
Pagi ini Sya, Radit dan juga keluarganya sedang bersiap untuk menuju Bandara, untuk penerbangan Jakarta-Jogja. Kendra yang masih mengantuk saat ini ada di gendongan Sya. Sedangkan Radit bertugas membawa koper yang berisi perlengkapan untuknya dan juga Kendra. Dan ya.. Sya memang tidak membawa apa-apa. Sya hanya membawa ransel kecil yang berisi barang-barang penting saja. Toh di Jogja pakaiannya masih banyak. Dan masalah oleh-oleh sudah dibawakan Fardan saat pulang ke Jogja bulan lalu.
Hubungan Sya dan Radit sejak kejadian semalam masih baik-baik saja. Sya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dengan dirinya dan juga Radit saat di depan Kendra dan orang tua Radit, namun saat hanya berdua mereka terlihat memang sedikit menjaga jarak. Sedangkan Radit terlihat lebih pendiam walaupun ada didepan Kendra maupun orang tuanya, toh sejak dulu Radit memang tipikal orang yang tidak banyak bicara, jadi tidak membuat orang lain curiga.
" Biar aku yang gendong aja, Kendra udah semakin berat. " Ujar Radit mensejajarkan langkahnya disamping Sya.
" Nggak papa Mas, kamu kan juga lagi susah bawa koper. " Ujar Sya menolak tawaran Radit.
" Makasih ya. " Ucap Radit dengan tatapan lembutnya.
Sya hanya tersenyum menanggapi ucapan Radit.
Setelah menempuh penerbangan 1 jam 10 menit, akhirnya mereka tiba di Bandara Adi Sucipto. Ternyata supir pribadi Ayah Sya sudah menunggu di parkiran Bandara.
Sya yang memang sudah tau langsung menghubungi Pak Iman untuk menanyakan keberadaannya. Tidak lama kemudian mereka menuju ke tempat dimana Pak Iman memarkirkan mobilnya.
" Assalamu'alaikum Pak Iman. " Ujar Sya setelah ada disamping supirnya itu.
" Wa'alaikumsalam Mbak Sya. Waduhhh... 6 bulan nggak ketemu kok tambah ayu wae toh Mbak?" Ujar Pak Iman menggombali Sya.
" La iyo toh Pak, kan Sya perawatan di Jakarta. " Ujar Sya tertawa menanggapi ucapan Pak Iman.
" Ekhemm..." Ujar Radit memberikan kode.
" Oo iya Pak, ini kenalin, konco lawase Mama sama Ayah. Namanya Pak Riyan sama Bu Riana. Kalo yang ini putranya, namanya Mas Radit. Yang lucu ini anaknya Mas Radit, namanya Kendra. " Ujar Sya mengenalkan keluarga Radit kepada Pak Iman.
" Oalah, kulo Iman Pak Bu Mas, supirnya Pak Dodi sudah dari 10 tahun yang lalu. " Ujar Pak Iman ramah. Dia tidak menyangka jika Sya mau repot-repot memperkenalkan dirinya kepada teman majikannya. Memang, Sya dari dulu adalah pribadi yang ramah dan sopan. Dia selalu menghargai orang yang lebih tua apapun profesinya.
Setelah sesi perkenalan itu, mereka langsung menuju kediaman Sya. Perjalanan dari Bandara cukup dekat, hanya memakan waktu 1 jam perjalanan.
Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah rumah tanpa pagar namun halamannya cukup luas dengan banyak pohon buah-buahan dan bunga-bunga di depan teras rumahnya. Seperti kebanyakan rumah yang ada di Desa, lebih luas halamannya dari pada rumahnya. Meski begitu rumah orang tua Sya ini sudah 2 lantai.
Terlihat Mama dan Ayah Sya sudah ada diteras duduk di sebuah kursi. Begitu melihat mobil datang, mereka langsung beranjak dari duduknya.
Tanpa aba-aba Sya langsung turun begitu mobil berhenti.
" Mama Ayahh.... Adek pulang. " Jiwa manja Sya langsung bangkit begitu melihat keberadaan orang tuanya. Membuat mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Radit yang melihatnya begitu terkejut, selama ini yang dia tau Sya adalah gadis dewasa. Namun saat melihatnya sekarang, Radit semakin merasa bersalah. Ternyata Sya seperti gadis lain, dia memiliki sisi rapuhnya. Sya terlihat sangat manja saat ini, seperti seorang bayi.
" Adek.. Malu itu sama tamu. " Ujar Mama Farida berusaha melepas belitan tangan Sya di pinggangnya.
" Nggak mau... " Ujar Sya menolak.
" Maaf ya Yan, Riana. Anak bontotku itu manja banget kalo udah sama Mamanya. Ayahnya aja sampe dilupain. " Ujar Ayah Dodi kepada sahabat lamanya itu.
" Wajar kalo anak perempuan manja sama Ibunya. " Ujar Papa Riyan tertawa kecil.
" Bundaa.... " Panggil Kendra menyadarkan Sya dan juga yang lainnya.
Secara tiba-tiba Sya langsung melepaskan pelukannya kepada Mama Farida. Malu rasanya saat tau Kendra melihat tingkah manjanya saat ini. Kalo masalah Radit sih Sya bodo amat.
" Eehh sayang. Ehhh sini kenalin. Ini orang tua Bunda, namanya Mama Farida dan Ayah Dodi. " Ujar Sya mengenalkan orang tuanya kepada Kendra.
" Oohh ini cucumu ya Mbak, lucu banget mashaAllah. Ganteng ya kayak Papanya. Sini sayang sama Mbah uti. Namanya siapa sayang?" Ujar Mama Farida mencoba mendekati Kendra. Dan ajaibnya Kendra langsung mau untuk bersalaman dengan Mama Farida.
" Kendla. " Ujar Kendra malu dengan malu-malu.
" Kok malu-malu gitu sih sama Mbah uti. "
" Kendra belum salim sama Mbah kung sini. " Ujar Ayah Dodi kepada Kendra.
" Salim dulu sayang. " Ujar Radit kepada Kendra.
" Kendra emang pemalu Mas, sama kayak Radit dulu. " Ujar Mama Riana kepada Ayah Dodi.
" Kalo Radit dulu bukan pemalu Ri, tapi emang pendiem banget. " Ujar Ayah Dodi tertawa. Yang tentu saja hanya ditanggapi senyuman oleh Radit.
" Oalahh, sampe lupa kalo masih teras. Masuk dulu ayo Mbak Mas. " Ujar Mama Farida.
Mereka semua langsung masuk kedalam rumah. Setelah berbincang-bincang sebentar Sya langsung membawa Kendra untuk istirahat di kamarnya. Meski hanya 1 jam, terlihat Kendra sangat lelah.
Sedangkan di ruang tamu, Orang tua Radit dan Orang tua Sya sedang terlibat perbincangan mengenai masa lalu mereka.
" Aduhh, Mbak Riana ini meski anak udah pada gede tetep aja kelihatan awet muda terus, sepertinya menolak tua ya Mbak. " Ujar Mama Farida menggoda Mama Riana.
" Kamu bisa aja Far, kamu sendiri juga keliatan awet mudanya. Lagian mana mungkin aku menolak tua, orang keriput aja udah dimana-mana. " Ujar Mama Riana terkekeh kecil.
" Halah, gitu aja terus sampe kebo betelor. " Ujar Papa Riyan menimpali dan membuat Radit juga Ayah Dodi tidak bisa menahan tawanya.
" Papa ihh, nggak suka banget kalo liat Mama seneng. " Ujar Mama Riana cemberut.
" Jangan ngambekan sayang, dimata aku kamu tetap akan terlihat muda kok. " Ujar Papa Riyan mengeluarkan rayuan gombalnya.
" Alah, gombal. " Jawab Mama Riana jutek.
" Tuhkan Dod, dari dulu laki-laki itu selalu salah. Dikatain tua salah, dikatain muda juga salah katanya gombal. Maunya apa sih. " Ujar Papa Riyan kepada Ayah Dodi.
" Intinya perempuan baik tua maupun muda itu tetep sulit dimengerti. " Jawab Ayah Dodi tertawa.
" Bener banget tuh, kita laki-laki terima aja kalo selalu salah. "
Radit semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka, dia sangat lelah dan merasa mengantuk saat ini. Tadi malam pun kurang tidur karena terus memikirkan Sya.
Terlihat Radit yang tiba-tiba menguap.
" Ya ampun nak Radit, kamu ngantuk ya... Udah istirahat dulu sana di kamar tamu. " Mama Farida beranjak dari duduknya.
" Eehh, nggak papa tante. " Ujar Radit merasa tidak enak.
" Nggak papa, Sya sama Kendra aja pasti sekarang udah tidur. Kamu juga pasti lelah, apalagi harus mendengar cerita membosankan kita para orang tua. " Ucapan Mama Farida ini membuat semuanya tertawa kecuali Radit sendiri.
" Udah sana istirahat dulu. " Ujar Papa Riyan kepada Radit.
Akhirnya mau tidak mau Radit menuruti ucapan Papanya.
" Kalo gitu Radit pamit ke kamar dulu Om Tante. " Ujar Radit menunduk sopan.
" Ayo sini tante anter. " Ujar Mama Farida tersenyum ramah.
Ternyata kamar tamu tepat disamping tangga untuk ke lantai 2 dimana kamar Sya berada.
" Makasih ya Tan. "
" Kamu makasih-makasih terus kayak sama siapa aja. Udah istirahat dulu sana. Tante tinggal ke depan lagi ya. " Ujar Mama Farida ramah.
Setelah menutup pintu kamarnya, Radit merebahkan dirinya di ranjang berseprai coklat. Aroma kamar ini harum kopi. Aroma yang Radit suka. Hingga tanpa sadar karena sudah terlalu lelah, tidak lama kemudian Radit sudah terlelap tidur.