
Sudah beberapa kali Viona meminta pada ayahnya agar diizinkan mengunjungi Bima di rutan, lagi-lagi Abdul tetap bersikeras tak memperbolehkan. Rima juga ikut membujuk berharap suaminya melunak, tetapi hasilnya selalu nihil.
Bima dijatuhi hukuman tiga tahun penjara, hak rehabilitasi juga diberikan tetapi tetap dengan statusnya sebagai tahanan. Kabar itu juga langsung sampai kepada Viona melalui pesan yang dikirimkan mertuanya.
Dengan derai air mata dipanjatkannya do’a kepada Sang Pencipta, bersimpuh bersujud di keneningan malam meraup sepi dan memendamnya di dasar hati, semoga ini menjadi titik awal suaminya kembali ke jalan yang benar sehingga mereka bisa kembali berkumpul bersama.
Dua bulan berlalu setelah vonis dijatuhkan. Selama itu pula Viona menahan keinginan bersua dengan suami juga ayah dari anaknya karena Abdul masih tak memeberi kelonggaran. Rasa khawatir juga penasaran kerap merayapi, bagaimanakah kondisi suaminya sekarang? Apakah sudah lebih baik? Dan juga apakah makanan di sana sesuai dengan selera Bima yang sangat pemilih?
Lamunannya buyar ketika suara Juna menginterupsinya. Ini kunjungan ke empat Juna semenjak hari itu. Viona yang duduk di ayunan besi taman samping rumah beranjak turun dan menyambut.
“Ini kuemu, aku tak ingin di cap pelit lagi. Bila perlu toko kuenya juga kubeli sekalian.” Juna memberikan bungkusan berisi Cake Red Velvet kesukaan Viona.
Viona berdecih sambil menyambar bungkusan tersebut. “Cih, dasar sombong!”
Ia mengajak Juna duduk di kursi taman, meletakkan bungkusan berisi kue dipangkuan kemudian membukanya dan dicoleknya menggunakan telunjuk si cream cheese menggoda selera yang menjadi toping cake tersebut. Dimasukannya ke dalam mulutnya dan senyuman merekah terukir saat rasa manis serta lezat lumer di indera pengecapnya.
Abdul menyusul Viona ke taman dengan Nara yang menangis dalam gendongan, wajahnya langsung tampak sumringah ketika mendapati keberadaan Juna di sana. Viona langsung menoleh ke arah sumber suara kala suara tangisan putri kecilnya terdengar.
“Anak Bunda ngantuk ya.” Viona mengambil alih anaknya dari gendongan sang kakek dan mengecupi Nara yang merengek.
“Jun, gimana kabarnya? tamu kok dibiarkan duduk di sini sih Vi,” protes Abdul.
“Dia kan bukan tamu, paling cuma mau numpang makan masakan Ibu,” ledek Viona yang kemudian berlalu membawa Nara ke kamarnya untuk disusui.
“Iya Om.” Juna mengangguk, bangkit dan mengekor di belakang Abdul.
“Jadi perusahaanmu bergerak dalam bidang produksi juga eksport-import kain?” tanya Abdul. Ayahnya Viona mempunyai ketertarikan tersendiri kepada Juna, setelah terakhir kali dia melihat putrinya bisa kembali tersenyum dan tertawa lepas selain dengan Ibel.
“Baru beberapa tahun ini,” sahut Juna sopan.
“Wah, cocok sekali dengan usaha juga hobi Viona. Sejak dulu ketertarikannya akan kain dan dunia fashion membuat Viona bersinar di usia muda. Om sedang berusaha membujuknya agar kembali mengurusi butiknya yang terbengkalai, berharap dengan menggeluti hobinya bisa membuat suasana hatinya kembali membaik.”
“Saya juga memasok kebutuhan kain untuk butik Viona. Beberapa waktu yang lalu saya juga sempat bertanya tentang kelangsungan butiknya itu, tapi Viona menjawab masih belum siap bertemu orang-orang,” jelas Juna yang kemudian menyesap kopinya.
Abdul mengembuskan napas kasar, terdengar nada geram yang tertahan. “Semua ini gara-gara Bima! Membuat putriku yang penuh energi serta percaya diri menjadi rapuh dan terpuruk seperti sekarang. Om benar-benar merasa bersalah telah menjodohkan Viona dengan Bima.”
Juna hanya terdiam melipat bibirnya kebingungan, entah bagaimana dia harus menanggapi perkataan Abdul tentang Bima. Dia merasa tidak mempunyai hak untuk mengomentari.
“Oh iya Jun. Om mau minta tolong,” pinta Abdul.
“Boleh Om, jika mampu pasti saya akan berusaha menolong. Apa yang bisa saya bantu?” tanggap Juna.
“Cobalah untuk meyakinkan dan membujuk Viona agar mau berinteraksi lagi dengan dunia luar. Sudah cukup dia terus mengurung diri. Om perhatikan, sepertinya kamu sangat mengerti segala sesuatu tentang Viona.”