Nia memutar otak, berharap menemukan cara agar dapat terbebas dari jerat laknat ini


*****


Pagi ini Bima mengantar Viona dan Nara hingga ke tempat berenang yang ditunjuk sekolah. Sementara tiga pengawal mengikuti memakai mobil lainnya. Sebelum anak dan istrinya turun, entah mengapa ia merasa gelisah juga kuatir tanpa alasan.


“Hati-hati selalu. Berkabar lah sesering mungkin,” pesannya pada Viona dengan nada kecemasan yang nyata.


“Iya, Ayah. Kita pasti hati-hati, lagian ini cuma berenang, bukan mendaki gunung.” Viona terkekeh pelan, lalu membelai rahang Bima penuh sayang untuk menghibur dan menenangkan suaminya yang tampak kuatir.


Bima mewanti-wanti pada tiga pengawal wanita, sopir, juga Bik Yati untuk menjaga anak dan istrinya semaksimal mungkin. Entah mengapa sejak bangun tidur tadi menyelinap firasat tak mengenakkan di hatinya.


“Wah, Jeng Viona kemana aja. Gimana kabarnya? Katanya lagi ngidam ya?” sapa salah satu ibu temannya Nara yang menyambutnya di dalam area kolam renang.


“Eh, iya. Biasa, kalau ngidam begini pengennya rebahan terus,” sahut Viona ramah sambil mendudukkan diri di tempat duduk yang sudah disediakan. Sedangkan Nara langsung bergabung dengan teman-temannya bersama para wali kelas.


Para orang tua berbincang sambil mengawasi anak-anak mereka berenang bersama pelatih juga para wali kelas. Bik Yati berada lebih dekat dengan kolam, tak pernah melepaskan sedikitpun matanya dari Nara, sementara sopir dan tiga pengawal berdiam di dalam mobil di tempat parkir sesuai permintaan Viona.


Asalnya Viona ingin berada di dekat kolam, tetapi Bik Yati memohon dengan sangat agar sang nyonya duduk saja di tempat yang disediakan lantaran licin dan takut nantinya malah terpeleset dan mengakibatkan hal buruk pada kandungannya.


Nara begitu senang sang Bunda ikut serta, Viona juga tampak ceria. Selain bisa menemani si buah hati, ia juga gembira dapat berbincang bertukar kata dengan para ibu lainnya tentang tumbuh kembang anak-anaknya.


Lumrahnya ibu hamil, mereka pasti merasakan frekuensi keinginan buang air kecil yang lebih sering dari biasanya. Viona mulai merasakan kantung kemihnya terdesak. Ia pun undur diri sebentar untuk ke kamar mandi. Viona yang selalu menjaga kebersihan pergi ke arah pintu keluar untuk mengambil tisu miliknya di mobil, ia tidak mau memakai tisu toilet yang tersedia lantaran alasan kebersihan.


Tempat parkir penuh sesak karena banyaknya pengunjung. Di area tersebut hanya mobil yang berjejer rapat tidak ramai orang berlalu lalang. Mobilnya juga mobil pengawal terparkir cukup jauh di area luas tersebut. Merasa malas untuk berjalan jauh, Viona merogoh ponselnya bermaksud menelepon si sopir untuk membawakan barang yang dibutuhkannya. Namun, tiba-tiba ada yang menyergap dan membungkam mulutnya. Viona meronta sekuat tenaga hingga di menit kemudian semuanya terasa gelap.


*****


“Mau kemana kamu? Jangan berani kamu keluar dari sini tanpa persetujuanku,” peringat Yoga saat melihat Nia sudah berpakaian rapi.


“Aku minta izin pergi ke dokter sebentar, sudah waktunya suntik kontrasepsi. Kecuali jika kamu ingin aku hamil anakmu,” jawab Nia pelan sambil menyisir rambutnya.


“Lupakan. Punya anak itu merepotkan. Aku benci tangisan anak kecil! Pergilah, tapi jangan coba-coba kabur. Kalau kamu berani kabur, maka_”


“Aku takkan kabur,” potong Nia cepat. “Aku sudah hapal di luar kepala tentang konsekuensinya.” Ia mengambil tas cangklongnya dan segera berpamitan pergi.