Baby... I Love You

Baby... I Love You
Romantisme Bianglala



" Ayah, mau ke pasal malam. " Ucap Kendra begitu mereka melewati sebuah pasar malam yang cukup ramai.


" Baiklah. " Jawab Radit seraya mengarahkan mobilnya kearah pasar malam itu. Lagi-lagi tidak menanyakan pendapat Sya apakah dia mau atau tidak. Sepertinya kehadiran Sya memang tidak nampak saat ini.


Di pasar malam Kendra langsung meminta untuk naik salah satu wahana permainan anak.


" Ayah, Kendla mau naik itu. " Kata Kendra seraya menunjuk sebuah wahana permainan yang ternyata komedi putar.


" Oke, Ayah beli tiketnya dulu. " Radit langsung ketempat petugas penjual tiket untuk membelinya.


" Dunda mau naik apa? Nanti Kendla temenin. " Kata Kendra seraya mendongakkan kepalanya kearah Sya.


" Enggak, Bunda mau liat Kendra aja. " Jawab Sya seraya tersenyum manis. Dalam hati dia bersyukur, setidaknya masih ada Kendra yang mempedulikannya.


" Memangnya Dunda tidak pengen? " Tanya Kendra memastikan sekali lagi.


" Enggak sayang. Bunda mau liat-liat aja. " Jawab Sya.


Tidak lama kemudian Radit datang membawa selembar kertas tiket, Karena ini memang komedi putar khusus anak-anak. Maka Radit hanya membeli satu, tidak mungkin kan dia dan Sya naik wahana itu.


Radit dan Sya memperhatikan Kendra dari samping wahana. Terlihat Kendra yang begitu bahagia menaiki komedi putar. Ini adalah kali kedua Kendra berkunjung ke pasar malam. Sebelumnya Radit dan Kendra ke pasar malam saat Rida, adik Radit datang ke Jakarta.


Dengan mereka yang saat ini hanya berdua saja, menjadikan Sya untuk memanfatkan keadaan untuk bertanya kepada Radit. Biar bagaimana pun Sya merasa tidak nyaman karena di diamkan oleh Radit.


" Mas... " Panggil Sya kepada Radit.


" Hmmm. " Jawab Radit singkat.


" Mas marah sama aku? Kali ini aku salah apalagi. Aku kan udah bilang, kalau emang aku ada salah langsung bilang aja. Jadi aku tau kesalahan aku dan bisa memperbaikinya. Atau Mas Radit marah karena aku nggak angkat telfon sama pesan kamu? Tadi aku ketiduran Mas, kan aku udah bilang tadi." Sya berbicara dengan nada sedihnya.


Radit kaget mendengar perkataan Sya, apa benar dari tadi dia mendiamkan Sya? Sedari tadi Radit memang sedang banyak pikiran. Jadi tidak sadar jika mood buruknya terbawa hingga kesini. Justru karena permintaan Kendra bertemu Sya lah Radit jadi punya harapan untuk memperbaiki moodnya. Dan lagi, kenapa juga Radit harus marah hanya karena Sya tidak menjawab telfon dan pesannya? itu marah yang sangat tidak beralasan bukan.


" Aku nggak marah sama kamu Maureen. " Jawab Radit menatap Sya hangat.


" Kok dari tadi Mas cuekin aku? " Tanya Sya tidak percaya. Meskipun tatapan hangat Radit sudah dia lihat dikedua bola matanya, tetap saja Sya masih merasa ragu.


" Beneran sayang. Kamu merasa aku cuekin ya? Maaf ya, aku lagi ada banyak pikiran jadinya nggak fokus. Aku nggak ada niat sedikitpun buat cuekin kamu, beneran deh. " Radit mengusap rambut Sya dengan halus. Ada sedikit perasaan bersalah karena tanpa sadar dia melampiaskan emosinya saat ini kepada Sya walaupun sudah Radit coba untuk menahannya. Ternyata benar yang Papa Riyan katakan, sebanyak apapun pekerjaan jangan pernah dibawa ke rumah karena tanpa sadar akan mempengaruhi suasana hati kita. Dan saat ini Radit membuktikannya sendiri. Mungkin kalau dulu Kendra tidak bisa protes, namun saat usia semakin beranjak besar Kendra sering kali mengeluhkan Radit yang jarang menemaninya bermain, dan sekarang Sya juga menjadi korbannya karena Radit yang sedang pusing dengan pekerjaannya.


" Beneran? " Tanya Sya memastikan.


" Iya beneran sayangnya Radit. " Jawab Radit dengan lembut.


" Iihh mas apaan sih, gombal terus kayak ABG lagi pacaran. " Ujar Sya memanyunkan bibirnya.


" Kan kamu masih ABG, jadi aku menyesuaikan dong. Kalo pacaran kayak orang dewasa aku yakin kamu nggak akan mau. " Jawab Radit seraya mengedipkan matanya dengan genit. " Jangan manyun gitu dong sayang, aku jadi pengen cium tapi belum halal. " Radit kembali mengeluarkan gombalannya.


Sya yang mendengarkan ucapan Radit secara refleks langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Hal ini tentu saja membuat Radit langsung tertawa geli.


" Kamu kok lucu banget sih sayang. Pengen aku karungin terus bawa pulang buat nemenin aku tidur dimalam-malam yang sepi. " Benar-benar gombalan receh bukan? Namun tetap saja bisa membuat Sya tersipu malu.


" Mas ihh... " Sya mencubit kecil pinggang Radit.


" Kamu pake cardigan tipis begini nggak dingin sayang? Dan ini, rambutnya digerai aja ya. " Radit melepaskan ikat rambut milik Sya.


" Nggak Mas, lagian Jakarta mana pernah dingin sih. " Sya merapikan rambutnya dan dibantu oleh Radit yang menyisir rambut Sya dengan jari-jarinya.


" Mas, itu udah berhenti. " Sya menunjuk kearah komedi putar. Sedangkan Radit langsung sigap menghampiri Kendra.


" Udah? Mau main apalagi? " Tanya Radit kepada Kendra.


" Udah Ayah, sekalang Kendla lapel. Kan malem kendla belum maem. " Jawab Kendra dengan wajah lucunya.


" Ya udah, kita ketempat Bunda dulu, abis itu kita cari maem. " Radit meraih Kendra kedalam gendongannya dan berjalan menghampiri Sya.


Sya langsung memberikan air mineral yang tadi dia beli kepada Kendra, biar bagaimanapun Kendra pasti haus.


" Minum dulu sayang. " Ujar Sya kepada Kendra.


" Telimakasih Dunda. " Ternyata dugaan Sya benar, Kendra memang harus.


" Kok aku nggak pernah kamu panggil sayang. " Radit berbisik ke telinga Sya.


" Husshh.. Mas. " Ujar Sya memperingatkan.


" Kita mau makan apa? " Tanya Radit kepada Sya.


" Tadi katanya Kendra pengen sate. Kita cari aja sate disini. " Jawab Sya. Tadi seingatnya sebelum melihat pasar malam Kendra minta makan sate.


" Oke, kita cari sate. "


Setelah melewati beberapa penjual, akhirnya mereka menemukan pedagang sate yang masih memiliki kursi kosong. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan disana.


Memang dasarnya anak kecil, setelah makan pun Kendra meminta membeli beberapa makanan lagi. Namun kali ini berhasil ditolak oleh Radit. Mau bagaimana lagi, Kendra meminta untuk dibelikan cotton candy, dan ukurannya sangat besar. Tentu saja Radit tidak memberikan ijin. Sebagai gantinya Radit membelikan alat-alat lukis. Tidak mahal memang, sesuai dengan harga untuk di tempat seperti ini.


Saat tengah berjalan-jalan. Tanpa sadar Radit melihat baju yang tergantung disebuah manekin. Bukan tertarik karena bajunya yang lucu. Tapi Radit tertarik dengan tulisan yang ada di bagian dada kiri baju itu, Ayah, Bunda, dan Son.


" Sayang, beli itu yuk. " Ujar Radit menunjuk baju berwarna hitam yang terdapat tulisan itu.


" Iihh, buat apaan sih Mas. " Sya merasa aneh harus memakai baju couple seperti itu.


" Ya dipake dong sayang. Ya ya. " Radit masih berusaha membujuk Sya.


" Tanya aja sama Kendra. Dia mau nggak. " Ujar Sya kepada Radit.


" Kendra, mau baju itu nggak? " Tanya Radit kepada Kendra. Dan betapapa senangnya Radit saat Kendra mengangguk tanda setuju.


" Kendra mau, berarti kamu juga setuju. " Pada akhirnya Sya mengalah untuk membeli baju itu.


Setelah baju couple itu terbeli, wajah Radit langsung cerah berbunga-bunga. Senyum tidak pernah luntur diwajahnya malam ini.


" Mas naik bianglala yuk. " Ajak Sya kepada Radit.


" Boleh, Kendra mau kan? " Tanya Radit kepada Kendra yang lagi-lagi hanya dibalas anggukan. Sepertinya Kendra memang sudah mengantuk namun masih tidak rela untuk pulang meninggalkan tempat ini.


Dan benar saja, belum sampai 5 menit bianglala berputar, Kendra sudah tertidur dipangkuan Sya.


Radit dan Sya melihat indahnya pemandangan Jakarta malam hari dari bianglala itu. Tanpa sadar terciptalah suasana romantis disekitar mereka. Hingga saat bianglala ada di puncaknya, Radit mendekatkan dirinya dan berbisik ditelinga Sya.


" Baby... I Love You. "