
Kendra menolak untuk tinggal di ruangan Radit, jadilah Sya meminta ijin Radit untuk mengajak Kendra ke ruangannya saja.
" Ya udah Kendra biar sama aku aja Mas. " Ujar Sya kepada Radit.
Radit menghela nafas melihat Kendra yang saat ini entah kenapa sedang begitu manja kepada Sya. Biasanya memang manja, tapi tidak sampai seperti ini.
" Ya udah, aku anter ya. "
Radit mengantar Sya ke ruangannya. Sebenarnya jam kerja sudah di mulai, dan tadi karena ada beberapa hal jadilah mereka terlambat. Tapi seperti biasa, itu bukanlah masalah besar seperti saat Sya belum menikah dulu. Siapa yang akan memarahinya jika dia datang terlambat? Terlebih dia berangkat bersama Direktur perusahaan ini.
Sya masuk kedalam bersama Kendra yang ada di gendongannya.
" Ya ampun Sya, akhirnya lo berangkat juga, gila kerjaan kita hari ini tuh banyak baaaa..... nget. " Ucapan Dian semakin mengecil di akhir kalimatnya, dia tidak menyadari dengan siapa Sya datang pagi ini. " Pak Radit.... " Lirih Dian begitu menyadari Radit ada di belakang Sya dengan menggendong sebuah tas bergambar Doraemon milik Kendra.
" Ekhemm. " Radit hanya berdehem tidak menanggapi ucapan Dian. Dia justru menatap sekilas kearah Tio yang sedang menatap kearahnya dan juga Sya.
Dian terdiam di tempatnya tidak tau harus melakukan apa. Rasanya sangat akward.
Sedangkan Sya sedang menahan tawanya melihat ekspresi Dian yang terlihat begitu terkejut. Untung saja sepertinya Leo sedang keluar, jika tidak pasti Dian akan menjadi bahan olok-olokan oleh laki-laki itu nantinya.
" Kendra beneran mau disini sama Bunda? " Tanya Radit kepada Kendra.
Kendra menganggukkan kepalanya cepat.
" Ya udah, tapi jangan rewel ya. Janji sama Ayah? " Ujar Radit mengingatkan putranya.
" Janji, Kendla nggak akan lewel Ayah. " Jawab Kendra seraya memperlihatkan jari kelingkingnya. Sebuah kebiasan yang Kendra sering lakukan bersama Aurel jika mereka saling membuat janji.
" Good boy. " Radit mengusap puncak kepala Kendra.
" Ya udah aku balik ke atas ya, kalo butuh apa-apa langung hubungi aku aja kalo nggak Andre. " Ujar Radit kepada Sya.
Sya mengganggukan kepalanya.
Saat Radit sedikit memajukan wajahnya ke depan dan berniat mencium dahi Sya, Kendra justru mendorong dadanya yang seketika membuat Radit sedikit terdorong kebelakang karena tidak siap.
"No, Ayah nggak boleh makan Bunda lagi. " Ujar Kendra dengan polosnya.
" Makan? Ayah nggak mau makan Bunda kok. Ayah cuma mau cium kening Bunda. " Jawab Radit tidak mengerti maksud ucapan dari Kendra.
Sedangkan wajah Sya seketika memerah, dia tau maksud dari ucapan Kendra karena kejadian beberapa hari yang lalu.
" Udah Mas balik ke ruangan Mas aja nggak papa. " Ujar Sya kepada Radit, sedikit terlihat seperti mengusir sih, tapi dari pada...
" Tapi waktu itu Ayah makan bibil Bunda. " Jederrrrr.... Sya langsung terkejut bukan main karena ucapan Kendra, wajahnya semakin memerah karena malu. Sedangkan Radit masih terdiam mencoba untuk mencerna ucapan anaknya itu. Lain halnya dengan Dian, sekarang dirinya lah yang sedang mencoba untuk menahan tawanya karena dia langsung paham apa yang di maksud Kendra. Berbeda lagi dengan Tio yang seperti sedang menyibukkan dirinya dengan pekerjaan padahal hatinya sedang remuk redam melihat keuwuan Sya dan Radit.
Perlahan tapi pasti Radit langsung dapat memahami maksud dari ucapan Kendra. Seketika saja dia langsung tertawa mengingatnya.
" Hahaha.... " Tawa Radit ini membuat Dian terkesima. Melihat senyumnya saja sangat jarang, apalagi melihat tawanya. Apa ini salah satu keajaiban dunia?
**flashback
Saat ini Radit sedang berdiri di belakang Sya yang sedang mencarikan kaos untuknya yang baru saja selesai mandi. Dan karena Radit merasa gemas dengan wajah Sya yang begitu polos itu dia memutar tubuh Sya dan mencium bibirnya.
Secara tidak sengaja dia lupa jika pintu walk in closetnya* tidak tertutup dan ada Kendra yang ada di kamarnya. Dan saat dia mencium Sya, tiba-tiba saja Kendra masuk dan melihat semuanya.
" Ayaahhh...... " Kendra berteriak histeris, dia berlari kearahnya dan langsung memukul kakinya, karena memang hanya bagian itu yang bisa tergapai.
Sya langsung menjauhkan dirinya dari Radit dengan mendorong laki-laki itu. Kemudian meraih Kendra yang masih memukuli kaki Radit yang sepertinya tidak berasa apa-apa.
Kendra mulai menangis begitu ada di gendongan Sya. Sedangkan Radit bingung dengan apa yang terjadi, sebenarnya ada apa?
Jadilah sejak itu Kendra tidak pernah membiarkan dia dan Sya hanya berdua saja kecuali saat Kendra sudah tertidur.
flashback off*
" Udah sana Mas balik aja. " Ujar Sya kepada Radit karena merasa semakin malu.
" Ya udah iya aku balik ya. " Ucap Radit yang kemudian mencium dahi Sya dengan cepat sebelum meninggalkan ruangan itu.
Bertepatan dengan Leo yang masuk ke ruangan dengan membawa beberapa berkas yang sepertinya habis di fotocopy.
" Lo kenapa Di? Kesambet? " Tanya Leo kepada Dian yang masih terdiam di tempatnya sedangkan Sya sudah duduk di kubileknya dengan Kendra yang ada di pangkuan. Sengaja Sya tidak menyadarkan Dian yang masih senyum-senyum sendiri itu.
" Gue barusan liat salah satu keajaiban dunia masa. " Ujar Dian ambigu.
" Keajaiban dunia apa? " Tanya Leo penasaran.
" Tadi Pak Radit ketawa coba, selama hampir 4 taun gue kerja disini baru kali ini gue liat Pak Radit ketawa. " Ujar Dian antusias.
Leo yang mendengarnya langsung mendengus malas. Dasar gila, batik Leo kepada Dian.
" Eehh, lo bawa anak Sya. " Tanya Leo begitu menyadari Sya tidak sendirian dan melihat anak kecil di pangkuannya.
" Hehe, iya ini. Maaf ya kalo nanti agak ganggu kalian. Soalnya Kendra minta ikut kesini tadi. " Ujar Sya dengan tidak enak hati.
Meskipun Sya istri dari Direktur tetap saja Sya berusaha untuk bisa seprofesional mungkin.
" Salim dulu sama Om nya sayang. " Ujar Sya kepada Kendra.
Bocah laki-laki itu menuruti ucapan Sya dengan mengulurkan tangannya kepada Leo.
" Nama aku Kendla Om. " Ucap Kendra dengan suara lucunya.
Kemudian beralih kepada Dian yang sepertinya sudah tersadar dengan rasa terpesona kepada tawa Radit itu.
Dan yang terakhir, Kendra mendekati Tio.
Tio yang melihatnya tanpa sadar tersenyum melihat Kendra yang imut sekali. Pipi chubbynya membuat Tio merasa gemas.
" Hai Kendra, kenalin Om namanya Tio. " Ujar Tio dengan ramah.
Meskipun dia sedikit tidak suka kepada Radit, tapi itu bukan alasan untuk membuatnya juga membenci Kendra bukan?
Entah bagaimana ceritanya, Kendra langsung akrab dengan teman-teman Sya itu. Terlebih dengan Tio. Bahkan saat ini mereka sedang mewarnai bersama karena memang Tio lebih dulu menyelesaikan pekerjaannya.
Dan ya, tentu saja semua itu tidak lepas dari pengawasan seseorang yang berada di lain tempat itu.
.
.
.
Maaf ya, mungkin alurnya agak sedikit lambat karena aku sendiri masih memikirkan akan memberikan konflik seperti apa di cerita ini. Yang pasti konflik tidak akan berat-berat kok. Hanya konflik yang biasa terjadi di kehidupan rumah tangga aja. 😁
Terima kasih buat dukungan kalian semua, jangan lupa untuk selalu kasih aku kritik dan sarannya ya ☺
Terima Kasih 🙏💕