
Hari ini bertepatan dengan pernikahan Fardan yang merupakan kakak Sya dengan Asti yang juga adalah sahabat Sya semasa kuliah. Setelah sebulan yang lalu mereka mengadakan lamaran, maka hari ini akan menjadi hari bersejarah dimana mereka akan sah menjadi suami istri.
" Nggak nyangka kamu bakal jadi kakak ipar aku As. " Sya terharu saat masuk ke kamar Asti. Pernikahan Fardan dan Asti memang di adakan di kediaman Asti di Semarang.
" Jangan nangis dong, nanti aku jadi ikutan nangis nih. Aku kan udah make up cantik begini. Nanti luntur. " Asti juga ikut terharu karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang istri dari kakak sahabatnya sendiri.
" Bunda... " Kendra masuk menghampiri Sya. Bocah kecil itu terlihat semakin tampan dengan setelan jas berwarna navy, yang merupakan seragam keluarga dari pengantin.
" Kendra sini sayang. Coba liat Tante Asti cantik kan? " Ujar Sya kepada Kendra.
Kendra menatap ke arah Asti yang sedang tersenyum manis kepadanya.
" Iya, Tante Asti cantik. Tapi Bunda juga cantik. " Setelah menatap Asti, Kendra mengalihkan perhatiannya ke arah Sya yang memang sudah cantik dengan make up naturalnya dan juga menggunakan kebaya berwarna navy senada dengan warna jas Kendra.
^^^
photo by Google^^^
" Makasih sayang. Kendra juga hari ini ganteng banget loh. " Ujar Asti kepada Kendra.
" Makasih Tante Asti. " Kendra tersenyum malu di pangkuan Sya karena mendapat pujian dari Asti.
Tiba-tiba seseorang dari keluarga Asti datang memberitahu jika ijab kabul akan segera di laksanakan dan meminta mempelai wanita untuk turun ke bawah.
Terlebih dahulu Sya meminta seseorang mengantarkan Kendra ke Radit karena Sya takut dia lengah mengawasi Kendra. Jadi lebih baik Sya berikan pengawasan untuk Kendra kepada Ayahnya.
Kenapa Radit ada disini? Tentu saja karena keluarga Sya mengundangnya secara khusus. Sebenarnya bukan hanya Radit dan Kendra saja, tapi orang tua Radit juga ada disini. Sedangkan Rida tidak dapat ikut karena Raga sedang sibuk-sibuknya mengurus sebuah proyek pembangunan di Bandung. Pekerjaannya yang merupakan seorang Arsitek sama seperti Fardan membuatnya hampir selalu sibuk, terlebih saat ada proyek seperti ini.
Setelah itu Sya ikut turun menemani sahabatnya ini. Sya menggandeng tangan Asti, dapat Sya rasakan jika tangan sahabatnya ini sangat dingin.
" Rileks As, tangan kamu dingin banget. " Bisik Sya kepada Asti.
" Ali udah coba, tapi nggak bisa. Aku deg-degan. " Ujar Asti dengan lirih.
Ya, Sya bisa memahami bagaimana perasaan Asti saat ini. Walaupun Sya belum pernah merasakannya. Tapi Sya tau ini pasti terasa sangat menegangkan.
Terlihat di lantai satu sudah sangat ramai, baik mempelai laki-laki, penghulu, keluarga, maupun tamu undangan yang akan menyaksikan sahnya kedua mempelai ini. Ditambah fotografer yang akan bertugas mengabadikan momen spesial yang semoga saja menjadi satu-satunya yang terjadi seumur hidup.
Berbeda dengan semua orang yang langsung terfokus kepada mempelai wanita yang sedang berjalan turun dengan anggun menjajaki satu-persatu anak tangga. Maka itu semua tidak berlaku untuk seorang laki-laki yang sedang duduk dengan seorang bocah kecil di pangkuannya. Laki-laki itu justru terfokus dengan gadis yang sedang menggandeng sang mempelai wanita. Siapa lagi kalau bukan Radit.
Selama ini Radit tidak pernah melihat Sya yang dandan berlebihan. Biasanya gadis itu hanya memakai pelembab, lipstik nude, dan eyeliner, itu pun hanya saat Sya di kantor. Karena saat mereka bertemu di hari biasa Sya sangat jarang menggunakan make up, paling hanya memakai pelembab wajah dan juga lipbalm. Namun kali ini dia begitu terpesona dengan dandanan Sya, terlihat elegan dan cantik. Bahkan menurutnya lebih cantik Sya dari pada pengantinnya itu sendiri. Ini menurut pendapatnya ya, tapi bukan berarti si pengantin itu jelek. Dia juga cantik, hanya saja lebih cantik Sya.
" Cantik. " Gumam Radit tanpa sadar.
" Iya, Bunda cantik kan Ayah. " Ujar Kendra menimpali. Tentu saja Kendra mendengar ucapan Radit karena dia ada di pangkuan laki-laki itu. Dan kenapa Kendra langsung bisa tau kalau yang di maksud Radit adalah Sya? Tentu saja karena menurut Kendra Sya memang lebih cantik dari Asti, dan karena Sya adalah Bundanya.
Radit tersenyum simpul mendengar ucapan Kendra.
Setelah mengantarkan Asti duduk tepat di samping mempelai laki-laki, Sya langsung duduk di tempatnya di samping Radit setelah sebelumnya tersenyum ke arah kakaknya. Rasa harus menyelimuti hatinya saat ini. Kakak yang selama ini selalu ada untuknya dan selalu menjaganya sedari dia kecil hari ini akan menikah dan memulai lembaran baru di kehidupannya. Akan menjadi milik orang lain, tidak apa-apa Sya tetp merasa bahagia. Terlebih wanita pilihan kakaknya itu adalah sahabatnya sendiri. Dan Sya yakin itu adalah pilihan terbaik, karena Sya juga mengenal baik bagaimana Asti.
" Jangan sedih kan masih ada aku yang bakal gantiin tugas Fardan buat jaga kamu. " Bisik Radit ditelinga Sya.
*flashback~
Tadi malam Sya berkunjung ke kamar Fardan. Terlihat kakak laki-lakinya sedang bermain ponsel*.
Sya mengetuk pintu kamar Fardan meskipun kamar laki-laki itu tidak tertutup dengan rapat.
" Kenapa dek? Masuk aja. " Fardan yang melihat kehadiran Sya langsung menyuruh gadis itu untuk masuk.
" Mas... " Air mata tidak bisa lagi Sya bendung. Sya sedih karena Masnya itu akan menikah. Bukan, bukan Sya tidak ikhlas. Sya bahagia Fardan akan menikah, terlebih dengan sahabatnya.
" Jangan nangis, meskipun Mas udah nikah Mas masih terus jadi Mas kamu. Adek jangan pernah sungkan untuk cerita apapun sama Mas . " Fardan begitu mengerti perasaan adik satu-satunya itu.
Meskipun Sya belum mengatakan apapun tapi Fardan tau jika ini perihal pernikahannya. Sya pasti merasa takut kehilangan dirinya. Dia pasti takut jika Fardan tidak lagi perhatian padanya. Padahal tidak begitu, meskipun Fardan sudah menikah, kasih sayangnya kepada adiknya tidak akan mungkin hilang. Bagaimana mungkin itu terjadi, sedangkan sejak kecil dialah yang menjaga Sya dari setiap orang yang mau berlaku buruk kepadanya. Dia juga tempat Sya menangis setiap gadis itu sedang datang bulan karena perutnya yang sakit. Lalu bagaimana bisa kasih sayangnya ini akan hilang hanya karena dia akan menikah? itu tidak akan pernah terjadi.
" Adek seneng kan Mas mau menikah? Katanya adek mau menikah kalo Mas udah nikah dulu. Sekarang Mas mau nikah loh. " Ujar Radit mengajak Sya bercanda.
" Adek seneng, tapi juga sedih. " Jawab Sya lirih.
" Jangan sedih-sedih ah, nanti cantiknya hilang. " Ujar Fardan seraya mengusap air mata Sya.
Malam ini Sya dan Fardan habiskan untuk mengenang masa kecil dan masa remaja mereka. Dimana Fardan sangat protektif kepadanya. Namun meski begitu Sya tidak pernah keberatan dengan perlakuan Fardan kepadanya.
flasback end*~
Sya menatap Radit dan tersenyum lembut.
" Kamu cantik. " Ujar Radit kepada Sya.
" Makasih Mas. " Jawab Sya seraya tersenyum. Mendapat pujian dari Radit membuat Sya merasa bahagia.
" Tapi aku nggak suka sama baju kamu. Bahu kamu jadi keliatan. Dan sekarang banyak laki-laki yang ngeliatin kamu. Aku cemburu. " Ujar Radit kepada Sya.
Ya memang Sya cantik dan Radit menyadarinya sejak pertama kali melihatnya. Dan untuk baju Sya sendiri Radit baru menyadarinya jika baju itu terbuka dibagian bahu setelah Sya duduk di sampingnya.
Radit tidak tau kalau model baju Sya seperti itu karena saat fitting baju mereka tidak bersama.
" Ini masih aman kok Mas, kan nggak ada belahan yang nunjukin dada. " Ujar Sya membela diri. Memang yang terlihat hanya bahunya saja, dan menurut Sya ini masih sopan.
" Iya, tapi aku tetep nggak suka. Nanti kalau bikin baju buat nikahan kita kamu bikin yang lengan panjang aja ya. " Ujar Radit.
" Iya Mas Iya, ini terakhir aku pake baju kayak gini kok. " Akhirnya Sya mengiyakan permintaan Radit.
Suasana mendadak hening saat ijab kabul akan segera di mulai.
" Saudara Maudrik Fardan Syaputra Bin Dodi Subroto saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putriku yang bernama Asti Larasati binti Toni Subagio dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 50 gram dibayar tunai. "
" Saya terima nikah dan kawinnya Asti Larasati binti Toni Subagio dengan mas kawin tersebut di bayar tunai. " Jawab Fardan dengan lantang dan satu tarikan nafas.
" Bagaimana saksi? Sah? "
" Sahhh. "
Alhamdulillah hari ini Fardan sah mempersunting Asti menjadi istrinya. Seketika suasana menjadi haru namun juga lebih rileks tidak setegang tadi.
" Sekarang Mas udah menjadi suami untuk Asti, jaga selalu dan hormati Asti sebagaimana kamu menjaga Mama dan adikmu. Jangan pernah buat dia terluka. Bimbing dia jika melakukan kesalahan, jangan langsung memarahinya. " Ayah Dodi dengan terharu memberikan wejangan kepada putranya itu yang sudah sah seorang suami untuk anak gadis orang.
" Iya Ayah, Fardan bakal inget pesen Ayah. "
Sedangkan Sya dan Mama Farida sudah meneteskan air mata haru mereka.