Forgive Me My Wife

Forgive Me My Wife
Rencana Busuk



Siang ini Sesil janji bertemu dengan Reva di sebuah cafe dekat pemukiman tempat tinggalnya sekarang. Ia tak bisa pergi terlalu jauh karena kesepakatannya dengan Bima yang melarangnya bepergian jauh dari sana.


"Gimana perkembangannya?" tanya Reva kepada Sesil di sela-sela menyesap sebatang rokok filter yang terselip di jemarinya.


"Masih sama saja. Bima itu susah sekali dirayu tidak seperti para pria pada umumnya yang mudah tergiur dengan tubuh mulus dan seksi. Bahkan jika aku tanpa busana pun sepertinya dia tak berminat sama sekali. Akh ... aku kesal!" decak Sesil sembari memutar bola matanya malas.


"Kira-kira sampai kapan drama ini bisa kamu mainkan? yang penting kita keruk hartanya sebanyak-banyaknya, setelah dia benar-benar habis kita kabur keluar negeri dan hidup mewah di sana." Reva terlihat penuh ambisi dengan sorot mata menyala-nyala.


"Aku juga tidak yakin sampai kapan drama sialan ini bisa kuperankan. Tapi yang pasti jika aku ketahuan berbohong tentang kehamilanku olehnya, entah apa yang akan diperbuatnya terhadapku. Aku sudah berhenti mengkonsumsi pil kontrasepsiku dan mencoba berbagai macam cara agar membuatnya meniduriku, tapi ternyata hal itu sangat sulit terjadi." Sesil mengacak rambutnya frustrasi.


"Kamu serius mau hamil beneran? Bukannya kamu membenci hal itu sebelumnya karena takut bentuk tubuhmu tidak indah lagi?" Reva bertanya dengan mata memicing.


"I-iya, semua ini kan untuk melancarkan rencana kita. Lagipula Bima mengatakan akan mengambil bayinya setelah aku melahirkan. Apa susahnya hamil, cuma butuh waktu kurang dari setahun saja proses kehamilan itu akan selesai dan kita bisa menguras kekayaannya dalam rentang waktu tersebut," jelas Sesil meyakinkan Reva, walaupun sebetulnya ada hal lain yang menggelitik sanubarinya.


"Kamu betul juga, jadi kita bisa mendapat lebih banyak lagi dari ini." Reva mengangguk-anggukan kepala. "Kapan jadwal Bima berkunjung?" tanya Reva.


"Besok. Setiap hari Sabtu siang dia akan datang mengantarkan bahan makanan dan keperluanku. Biasanya Bima datang sendiri karena dia bilang keberadaanku harus disembunyikan."


"Lalu bagaimana perihal dokter kandungan?" kata Reva.


"Kamu tahu nama dokternya, apakah ada fotonya juga? Biar aku yang urus untuk bernegosiasi dengan dokter yang ditunjuk Bima dan memintanya memalsukan laporan pemeriksaanmu."


"Ada, akan kukirimkan datanya lewat ponsel," jawab Sesil begitu antusias.


"Nih, berikan ini pada minuman Bima. Karena sekarang dia sudah sangat jarang mengkonsumsi obat favoritnya jadi agak susah untuk menjebaknya." Reva merogoh saku celana jeans yang dipakainya kemudian menyerahkan beberapa butir obat dalam wadah bulat berwarna putih.


"Apa ini?" Sesil mengernyitkan dahinya karena tidak familiar dengan barang tersebut.


"Itu obat, ehm. Kamu pasti tahu fungsinya, pergunakan dengan baik. Obat ini susah didapat karena penggunaannya sangat ketat. Masukkan itu saat kamu menyajikan minuman untuk Bima. Ini beraroma lemon, kamu bisa mencampurkannya dengan teh madu lemon agar rasa pahitnya tersamar dengan pahit dari seduhan daun teh," jelas Reva.


"Ini obat itu kan?" Sesil menaikkan sebelah alisnya dengan bibir tersenyum senang.


"Ya, kamu pasti suka. Bukankah saat bercinta dengan Bima kala itu kamu bilang padaku merasakan sensasi berbeda yang tak pernah kamu dapatkan sebelumnya? Sekarang milikilah dia." Reva tergelak puas dengan liciknya.


"Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Thanks Va." Sesil pun ikut terbahak penuh ambisi.