
Sekarang sudah pukul 8 malam, sejak tadi Radit hanya terdiam di atas tempat tidurnya. Radit saat ini benar-benar merasa marah kepada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia mengabaikan Sya dan anak-anaknya hanya demi pekerjaan.
"Sekarang aku harus bagaimana?".Radit berbicara dengan dirinya sendiri. " Ya minta maaf, aku harus meminta maaf kepada Maureen dan anak-anak." Radit benar-benar terlihat seperti orang yang sedang sangat menyesal sekaligus bingung.
Mirisnya, laki-laki yang biasanya rapi itu terlihat sangat berantakan. Wajah pucat dengan pakaian yang sudah kusut, tidak lupa rambutnya pun sangat berantakan karena sedari tadi Radit akan mengacak-acak rambutnya jika yang yang dia pikirkan hanya menemukan jalan buntu.
"Tapi dimana mereka, aku bahkan tidak tau keberadaannya." Ucap Radit lirih.
Rasa beranjak dari ranjang, dia menatap siluet dirinya di sebuah kaca yang ada di lemari.
"Lihatlah laki-laki bodoh ini. Hanya karena pekerjaan yang tidak begitu berarti dia sampai mengabaikan anak-anak dan istrinya. Dan sekarang karena kebodohan sendiri kamu di tinggalkan istri dan anak-anakmu." Radit menatap tajam kepada sosok dirinya yang ada di kaca.
Tanpa aba-aba...
Pranngggggg.....
Radit mengambil lampu tidur yang ada disamping nakas kemudian dia lemparkan kearah lemari kaca yang menampilkan sosok dirinya disana.
Setelah melakukan itu seketika Radit luruh di lantai. Dan untuk setelah sekian lama pada akhirnya dia menangis menyesali kebodohannya.
"Sayang... Kalian dimana. Apa kalian benar-benar akan meninggalkan Ayah seorang diri disini?" Ujar Radit lirih.
Diluar, Bi Siti yang mendengar kegaduhan dari kamar Radit seketika menjadi panik. Pasalnya saat datang tadi Radit juga tidak bisa dikatakan dalam kondisi baik-baik saja.
Saat Bi Siti berniat untuk mengetuk pintu kamar Radit, lagi-lagi terdengar sebuah suara benda yang di banting. Mendengar hal itu tentu saja seketika keberanian Bi Siti langsung menciut.
Buru-buru Bi Siti keluar rumah untuk mencari Seto, penjaga yang sedang bertugas malam ini.
"Setooo, too.. " Bi Siti berteriak seperti orang yang di kejar-kejar setan.
Seto yang mendengar suara teriakan Bi Siti tentu saja langsung keluar dari Posnya.
"Kenapa Bi? Ada maling?" Tanya Seto kepada Bisa Siti.
Bi Siti menggelengkan kepalanya, nafasnya tersenggal-senggal setelah berlari menuruni tangga.
"Buk... Bukaann.. Ituu... " Bi Siti masih berusaha untuk mengatur nafasnya agar kembali normal.
"Kenapa Bi? Pelan-pelan aja ngomongnya." Ujar Seto mengingatkan.
"Mas Radit ngamuk di kamarnya." Pada akhirnya Bi Siti bisa menyelesaikan kalimatnya.
Seto sejenak terdiam.
"Mas Radit ngamuk? Kok bisa? Hampir 5 tahun aku kerja disini nggak pernah tuh liat Mas Radit marah yang sampai ngamuk." Ujar Seto tidak percaya.
"Beneran, kali ini Mas Radit beneran ngamuk. Dia bahkan sampai banting-banting barang di kamarnya. " Ujar Bi Siti memberitahu.
"Kenapa Mas Radit bisa sampai ngamuk seperti itu?" Tanya Seto kepada Bi Siti. Pasalnya Seto benar-benar tidak percaya kalau Radit mengamuk. Radit salah satu manusia yang sangat tenang, dia tidak mudah terpancing emosi. Lalu sekarang apa? Kalau dia bisa sampai mengamuk itu berarti permasalahannya sangatlah besar.
"Nggak tau, tapi tadi dateng-dateng langsung nanyain Mba Sya sama anak-anak. Padahal kan Mbak Sya nggak kesini. Apa jangan-jangan Mbak Sya dan anak-anak pergi dari rumah?" Ujar Bi Siti memberikan teorinya yang sebenarnya memang benar.
Mendengar itu Seto langsung memahami. Karena dia memang tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Sya dan anak-anak.
"Jadi Mbak Sya pergi ikut Ibu Riana dan Pak Riyan ke Bali belum izin sama Mas Radit?" Ucap Seto dalam hati. "Kalau Mbak Sya pergi dari rumah tanpa izin Mas Radit, itu berat permasalahan mereka memang besar."
"Kita tidak bisa melakukan apa-apa sekarang Bi, lebih baik kita hubungi Ibu Riana saja." Ujar Seto berpendapat.
Bi Siti menganggukan kepalanya tanda setuju.
Sya, Kendra, Baby Rendra, Mama Riana dan Papa Riyan saat ini sedang makan malam di sebuah restoran yang menghadap langsung ke arah Pantai.
Sejak kembali ke villa tadi Kendra terus merengek untuk kembali lagi ke Pantai, jadi ya disinilah mereka sekarang.
"Abang makan sendiri aja Bunda, Abang kan udah gede." Ujar Kendra saat Sya berniat untuk menyuapinya.
Sya tersenyum hangat menatap Kendra, dengan melihat Kendra membuatnya terus teringat dengan Radit. Sya ingin pulang dan menemui Radit saat ini, tapii....
"Ya udah kalau gitu." Jawab Sya dengan lembut.
Saat putranya berniat untuk mandiri, maka Sya tidak akan menghalanginya. Biarlah mereka berproses sebagaimana mestinya.
Sya menatap kearah babu Rendra yang saat ini sudah tertidur pulas di strollernya setelah sore tadi terus menerus rewel. Baby Rendra baru berhenti menangis saat Kendra datang dan mengelus pipi tembamnya itu.
Disaat mereka sedang makan, tiba-tiba ponsel Mama Riana berbunyi.
"Dari rumah." Jawab Mama Riana.
"Halo.. Kenapa Bi?" Tanya Mama Riana.
"..... " Mama Riana terlihat terdiam mendengar ucapan Bi Siti dari sebrang telepon. Ada ekpresi khawatir di wajahnya saat ini.
"Baik." Jawab Mama Riana singkat, dia menatap kearah Papa Riyan dan Sya yang saat ini juga sedang menatap kearahnya.
"..... "
"Biarkan saja, biar saya yang urus." Ujar Mama Riana.
"..... "
"Ya." Setelah itu Mama Riana mematikan sambungan teleponnya.
"Kenapa?" Papa Riyan langsung bertanya kepada istrinya itu.
Mama Riana mendekatkan dirinya dan berbisik di telinga sang suami.
Papa Riyan mengangguk paham, kemudian...
"Abang, ikut Opa ke sana yuk. Kita beli jagung bakar sama main pasir di pinggir pantai." Ujar Papa Riyan kepada Kendra.
Dan Kendra yang kebetulan sudah menyelesaikan makannya langsung mengangguk antusias.
"Boleh Bunda?" Terlebih dahulu Kendra meminta ijin kepada Sya.
Sya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya boleh Bang." Jawab Sya.
Setelah Kendra dan Papa Riyan pergi.
"Ada apa Ma?" Sya bertanya terlebih dahulu. Papa Riyan mengajak Kendra pergi itu bukanlah suatu kebetulan. Sya tau ada yang akan Mama Riana katakan secara pribadi kepadanya dan itu tidak boleh diketahui oleh Kendra.
"Mama akan beritahu, tapi Mama minta kamu tetap tenang." Ujar Mama Riana kepada Sya.
Sya yang mendengar ucapan Mama Riana tentu saja bingung, tapi meski begitu dia menganggukkan kepalanya.
"Iya Ma." Jawab Sya.
"Sore tadi Radit datang ke rumah Mama mencari kamu." Ujar Mama Riana.
"Lalu?" Sya sebenarnya sedikit terkejut karena di jam sesore itu Radit sudah pulang.
"Saat ini Radit sedang mengamuk di kamarnya dan kata Bi Siti dia sedang membanting semua barang-barangnya."