
Sya baru saja menunaikan sholat shubuh. Dan karena wajahnya sudah lebih segar karena air wudhu, maka kantuknya sudah hilang. Berhubung tidak ada kegiatan yang harus dia kerjakan lagi karena Sya nanti berniat untuk sarapan sereal dan sepertinya masih ada waktu untuk menonton drama Korea sampai nanti waktunya dia bersiap untuk berangkat kerja.
" Lumayan kan dapet sejam buat nonton. " Ujar Sya dengan semangat.
Sya ingat jika di kulkasnya dia memliki pudding cokelat dari Mama Riana.
" Shubuh-shubuh begini makan puding nggak papa kan ya. " Sya bergumam sendiri.
Pada akhirnya sendiri Sya memutuskan untuk mengambil pudingnya. Memang siapa yang melarang makan puding di pagi buta seperti ini. Tidak ada kan?
Sya asik menonton drama dan makan puding.
Tok... tok... tok...
Suara pintu kamar Sya di ketuk oleh seseorang. Ini siapa yang shubuh-shubuh mengetuk pintu kamarnya?
" Permisi mbak, Mbak Sya sudah bangun? " Terdengar suara Pak Didin dari depan pintu kamarnya.
Pak Didin? Kok tumben jam segini udah bangun? Sya melihat ke arah jam yang terpasang di dinding kamarnya.
Tok... tok... tok...
" Mbak Sya??? "
Terdengar lagi suara Pak Didin yang memanggil namanya.
" Iya Pak sebentar, Sya udah bangun kok. " Sya langsung mengganti hotpantsnya dengan celana training panjang berwarna hitam.
Sya membuka pintu kamarnya dan betapa terkejutnya dia saat ini, ternyata di sana tidak hanya ada Pak Didin.
" Loh, Mas Radit? Kok kamu ada disini? Ada apa? " Tanya Sya dengan bingung. Semalam Radit tidak bilang jika dia akan ke kosannya. Dan kalau pun kesini tidak biasanya dia datang sepagi ini. Hey... ini masih pukul 5 lebih sedikit.
Pak Didin langsung berlalu meninggalkan dua sejoli ini begitu Sya membuka pintu dan segera kembali ke posnya.
" Maureen dengerin aku. Sekarang kita harus ke Jogja, penting. Tapi untuk sekarang aku tidak bisa menjelaskan apa-apa. Jadi aku mohon kerja samanya. Aku udah pesen tiket pesawat ke Jogja dan penerbangannya jam setengah 7. Bisa kamu bersiap sekarang? " Radit mengucapkan kalimatnya suara yang terdengar sangat serius.
Sya jadi bingung, sebenarnya ada apa? Apa terjadi sesuatu? Dan kenapa tiba-tiba mereka harus ke Jogja hari ini juga dan bahkan sepagi ini? Apa ada sesuatu yang tidak Sya ketahui?
" Mas, kamu ngomongnya pelan-pelan dong. Maksud kamu apa? Kita ke Jogja? Ngapain? Kan aku harus kerja, aku nggak adst ambil cuti loh Mas. " Ujar Sya kepada Radit.
Karena seingat Sya, bulan ini dia tidak mengambil cuti untuk ke Jogja karena memang tidak ada acara penting yang harus dia hadiri ataupun ada hal urgent yang membuatnya harus cuti mendadak seperti ini.
" Sayang. Kamu jangan tanya apa-apa dulu ya. Aku minta sekarang kamu siap-siap aja. Tidak usah membawa apa pun. Cukup ganti baju. Atau kalo tidak kamu ambil cardigan dan kita bisa berangkat sekarang juga. " Ujar Radit kepada Sya.
" Mas, sebenarnya ada apa? Apa terjadi sesuatu sama Ayah dan Mama? " Tanya Sya dengan panik. Di pikirannya saat ini adalah Ayah dan Mamanya. Jika Radit terlihat begitu terburu-buru seperti ini pasti ada hal penting atau bahkan urgent yang terjadi. " Aku telefon Mama dulu Mas. " Sya teringat jika dia tidak boleh panik seperti ini dengan sesuatu yang belum jelas. Dia harus memastikan sendiri jika orang tuanya baik-baik saja.
" Sayang percaya sama aku. Kamu tidak perlu panik seperti ini. Mama dan Ayah baik-baik saja. Namun aku tidak bisa memberitahu kamu sekarang. Sekarang aku mohon kamu segera bersiap-siap, kita harus berangkat ke Jogja sekarang juga. Karena Mama, Papa dan Kendra sudah ada di sana. " Ujar Radit kepada Sya. Wajah Radit terlihat tenang, namun suara yang dia keluarkan terasa begitu dalam. Seperti sedang terjadi sesuatu.
Sya yang mendengar ucapan Radit menjadi semakin bingung. Kenapa bisa Mama Riana, Papa Riyan dan juga Kendra sudah menunggu di Jogja? Sejak kapan bocah tampan itu ada di sana, dan juga untuk apa coba? Sya tidak bisa menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi. Di pikirannya saat ini hanya ada Ayah dan Mamanya.
" Sayang, ayo cepat siap-siap, aku tunggu di pos ya. " Ujar Radit seraya mengelus puncak kepala Sya, kemudian langsung berbalik meninggalkan kamar gadis itu meninggalkan Sya yang masih terdiam di depan pintu kamarnya.
Sya yang melihat kepergian Radit langsung tersadar. Sekarang tidak ada waktu untuk berpikir. Yang harus Sya lakukan adalah bersiap untuk bisa segera berangkat ke Jogja. Dengan begitu dia akan tau sebenarnya ada apa. Toh Radit juga sudah mengatakan jika Ayah dan Mamanya baik-baik saja.
Sya segera mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih layak, tidak mandi karena yang Sya pikirkan hanya secepatnya untuk bisa sampai ke Jogja. Gadis itu hanya menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya. Dan barang yang dia bawa juga hanya ponsel, laptop, dan dompet saja.
Setelah selesai dengan semuanya, Sya segera keluar dari kamarnya dan tidak lupa juga menguncinya.
" Mas Radit... " Panggil Sya kepada Radit.
Radit mendongakkan kepalanya.
" Sudah siap? " Tanya Radit kepada Sya.
Sya hanya menganggukkan kepalanya.
" Ya udah, kita berangkat sekarang. " Ujar Radit beranjak dari duduknya, kemudian menggandeng tangan Sya.
" Saya duluan ya Pak Didin. " Pamit Radit kepada penjaga kosan Sya itu.
" Iya Mas, Hati-hati dijalan. Semangat ya. " Ujar Pak Didin seraya tersenyum.
Sya yang masih bingung dengan semua ini hanya terdiam mengikuti langkah Radit.
Dibukanya pintu penumpang dan terlebih dahulu Radit menyuruh Sya untuk masuk terlebih dahulu baru kemudian Radit mengikutinya.
Ternyata ada Pak Agus di mobil. Bagitu Sya dan Radit masuk ke mobil langsung saja Pak Agus menyalakan mobilnya.
" Mas, sebenarnya ada apa? Jangan buat aku bingung kayak gini. Aku takut Mas. " Ujar Sya dengan lirih.
" Tenang aja ya, tidak terjadi apa-apa. Hanya saja kita memang harus ke Jogja sekarang. " Jawab Radit seraya tersenyum manis.
Jawaban yang Radit berikan ini tidak membantu Sya sedikitpun mengurangi rasa bingung dan takutnya.
Sepanjang perjalanan hanya terjadi keheningan. Sesekali Sya melirik ke arah Radit yang sekarang justru sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya Sya ingin bertanya lagi, namun dia mengurungkannya mengingat jawaban terakhir Radit sama sekali tidak membantunya.
Hingga tidak terasa mereka sudah sampai ke Bandara.
Di dalam pesawat pun Radit tidak mengatakan apa-apa. Laki-laki itu hanya tersenyum kecil seolah mencoba untuk sedikit menenangkan Sya.
Penerbangan ke Jogja yang biasanya terasa sebentar kali ini menjadi terasa sangat lama menurut Sya. Di pesawat pun Sya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya guna mengistirahatkan otaknya yang kali ini sedang over thinking.
" Tidak apa-apa sayang. Jangan cemas. " Ujar Radit mengelus kepala Sya.
Sya hanya bisa tersenyum simpul menjawab ucapan dari Radit.
Begitu pesawat mendarat di Bandara Adi Sucipto, Sya merasa sangat lega. Setidaknya dia sekarang sudah ada di Jogja. Ternyata yang menjemput mereka bukan Pak Iman supir pribadi Keluar Sya.
Dan betapa terkejutnya Sya saat ternyata mobil tidak membawa Sya dan Radit ke kediaman orang tuanya.
" Mas ini kita mau kemana? " Tanya Sya kepada Radit.
" Nanti kamu akan tau, sabar ya. " Jawab Radit tersenyum.
Pikiran Sya menjadi semakin kalut karena jawaban yang Radit berikan.
Tiba-tiba saja mobil berhenti di sebuah hotel bintang 5 di Jogja.
" Mas, kita ngapain kesini? " Tanya Sya kepada Radit.
Radit hanya tersenyum kecil seraya menatap Sya.