Baby... I Love You

Baby... I Love You
Mood Datang Bulan



" Mau makan apa? " Tanya Radit kepada Sya.


Sya masih melihat-lihat buku menu makanan yang ada di restoran ini.


" Kayaknya kepiting dan udang saus padang aja Mas. Minumnya es jeruk. " Ujar Sya kepada Radit.


" Mbak kepiting dan udang saus padang, nasinya 2, es jeruknya juga. " Sya memberitahukan pesanannya kepada pelayan.


" Itu saja Pak? " Pelayan itu menatap Radit dengan tatapan kagumnya yang tidak bisa ditutupi karena dapat terlihat jelas oleh Sya.


" Hhmmm. " Jawab Radit cuek.


" Ditunggu sebentar ya Pak. " Ucapan pelayan itu tidak ditanggapi oleh Radit, hal ini membuat pelayan itu tersenyum sedikit canggung kepada Sya. Melihat itu membuat Sya menendang pelan kaki Radit.


" Aawww... Apa sih sayang, kali ini aku salah apalagi sama kamu? " Radit yang mendapat tendangan kecil itu tersentak kaget.


" Mas ihh. Nggak sopan. "


" Nggak sopan? Emang aku ngapain, orang dari tadi aku nggak ngapa-ngapain. " Tanya Radit menatap Sya dengan pandangan bingung.


" Mas tuh dari tadi disenyumin sama mbaknya, eehh muka Mas Radit malah flat gitu. Malu kan mbaknya jadinya. " Jawab Sya memberitahukan kepada Radit.


" Ooo itu. Ya bukan salah aku dong, ngapain juga ganjen sama cowok yang udah punya gandengan. Kayak yang nggak ada kerjaan aja. Udah tau aku kesini sama kamu. Masih aja gitu mau tebar pesona? Nggak mempan. Maaf ya, aku tuh orangnya setia kalo udah punya pasangan." Ujar Radit dengan santainya.


" Ya ampun Mas... " Mendengar jawaban dari Radit, Sya merasa spechles sendiri. Dia tidak menyangka jika Radit akan menjawab seperti itu, dalam pikiran Sya, Radit pasti akan menjawab " Biarin aja, namanya juga orang ganteng. Wajar kalo banyak orang yang ngeliatin karena terpesona. " Dan jawaban Radit itu sungguh diluar ekspektasinya. Kemana perginya jiwa Radit yang over percaya diri itu? Tapi tidak apa-apa. Setidaknya jawaban Radit lebih baik daripada yang ada dipikiran Sya tadi.


" Kamu kenapa kaget gitu? Pasti nggak nyangka ya orang seganteng aku itu setia. Jangan kaget sayang, aku emang setia kok orangnya. Aku jamin aku tidak akan tergoda dengan wanita lain selama kamu ada disamping aku. " Ujar Radit seraya menampilkan senyum tanpa dosanya.


Huuffftt... Baru saja Sya memujinya didalam hati. Tidak lama kemudian kepercayaan diri Radit yang over itu malah muncul. Mau bagaimana lagi kalo itu sudah menjadi kepribadiannya selama ini? Sya tentu tidak bisa mengubahnya bukan kalau bukan atas dasar keinginannya sendiri.


" Jadi kalo aku nggak ada disamping kamu, Mas Radit bakal tergoda gitu? " Tanya Sya dengan menyipitkan matanya.


" Tergantung. " Jawab Radit santai.


Sya diam saja tidak menyahuti lagi perkataan Radit. Moodnya saat ini tiba-tiba menguap entah kemana.


Hhmmm... Sepertinya Radit salah bicara.


" Nggak sayang, aku bercanda kok. Serius aku nggak akan tergoda sama wanita lain kok. " Ucap Radit cepat saat dia menyadari jika ucapannya itu membuat Sya tidak nyaman.


" Ooh.. Masa. " Jawab Sya santai.


" Kamu marah? " Tanya Radit kepada Sya. Pertanyaan macam apa ini, sudah tau kalo Sya marah malah pake tanya. Memang Radit tidak peka.


" Nggak, biasa aja. Siapa juga yang marah. Dan lagi, emang buat apa coba aku marah. "


" Kamu marah Maureen. "


" Nggak Mas. "


" Iya kamu marah. "


" Aku nggak marah, cuma bete aja. " Jawab Sya dengan wajah cemberut


" Ya itu namanya marah sayang. " Ujar Radit tersenyum.


" Pokoknya aku nggak marah, aku cuma bete Mas. " Kekeh Sya.


Tidak lama kemudian, pesanan mereka datang. Sya yang melihatnya seketika wajahnya berubah menjadi berseri-seri. Tentu saja Radit bersyukur akan hal itu.


" Selamat menikmati Pak, Mbak. " Ujar pelayan itu dengan ramah.


" Terimakasih Mbak. " Tentu saja jawaban itu keluar dari bibir Sya. Sedangkan Radit hanya tersenyum melihat kearah Sya yang matanya sedang berbinar saat ini.


" Kamu suka banget sama seafood? " Tanya Radit kepada Sya.


" Heemmm. " Jawab Sya hanya berdehem.


" Lebih suka seafood atau sushi? " Tanya Radit lagi.


" Kalo aku bisa makan dua-duanya kenapa juga aku harus milih? " Tanya balik Sya kepada Radit. Radit tentu saja kelabakan dengan pertanyaan Sya.


" Iya ya.. Ya udah. Lanjut makan lagi aja ya, aku nggak akan tanya-tanya lagi kok. " Ujar Radit tersenyum. Lagian ulahnya sendiri juga membuat mood Sya berantakan. Sudah tau wanita memang susah dimengerti, masih saja Radit mencari perkara.


" Kamu lagi pms ya? " Tanya Radit kepada Sya. Janji untuk tidak bertanya lagi sepertinya terlupakan begitu saja.


" Iya, hari kedua. Emang kenapa Mas? " Tanya Sya balik.


" Nggak, nggak papa kok, cuma tanya aja. " Jawab Radit tanpa meninggalkan senyumnya.


" Aku nyebelin ya Mas, maaf ya. Dari tadi perut aku agak sakit. Jadi moodnya berantakan. " Jawab Sya. Pasalnya Sya sadar jika sedang datang bulan kadang moodnya berantakan dan akan sangat menyebalkan efeknya kepada orang lain.


" Perut kamu sakit sayang? Kok nggak bilang dari tadi sama aku? Apa perlu kita ke dokter? Atau beli obat ke apotek? " Tanya Radit beruntun. Pasalnya dia tidak tau jika saat perempuan datang bulan perutnya akan sakit. Yang dia tau hanya perubahan mood saja.


" Nggak papa Mas, udah biasa juga setiap bulan begini. Dan itu normal kok." Jawab Sya dengan tetap memakan seafood di hadapannya.


" Kamu nggak minum obat atau apa gitu? " Tanya Radit penasaran. Pasalnya dia ingin tau apa yang harus dia lakukan jika nantinya Sya datang bulan lagi.


" Nggak, kalo minum obat nanti malah bikin keterusan. Dan kalo pas dateng bulan sakitnya akan lebih dari ini kalo nggak minum obat. Jadi ya aku paling minum jamu kunir asem yang dijual keliling itu lho, kalo nggak ada ya beli Kiranti yang biasanya dijual di Supermarket. "


" Oo gitu. Tapi sekarang kamu beneran nggak papa kan? "


" Nggak papa Mas. Santai aja. "


Radit mana bisa santai kalo tau orang yang disayang sedang kesakitan.


" Mas Radit makan dong, jangan liatin aku begitu. Aku nggak papa kok, beneran. Nanti kepiting sama udangnya aku habisin lho. Mas makan nasi doang deh akhirnya." Ujar Sya mengeluarkan candaannya. Pasalnya Sya melihat sejak tadi Radit menatapnya dengan wajah yang terlihat khawatir sampai melupakan makanannya.


" Kalo kamu sanggup ngabisin ya nggak papa kok. Kan aku bisa pesen lagi. " Jawab Radit tersenyum.


" Iya deh yang duitnya banyak, apa sih yang nggak bisa dibeli sama Mas. "


" Hahaha... Kamu ini. Udah ah habisin dulu makanannya. " Ujar Radit tertawa kecil.


Saat Radit dan Sya sedang menikmati makan siang, tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Sya.


" Haaii Sya. Lama ya kita nggak ketemu. " Sapa orang itu kepada Sya. Radit terdiam di tempatnya, dia memang tidak pernah bertemu dengan laki-laki itu. Tapi Radit paham dengan wajahnya, dan tidak mungkin dia melupakannya karena dialah penyebab Radit uring-uringan beberapa bulan yang lalu.


" Oo haii... " Jawab Sya canggung, pasalnya Sya lupa dengan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.


" Kamu pasti lupa ya sama aku. Aku Jero. kita pernah ketemu ditempat arisan Mamaku dan Tante Riana. "