
Sejak pertemuannya dengan Juna, Bima berubah menjadi pribadi yang posesif. Bahkan ia meminta Viona untuk membatalkan kerja sama mengenai pemesanan kain dari perusahaan Juna karena tidak ingin istrinya terlalu sering bertemu muka dengan laki-laki itu.
Bima tidak bodoh. Dirinya bisa merasakan sorot mata Juna pada istrinya terasa berbeda, bukan tatapan layaknya teman biasa, melainkan tatapan memuja dari seorang lawan jenis pada wanita yang disukainya. Bima takut, nantinya Viona berpaling darinya setelah mengetahui bahwa Juna lebih paham mengenai segala sesuatu tentang istrinya itu.
Akan tetapi, tentu saja Viona tidak bisa serta merta membatalkan kerja samanya karena proses pembuatan kain sudah berlangsung hingga setengah jalan. Jika dibatalkan mendadak maka efeknya perusahaan Juna dan juga butiknya akan mengalami kerugian yang tidak sedikit.
Viona membujuk dan memberi pengertian pada Bima, bahwa hubungannya dengan Juna hanya sebatas pekerjaan saja. Akhirnya Bima mengizinkan, dengan syarat jika ada pertemuan dengan Juna mengenai pekerjaan maka Bima juga harus ikut terlibat langsung, tidak mengizinkan Viona untuk bertemu berdua saja.
*****
Sepulang kerja nanti, Bima sudah berjanji pada Viona untuk mengantarnya membeli pakaian bayi serta kelengkapannya. Ia melirik arloji di tangannya dan jarum jam sudah menunjukan pukul tiga sore.
Bima kembali fokus pada berkas-berkas yang tinggal beberapa lagi, begitu bersemangat menyelesaikannya dengan senyum merekah karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan istri tercintanya yang sedang mengandung anaknya. Bima mengambil pulpen hendak membubuhkan tanda tangan, kemudian ponselnya yang tergeletak di atas meja berbunyi mengagetkannya yang tengah fokus pada dokumen di hadapannya.
Bima mengerutkan kening melihat nomor yang tertera di layar lantaran tidak mengenali nomor tersebut. Awalnya ia ragu, tetapi kemudian memutuskan untuk menerima panggilan tersebut karena khawatir mungkin saja memang ada yang ingin menyampaikan kabar penting.
"Hallo." Bima membuka percakapan.
"Selamat sore, Tuan Bima. Bagaimana kabar Anda? Masih ingatkah padaku?" tanya seseorang diseberang telepon yang ternyata suara wanita.
"Maaf, dengan siapa ini?" Raut wajah Bima penuh tanya karena tidak familiar dengan suara orang tersebut.
Setengah sadar? Melewati malam bersama? Siapa wanita ini? batin Bima.
Bima memijat pelipisnya dan langsung bangkit dari duduknya. "Siapa kamu? tidak usah berbasa-basi!" serunya lantang.
"Tenanglah, Tuan Bima yang terhormat. Aku Sesil temannya Reva, Kamu ingat? Beberapa bulan yang lalu di rumah Reva kita pernah bertemu, bahkan saat itu kamu yang lebih dulu menerjangku dan menyeretku dalam kedekatan yang lebih dalam lagi hingga kita mengerang bersama-sama," papar si wanita itu tanpa tahu malu.
Bima terkesiap, ingatannya langsung terbang kembali ke beberapa waktu lalu saat dirinya tiba-tiba terbangun di kamar Reva dalam keadaan berpelukan tanpa busana dengan wanita yang tak dikenalnya.
"Apa maumu? Untuk apa kamu menghubungiku!" geramnya dengan gigi gemeletuk.
"Aku hanya ingin meminta sedikit darimu, meminta pertanggung jawabanmu karena sekarang aku sedang mengandung benihmu. Aku hamil, anakmu," ucapnya enteng.
Dhuar ....
Laksana petir yang tiba-tiba menyambar di tengah hari bolong ketika Bima mendengar kata-kata hamil. Ia baru saja mencecap rasa manis dalam kehidupan rumah tangganya bersama Viona, tetapi kenapa tiba-tiba badai yang datang begitu dahsyat memporak porandakan benteng baru rumah tangganya yang masih rapuh.
"Ap-apa? Ha-hamil!" Bima tergagap dengan wajah pias diserbu keterkejutan yang luar biasa.