Baby... I Love You

Baby... I Love You
Bucin



Direktur Galak


" Kamu namain kontak aku Direktur Galak? " Tanya Radit dengan suara terkejut.


" Tuh kan galak. " Jawab Sya terkekeh geli. " Jangan galak-galak Pak, Pak Radit udah tua entar tambah tua lho. " Ujar Sya menggoda Radit.


Radit yang mendengar ucapan Sya menghembuskan nafasnya secara perlahan.


" Kata siapa aku galak? Dan udah aku bilang kan, jangan panggil Pak kalau kita lagi berdua. Panggil Mas, Maureen. " Ujar Radit seraya mencubit pelan hidung mancung Sya.


" Iya iya... Mas Radit. Kata siapa kalau Mas Radit galak? Ya kata aku lah. Bentar- bentar marah, bentar-bentar emosi, bentar-bentar ngambek. Itu kalau nggak galak apa coba? Mas tuh galaknya kayak cewek lagi PMS hari pertama tau nggak, moodnya berantakan. Padahal aku aja kalau PMS nggak separah Mas kalo lagi marah lho " Ujar Sya mendengus kesal.


" Gitu ya, kok aku nggak sadar sih. " Ucap Radit tanpa rasa bersalah.


" Ya nggak sadar lah, orang nggak pernah intropeksi diri. " Sya menjawab dengan nada suara yang masih kesal.


" Kok jadi kamu yang emosi sih. " Ujar Radit kepada Sya.


" Astagfirullah, Mas sih pake mancing-mancing segala. Kebawa emosi kan aku jadinya. " Ujar Sya mengelus dadanya seraya beristighfar.


" Kamu lucu deh kalo lagi ngambek gitu, kayak Kendra. Bibirnya maju kedepan semua. Pengen aku cium tapi belum halal. " Ujar Radit tertawa senang berhasil menggoda Sya.


" Isshhh, Mas Radit kok jadi mesum sih? Sana jauh-jauh. " Ujar Sya langsung menjauhkan dirinya dari jangkauan Radit dengan memepetkan tubuhnya kearah pintu mobil.


" Hahaha... Aku bercanda kok. Lagian orang dewasa kayak aku dan pernah menikah pasti pikirannya nggak sebersih pikiran polos kamu itu Maureen. " Ujar Radit dengan santai.


" Udah ah nggak usah bahas itu, ayo katanya mau pulang. Udah hampir lewat jam sholat ashar loh. Lagian kita berenti disini udah hampir satu jam. " Ujar Sya mengingatkan Radit seraya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan tidak berfaedah mereka.


" Sini pinjem HP kamu dulu, aku mau ganti nama kontak aku. " Ujar Radit meminta ponsel milik Sya.


" Nanti aku ganti. " Jawab Sya menolak.


" Aku nggak percaya, cepet sini. Setelah aku ganti nama kontak itu kita langsung pulang." Ujar Radit kekeh dengan permintaannya.


Tidak ingin memperpanjang waktu lagi, Sya kemudian memberikan ponselnya kepada Radit dengan malas.


" Sandinya apa? " Tanya Radit kepada Sya setelah menerima ponsel milik Sya.


" Nol nol nol nol. " Jawab Sya dengan suara terdengar malas.


Tidak lama setelahnya Radit memberikan ponselnya Sya kepada pemiliknya kembali. Sya yang penasaran dengan nama yang diganti oleh Radit segera membuka kontak di ponselnya.


Direktur Ganteng


" Apaan ini. Kok Mas narsis banget sih, pake ngatain diri sendiri ganteng lagi. " Ujar Sya tertawa geli.


" Lah aku emang ganteng kok, coba lihat baik-baik. Aku ganteng nggak? Ganteng kan? " Radit mendekatkan wajahnya kepada Sya yang tentu saja langsung membuat gadis itu gugup bukan main. Pasalnya tanpa mendekatkan wajahnya saja Sya sudah tau jika Radit sangat tampan. Tapi tentu saja dia malu untuk mengakuinya secara langsung.


" Iya Iya. " Jawab Sya cepat.


" Iya apa? Yang jelas dong. " Ujar Radit menggoda Sya. Sebenarnya dia tau maksud dari ucapan Sya, hanya saja dia suka saat melihat wajah Sya yang memerah disekitar pipinya.


" Iya Mas Radit ganteng. Udah mundur sana. " Sya mendorong bahu Radit agak keras agar mundur kebelakang.


" Hahaha... Ya ampun, muka kamu lucu banget sayang. " Radit gantian menertawakan Sya dengan geli.


" Udah Mas, aku malu ihhh. " Ujar Sya menutup wajahnya.


" Apaan itu panggil sayang sayang. " Jawab Sya kesal.


" Ya kan aku sayang kamu. " Ujar Radit santai.


" Udah ayo anter aku pulang Mas, aku belum sholat ashar ini. " Ujar Sya mengingatkan Radit yang masih saja tertawa geli.


" Iya, siapp ibu bos. " Jawab Radit seraya mengedipkan matanya lucu.


" Yang bos kan Ma Radit. " Ujar Sya mengkoreksi.


" Ya kalo kamu jadi istri aku kan itu berarti kamu jadi ibu bos. " Ujar Radit santai.


" Tapi kan belum jadi istri Mas Radit. "


" Belum? Berarti mau dong jadi istri aku. " Ujar Radit tersenyum.


" Mas, ayo pulang. " Muka Sya sudah bertambah memerah. Rasanya dia ingin turun dari mobil ini untuk menutupi rasa malunya.


" Iya Iya, ayo kita pulang. " Radit mengelus kepala Sya sekali lagi sebelum kembali menjalankan mobilnya untuk mengantar Sya pulang ke kosan.


Dalam perjalanan pulang Sya dan Radit saling bercanda. Radit merasa sangat santai saat bersama Sya. Berbeda dengan saat bersama Audrey yang selalu serius. Tidak pernah ada candaan diantara mereka. Entah bagaimana bisa Radit bertahan selama lebih dari 10 tahun sejak SMA bersama mantan istrinya itu.


" Mau mampir beli makanan nggak? " Tanya Radit kepada Sya.


" Enggak Mas, ini kan udah dibawain banyak makanan sama Mama Riana. " Ujar Sya menunjukkan rantang yang berisi banyak makanan. Tadi selama di rumah Mama Riana, Sya sedikit ikut membantu memasak, walaupun hanya sekedar hal-hal kecil. Dan hasil masakan mereka ini dibawakan juga kepadanya oleh Mama Riana. Tidak lupa juga tambahan makanan lain. Sebenarnya sudah Sya tolak, hanya saja Mama Riana beralasan jika takut Sya kelaparan saat malam hari. Tidak tau saja jika kosannya saat ini penuh dengan cemilan yang dibelikan oleh Fardan saat kemarin disini.


Tapi tidak apa-apa, Sya bisa membagikannya kepada Dita dan Mbak Titik nanti.


" Nggak beli cemilan? " Ujar Radit masih menawarkan sesuatu kepada Sya.


" Nggak Mas, kemarin Mas Fardan udah ngisi stok banyak banget, kulkas sama lemari makanan udah penuh banget. " Ujar Sya menolak.


" Yakin nggak butuh apa-apa? " Tanya Radit memastikan.


" Yakin dong. " Jawab Sya.


" Kalo butuh apa-apa kamu telfon aku aja. " Ujar Radit kepada Sya.


" Kenapa harus telfon Mas Radit? " Sya justru bingung dengan ucapan Radit itu.


" Ya aku beliin. Kalau enggak nanti aku kesini bantu kamu. " Jawab Radit santai.


" Mas kayak driver go food aja kalo gitu. " Ujar Sya tertawa.


" Ya nggak papa. Yang penting kamu seneng. "


" Kok Mas Radit jadi bucin begini? " Tanya Sya heran.


" Bucin? Apa itu bucin? " Sya tidak heran jika Radit tidak tau istilah-istilah kata anak muda jaman sekarang. Karena hidup Radit saja hanya seputar bisnis dan keluarga.


" Budak cinta. " Jawab Sya.


" Kata siapa? Nggak ah. " Ujar Radit menolak disebut bucin. Padahal salah satu ciri dari maksiat bucin ya seperti ini. Melakukan apa saja yang pasangannya minta. Dan Radit bukan melakukan karena diminta tapi malah justru menawarkannya sendiri secara suka rela.


" Iya deh Iya, terserah Mas Radit aja. Yang muda ngalah sama yang lebih tua. " Ucap Sya seraya tertawa kecil. Radit yang mendengar ucapan Sya tentu saja langsung memelototkan matanya.