
" Astiii.... Kamu ya, pacaran sama Mas Fardan nggak bilang-bilang sama aku. Sejak kapan kamu PDKT an sama dia? " Sya langsung berteriak begitu panggilan video call nya di angkat oleh Asti yang notabene merupakan sahabatnya semasa kuliah hingga saat ini. Dan entah bagaimana ceritanya, saat ini Asti justru akan menjadi kakak iparnya.
" Hehehe... Kok kamu udah tau sih Sya? " Bukannya menjawab pertanyaan Sya, Asti malah balik bertanya kepada gadis itu.
" Dari Mama sama Ayah lah. Tega kamu nggak cerita sama aku. Mas Fardan juga iya, ihhhh.... jahat banget sih kalian. " Ujar Sya memulai aksi merajuknya.
" Bukan gitu Sya. Aku sama Mas Fardan nggak berniat ngerahasiain hubungan ini ke kamu. Tapi ya gimana. Kan kejutan Sya. " Ujar Asti menjelaskan seraya terkekeh geli.
" Alah... Sekarang ceritain awal hubungan kalian. Aku mau tau. " Ujar Sya kepada Asti.
" Jadi kita tuh PDKT dari setaun yang lalu. Terus jadiannya udah hampir 8 bulan. Udah sih gitu aja. " Jawab Asti santai.
" Itu doang? Maksudnya gimana bisa sampe deket gitu Asti. " Tanya Sya dengan gemas.
" Ya awalnya kita tukeran nomer HP. Udah sih, kepo banget jadi adik ipar. " Ujar Asti tertawa.
" Ya ampun, gimana bisa Mas Fardan yang kalem dan baik hati itu jatuh ke tangan perempuan sebobrok kamu. " Ujar Sya menggelengkan kepalanya heran. Pasalnya Asti itu termasuk perempuan setipe dengan Dian. Tidak bisa diam dan ceplas-ceplos.
" Hahaha, ya mana aku tau Sya. Tapi kan kalo orang kalem biasanya pasangannya orang yang rame. Contohnya aku sama Mas Fardan. Kalo Mas Fardan dapetnya cewek kalem juga kayak dia, nanti mereka ngobrolnya gimana coba? " Ujar Asti memberikan perumpamaan.
Yang Asti katakan ada benarnya juga sih, kalo sama-sama kalem nggak asik jadinya. Masa iya nanti kalo udah nikah diem-dieman.
" Alesan wae kamu. " Jawab Sya sekenanya.
" Tapi kamu setuju nggak aku sama Mas Fardan? Masa Mama sama Ayah udah setuju, adeknya nggak setuju, kan nggak asik jadinya. " Tanya Asti kepada Sya.
" Ya setuju lah Sya. Walaupun kamu bobrok aku tau kalo kamu orangnya baik dan nggak neko-neko. 4 tahun kita bareng, dan dulu aku pernah punya niatan buat ngedeketin kamu sama Mas Fardan. Tapi karena setiap ketemu kalian seperti nggak tertarik satu sama lain ya akhirnya nggak jadi. Eehh tiba-tiba aku tau malah langsung mau lamaran aja. " Ujar Sya membongkar salah satu rahasia jika dulu dia sempat menjodohkan Asti dan Fardan.
" Hahaha, jodoh nggak ada yang tau. Kita deket juga tiba-tiba aja. Nggak terencana sama sekali. " Jawab Asti.
" Jadi kapan tepatnya kamu sama Mas Fardan mulai deket? " Tanya Sya kepada Asti.
" Ehmmm... Kapan ya. Kayaknya waktu Mas Fardan ke kosan terus kamu lagi keluar sama temen-temen yang lain. Jadinya aku deh yang nemenin Mas Fardan ngobrol di ruang tamu. Abis itu dia minta nomer aku dan berlanjut chatingan. Terus ya udah, dia nembak aku ya jelas aku terima lah. " Ujar Asti tertawa.
" Wihhh, mantap kali Masku itu bisa nembak cewek. " Sya ikut tertawa. " Terus-terus? Gimana lagi, Mas Fardan nembaknya kayak gimana? " Tanya Sya penasaran.
" Ahhh ceritanya panjang, nanti aja kalo kita ketemu aku ceritain. " Ujar Asti malas.
" Yah, kok gitu sih. Ayolah As, masa sama adek ipar begitu. Nggak aku restuin nih. " Ujar Sya mencoba mengancam.
" Iya deh iya. Jadi, waktu Mas Fardan ke Bandung nemuin kamu itu kan malemnya aku ijin keluar kan sama kamu? Yang ijin pergi sama Bela itu loh. Nah itu sebenernya aku pergi sama Mas Fardan. Terus ya gitu, Mas Fardan nembak aku di motor. Nggak romantis banget emang kakak kamu. Tapi ya mau gimana lagi, aku cinta soalnya. " Ujar Asti menceritakan kisahnya di tembak oleh Fardan.
" Ooo, yang pulangnya kamu bawa pecel ayam sama Martabak kan? " Ujar Sya menebak.
" Yap, tepat sekali. Itu sebenarnya yang beliin Mas Fardan. Takut adek tercintanya kelaperan soalnya. " Jawab Asti seraya tertawa.
" Bener-bener ya kalian berdua. Bisa banget boongin aku sampe 1 taun lamanya. " Ujar Sya kesal.
Setelah video call lebih dari 1 jam, Asti dan Sya mengakhiri pembicaraan mereka karena sudah waktunya untuk sholat ashar.
Setelah mandi sore dan sholat ashar, Sya turun ke bawah dan seperti biasa keadaan di lantai satu sepi, Sya ke depan rumah, ternyata disana ada Mama Farida yang sedang menyirami bunga-bunga kesayangannya.
" Mama... " Panggil Sya kepada Mamanya.
" Hmm.. kenapa dek? " Tanya Mama Farida.
" Nggak papa. Mama cantik. " Mulai saja Sya menggoda Mama Farida.
" Iyalah, kalo Mama nggak cantik kamu juga nggak akan secantik ini. " Jawab Mama Farida dengan percaya dirinya.
" Haha.. Iya juga ya.. " Jawab Sya tertawa.
" Udah sini, bantuin Mama siram taneman. Eeehhh tapi adek udah mandi ya? Nggak usah deh biar Mama aja. " Mama Farida yang melihat Sya sudah bersih dan wangi tidak jadi meminta bantuan putrinya itu.
" Emang kenapa kalo udah mandi? Kan nanti bisa mandi lagi. " Jawab Sya sekaligus bertanya.
" Mandi terus nanti masuk angin dek. Biasanya juga kamu mandi cuma sehari sekali. Sok-sokan mau mandi sehari 3 kali. " Ujar Mama Farida telak.
Tentu saja Sya yang mendengar ucapan Mama Farida langsung tertawa. Memang ya diucapkan Mamanya itu benar adanya.
" Hahaha... Mama tau aja sih. Jadi tambah sayang deh sama Mama. " Ujar Sya tersenyum manis.
" Gombal aja terus kayak Ayah. " Jawab Mama Farida.
" Ooo iya, Ayah kemana? kok nggak keliatan dari tadi. " Tanya Sya kepada Mama Farida.
" Ayah di belakang dek, lagi ngasih makan ikan sama burung. Biasa rutinitas sore ngurusin anak-anaknya yang lain. " Jawab Mama Farida.
" Ya udah, adek ke Ayah dulu ya. " Ucapan Sya ini di jawab anggukan oleh Mama Farida.
Sya masuk kedalam rumah dan melangkah kearah halaman belakang. Dan benar saja, Ayahnya terlihat sedang memberikan makan ikan. Sedangkan beberapa burungnya juga sepertinya habis diberi makan karena terlihat dari tempat makan burung dan tempat airnya yang sudah terisi penuh.
" Cie anak Ayah udah gede-gede. " Ujar Sya kepada Ayah Dodi.
" Iya dong, cantik-cantik kan anak-anak Ayah. " Ujar Ayah Dodi tersenyum dengan bangga.
" Cantik siapa coba sama adek? " Tanya Sya kepada Ayahnya.
" Cantikan adek dong, yang lain mah lewat kalo dibandingin sama adek. " Jawab Ayah Dodi tertawa kecil.
Sudah tau kan darimana Sya mendapatkan bakat menggobal? Tentu saja dari Ayah Dodi tercinta.