
Tidak terasa usia baby Rendra sudah 1 bulan. Dan itu berarti Radit harus kembali ke kantor untuk menjalankan tugasnya sebagai Direktur di perusahaan Santoso. Namun karena sudah terbuai dengan suasana rumah yang begitu menyenangkan, rasanya membuat Radit malas untuk kembali ke kantor.
"Sayang, kalau aku ambil cuti lagi menurut kamu gimana? " Tanya Radit kepada Sya.
"Ambil cuti lagi? Buat apa Mas, kamu kan udah cuti 1 bulan. Itu lama banget loh Mas. Kan yang habis melahirkan aku bukan kamu, kenapa jadi kamu yang banyak ambil cuti? " Jawab Sya menatap Radit gemas.
Ada-ada saja memang tingkah suaminya itu.
"Ya kan aku belum puas main di rumah sama adek dan Abang." Seperti Kendra yang kalau permintaannya di tolak, begitu juga dengan Radit, laki-laki itu sekarang ini tengah merajuk.
"Ya kan habis pulang kerja bisa main lagi sama adek dan Abang Mas." Sya tetap berusaha untuk memberikan Radit pengertian secara halus.
Dulu saja kalau kerja sering tidak ingat waktu, sekarang untuk pergi ke kantor saja rasanya seperti harus berpisah berabad-abad lamanya dengan anak-anaknya.
" Tapi kan waktunya jadi semakin sedikit sayang, enggak semaksimal kalau aku di rumah." Radit masih saja memberikan alasan berharap Sya dapat memberinya izin untuk mengambil cuti kembali.
Sya menggelengkan kepalanya mendengar alasan yang Radit berikan. Benar-benar seperti Kendra yang sedang merajuk.
"Ya udah, gini aja mendingan. Aku kerja ke kantor, Mas yang di rumah jaga adek sama Abang. Tenang aja, aku pumping ASI kok biar Mas enggak repot nantinya. " Jawab Sya pada akhirnya.
Cara halus tidak dapat dia gunakan untuk Radit, jadilah Sya sedikit membubuhkan ancaman kecil untuk suaminya itu.
Mendengar perkataan Sya tentu saja Radit terkejut bukan main, apa-apaan ini. Yang Radit inginkan bukan bertukar peran dengan istrinya, alasan anak sebenarnya menjadi yang ke 2, karena yang pertama tentu saja karena Radit ingin selalu dekat dengan Sya.
Setelah melahirkan entah kenapa membuat Radit semakin tidak ingin jauh-jauh darinya.
"Enggak, apa-apaan. Mana ada kamu kerja lagi. Aku enggak bakal ijinin kamu kerja sayang. Kamu cukup di rumah sama anak-anak seneng-seneng buat habisin uang aku. " Ujar Radit seraya memanyunkan bibirnya.
"Gimana mau habisin uang kamu kalau kamu enggak kerja. Yang ada belum aku puas belanja uang kamu udah abis duluan. " Jawab Sya sedikit mencibir. Tidak, niatnya bukan seperti itu, hanya saja Radit seperti laki-laki pada umumnya yang memiliki ego tinggi. Dengan Sya mengatakan seperti ini tentu saja akan membuat sisi kelakian Radit tidak terima dan pasti akan membuktikan kalau yang Sya ucapkan itu tidak benar.
"Kamu ngeremehin aku? enak aja uang aku nggak bikin kamu puas belanja. Sampai 7 turunan anak cucu kita aja uang aku cukup buat mereka semua. " Jawab Radit santai. Ternyata laki-laki itu sama sekali tidak terpancing dengan ucapan Sya.
"Jangan sombong, kalau Allah SWT sudah berkehendak harta kamu bisa habis dalam sekejap Mas. " Ujar Sya kepada Radit. "Maksud aku Mas, kamu kan Direktur, tanggung jawab kamu kepada ribuan karyawan kamu itu tidak ringan, jadi kamu harus bekerja keras agar tidak mengecewakan mereka semua. " Tambah Sya.
Radit menganggukan kepalanya paham.
"Iya iya, aku enggak jadi perpanjang cuti." Jawab Radit pada akhirnya.
"Uuuhhh, suami aku manis banget sih kalau lagi nurut kaya gini. Sini aku kasih hadiah. " Sya menarik tangan Radit pelan dan mengecup pipinya.
Namun Radit menahan tangan Sya yang akan melepaskan tangannya.
"Kalau di pipi doang nggak cukup Bunda, yang ini kan belum. " Radit menyentuh bibirnya dengan jari Sya seraya tersenyum licik.
"Bundaaa..... Abang lapel pengen maem. " Teriak Kendra yang saat ini sedang ada di ruang keluarga menjaga baby Rendra yang sedang tertidur di kasur bayinya. Sedangkan Sya sedang memasak di dapur. Membuat pesanan Kendra yaitu tumis sosis kecap.
Radit? Laki-laki itu hari ini sudah mulai bekerja kembali ke kantor. Meskipun tadi pagi terjadi sedikit drama karena Radit sulit di bangunkan dan terus menempel kepada Sya yang sedang menyusui baby Rendra. Sampai akhirnya Sya kesal barulah Radit mau beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi pun drama yang Radit buat belum juga berakhir, melihat Sya yang sudah menidurkan baby Rendra kembali, sifat manja Radit kembali muncul. Untuk memakai kemejanya saja Radit meminta Sya yang melakukannya. Benar-benar seperti bayi besar.
"Sebentar Bang, ini Bunda lagi masakin. 5 menit lagi selesai. " Ujar Sya menjawab dari dapur.
Mendengar jawaban dari Sya, Kendra kembali fokus dengan film yang ada di TV. Dengan sabar Kendra menunggu Sya menyelesaikan masakannya.
Seperti yang Sya katakan, tidak sampai 5 menit masakan Sya sudah selesai. Sya langsung mengambil nasi hangat dan menyiramnya dengan tumis sosis kecap.
Tentu saja Kendra menganggukkan kepalanya tidak menyia-nyiakan penawaran yang Bundanya berikan.
"Ayo baca doa dulu." Sebelum makan tentu saja tidak lupa Sya mengingatkan Kendra untuk membaca doa terlebih dahulu.
Sejak kemarin Mbok Inah memang sedang pulang kampung karena anak perempuannya akan menikah. Jadilah di rumah ini hanya ada Mbak Tinah yang membantu Sya.
"Enak?" Tanya Sya kepada Kendra.
"Enak dong... " Tentu saja masakan Sya tidak pernah gagal rasanya.
Saat sedang menyuapi Kendra, tiba-tiba ada suara mobil yang masuk ke halaman rumah.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara Radit. Itu berarti Radit sudah pulang. Tapi kenapa cepat sekali?
"Wa'alaikumsalam.... " Jawab Sya. "Tumben udah pulang Mas? Ini bahkan masih jam 2." Ujar Sya seraya menyalami suaminya itu.
"Aku rindu sama kalian. " Jawab Radit seraya tersenyum manis dan mengecup dahi Sya. Memang apa lagi alasan yang bisa membuatnya bisa pulang secepat ini selain rindu kepada anak dan istrinya.
Mendengarnya Sya hanya bisa menggelengkan kepala, ya sudah terserah suaminya saja mau bagaimana.
"Ayahh.... " Panggil Kendra dengan antusias.
"Heyy boy... " Radit berjalan mendekati Kendra.
Saat Radit akan mencium Kendra dan baby Rendra, Sya segera menghalanginya.
"Bersih-bersih dulu Mas, atau kalau enggak sekalian mandi." Ujar Sya kepada Radit.
Mau tidak mau Radit langsung menuruti ucapan Sya, biar bagaimanapun ini demi kebaikan bersama. Radit harus mengutamakan kesehatan keluarganya.
Barulah setelah selesai membersihkan dirinya Radit kembali turun ke ruang keluarga untuk bermain bersama anak-anaknya. Memang tidak ada yang lebih menyenangkan dari bisa berkumpul bersama keluarga. Untuk itu Radit berencana untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama orang-orang tercintanya ini.