
Seperti yang sudah di duga, tengah malam baby Rendra terbangun dan menangis. Tentu saja ini membuat Sya terbangun dari tidurnya. Segera di raihnya baby Rendra yang ada di dalam box tidur di samping Sya. Untung saja ini tidak membuat Kendra terbangun. Karena seperti yang sudah Kendra katakan semalam, bocah tampan itu ingin tidur bersama Sya dan baby Rendra.
Sya beranjak dari ranjang untuk menyusui baby Rendra di kursi agar tidak menganggu tidur Radit dan Kendra.
"Adek bangun yank? " Terdengar suara serak Radit yang sepertinya terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara tangisan baby Rendra.
"Iya Mas, udah haus kayaknya. Mas tidur lagi aja. " Jawab Sya dengan lembut. Tidak tega rasanya membuat Radit terbangun di tengah malam seperti ini.
Bukannya tidur lagi, Radit justru bangun dari ranjang dan berjalan ke arah Sya yang memang sedang duduk di kursi khusus untuk menyusui.
"Mana mungkin aku tidur lagi disaat istri aku sedang membutuhkan aku. " Jawab Radit.
Radit duduk di samping Sya menggunakan kursi yang lain.
"Haus banget ya dek sampai nyedotnya kenceng gitu? " Tanya Radit seraya mengelus pipi merah milik baby Rendra. "Pelan-pelan dek, tenang aja Ayah enggak bakal minta kok. " Tambah Radit
"Mas harusnya enggak usah bangun, tidur lagi aja, aku enggak papa kok. " Ujar Sya kepada Radit.
"Enggak papa, Mas kan masih libur ke kantor buat sebulan kedepan, itung-itung buat bantu-bantu kamu ngurusin anak-anak. " Jawab Radit seraya menatap lembut ke arah Sya. "Lagian kan kita buat adeknya bareng-bareng, masa kamu mau sendirian ngurusnya, ya kita urus bareng-bareng dong. " Tambah Radit seraya mengerlingkan matanya untuk menggoda Sya.
Benar saja, mendengar ucapan Radit pipi Sya langsung memerah karena malu. Memang Radit ini setiap berbicara mengenai hal seperti itu selalu frontal tanpa saringan kalau sama Sya.
"Iihh, Mas.... " Ujar Sya merajuk.
"Apa sih sayang, kan yang Mas omongin bener. " Jawab Radit tanpa rasa bersalah.
Tidak tau kenapa, tapi Radit merasa kalau rasa cintanya kepada Sya semakin hari semakin besar. Radit selalu ingin ada di dekat Sya. Radit ingin melakukan hal terbaik untuk Sya, dan seperti sekarang ini, Radit selalu mengusahakan untuk menjadi suami dan Ayah yang siaga untuk istri dan anaknya.
"Kamu bahagia enggak yank hidup sama aku? " Tiba-tiba saja Radit menanyakan sesuatu hal yang terdengar serius di telinga Sya.
"Bahagia dong Mas, apalagi ada Abang Kendra dan adek Rendra. Kebahagiaan aku rasanya sudah tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Aku hanya bisa selalu untuk terus bersyukur kepada Allah SWT. Kebahagiaan yang aku inginkan ternyata di berikan sangat lebih oleh-Nya " Jawab Sya seraya tersenyum lembut.
"Aku juga berharap kalau kamu terus bahagia hidup bersama aku. Akan aku usahakan apapun demi kebahagiaan kamu. Jika ada masa dimana kamu merasa sedih dan tidak bahagia, tolong segera beritahu aku. Agar aku bisa cepat-cepat membuat kamu bahagia lagi. " Ujar Radit seraya menatap dalam kearah Sya.
Sya tersenyum mendengar kalimat yang Radit ucapkan untuknya.
"Mas tidak boleh terlalu fokus hanya dengan kebahagiaan aku. Mas juga harus memperhatikan kebahagiaan Mas. Kalau Mas sendiri enggak bahagia, gimana nanti caranya Mas bikin aku bahagia kan? " Ujar Sya kepada Radit.
"Jangan pikirkan itu, adanya kamu, Kendra dan adek di hidup aku sudah sangat cukup membuat aku bahagia sayang. " Jawab Radit seraya mengecup puncak kepala Sya.
"Tidak, yang harus kita lakukan adalah membahagiakan satu sama lain. Aku tidak mau kalau hanya 1 pihak yang bahagia. Kalau aku bahagia, Mas juga harus bahagia. " Ujar Sya seraya menatap lembut kearah Radit.
Dan ya, mereka akan terus saling membahagiakan satu sama lain.
Setelah baby Rendra tertidur, Sya membawanya ke box tidurnya. Setelahnya dia kembali duduk mendekati Radit yang duduk di sofa menatapnya.
"Kamu capek sayang? Mau aku pijet bahunya? Sejak adek lahir kamu selalu gendong dia. Pasti pegel kan bahu kamu. " Ujar Radit seraya menarik Sya yang berdiri di depannya untuk duduk di sampingnya.
"Boleh, kalau Mas tidak keberatan aku mau di pijet. " Jawab Sya dengan lembut.
"Kamu butuh baby sitter nggak yank? " Tanya Radit seraya memijat bahu Sya.
Sya terdiam sejenak untuk memikirkannya.
"Kalau sekarang kayaknya belum butuh deh Mas, tapi enggak tau kalau nanti. Lagian di rumah kan ada Mbok Inah sama Mbak Tinah juga yang pastinya bakal bantuin aku. " Jawab Sya pada akhirnya.
"Gitu ya, ya udah kalau memang kamu belum butuh. Tapi kalau nantinya kamu membutuhkannya baby sitter, kamu harus langsung bilang sama aku. Aku enggak mau kalau kamu kecapean nantinya. " Ujar Radit seraya mengecup bahu Sya
Hening, tidak ada percakapan di antara keduanya.
"Mas... " Tanya Sya kepada Radit.
"Hemm... Kenapa? " Radit menjawab sambil tetap tangannya memijat bahu Sya.
"Setelah aku selesai nifas, aku harus KB atau enggak?" Tanya Sya kepada Radit.
Sya ingat kalau Radit menginginkan banyak anak darinya. Untuk itulah Sya menanyakan akan hal ini. Sya tidak mau mengambil keputusan yang nantinya malah tidak di sukai oleh Radit. Meskipun pada kenyataannya Sya sendiri belum siap kalau memang harus hamil kembali dalam waktu dekat. Sya pikir akan lebih baik kalau dia hamil jika usia baby Rendra sudah lebih dari 6 bulan, karena pada saat usia itu baby Rendra sudah ada MPASI dan tidak terlalu bergantung dengan ASI nya.
Mendengar pertanyaan Sya, kini justru gantian Radit yang terdiam membeku di tempatnya.
Dia mencoba untuk menenangkan diri menghilangkan memori mengenai Sya saat pendarahan kemarin.
"Apa kamu masih menginginkan anak lagi? " Tanya Radit kepada Sya.
Mendengar itu Sya langsung terkejut, kenapa Radit justru berbicara seperti itu dan mengisyaratkan seolah dia tidak ingin memiliki anak lagi?
"Aku ingin punya setidaknya 1 atau 2 anak lagi. " Jawab Sya. "Apa Mas keberatan? Bukankah dulu Mas sendiri yang bilang kalau Mas ingin punya banyak anak dari aku? " Tambah Sya seraya berbalik menatap ke arah Rasa.
"Tadinya aku berpikir untuk memiliki banyak anak. Tapi setelah kejadian kemarin saat kamu pendarahan, aku berpikir untuk tidak memiliki anak lagi, aku pikir dengan adanya Kendra dan Rendra sudah cukup. Aku tidak ingin mengorbankan kamu hanya karena keinginanku untuk memiliki banyak anak. Maaf, aku tidak akan melakukan itu jika kamu yang harus di korbankan. Aku tidak mau terjadi sesuatu lagi kepada kamu. " Jawab Radit dengan suara lirih.
Mendengar itu Sya terdiam. Apa karena kecerobohannya kemarin tidak hanya Kendra yang memiliki trauma? Tapi juga Radit suaminya?