Baby... I Love You

Baby... I Love You
Aku atau kamu



" Sya tolong kasih laporan keuangan bulan ini ke Pak Sean dong, aku mau kekamar mandi dulu, udah nggak tahan ini. Tolong ya Sya, tolong banget. " Ujar Dian memegangi perutnya.


" Iya Di, sini biar aku bawa keruangan Pak Sean. " Jawab Sya seraya berdiri dari duduknya, kemudian melangkah kemeja kubikel Dian untuk mengambil berkas yang dimaksud.


" Makanya jangan kebanyakan makan sambel. " Ujar Leo dari kubikelnya, namun Dian sama sekali tidak menggubris ucapan Leo.


" Makasih ya Sya. " Ujar Dian seraya berlari kearah kamar mandi. Sya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dian itu.


Tok... tok... tok...


" Permisi Pak. " Ucap Sya seraya mengetuk pintu ruangan Pak Sean.


" Masuk. " Setelah mendengar adanya jawaban dari dalam, Sya membuka pintu ruangan Pak Sean. Betapa terkejutnya Sya saat melihat ternyata ada Radit didalam ruangan itu. Seperti bos pada umumnya, Radit duduk dengan kaki menyilang dan tangan memegang sebuah berkas yang sedang dia pelajari. Sepertinya Radit tidak menyadari jika Sya yang datang keruangan itu.


" Ada apa Sya? " Tanya Pak Sean kepada Sya.


Mendengar ada yang memanggil nama gadis yang saat ini menjadi tambatan hatinya, seketika membuat Radit mengalihkan pandangannya kearah dimana Sya berdiri.


" Ini Pak, saya mau nganterin berkas laporan keuangan untuk bulan ini Pak. " Ujar Sya memberitahukan maksud kedatangannya kesini.


" Ooo.. Bawa sini aja Sya, kamu kenapa malah bengong disana. " Ujar Pak Sean kepada Sya yang memang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu. Sya berjalan kearah Pak Sean dengan canggung. Meski tidak melihat kearah Radit, Sya dapat merasakan jika Radit sedang memperhatikannya sedari tadi. Dan ya memang benar dugaan Sya. Saat ini Radit sedang menatap Sya dengan pandangan bahagia, terlihat dari bibirnya yang melengkungkan sebuah senyuman tipis.


" Kalau begitu saya permisi buat kembali ke ruang kerja saya lagi Pak. " Ujar Sya setelah memberikan berkas keuangan itu.


" Sebentar, kamu duduk dulu disana. Saya akan mengecek langsung saja. " Ujar Pak Sean.


Mau tidak mau Sya akhirnya duduk di hadapan Radit.


" Selamat siang Pak. " Ujar Sya menganggukan kepalanya sebagai tanda hormat bawahan kepada bosnya.


" Selamat siang sayang. " Jawab Radit dengan kata sayang yang sengaja dia pelankan agar Pak Sean tidak mendengarnya.


Sya yang mendengar ucapan Radit seketika langsung melebarkan matanya. Sedangkan Sya hanya terkekeh geli melihat betapa imutnya wajah Sya saat ini.


" Ada apa Pak Radit? " Tanya Pak Sean yang mendengar tawa kecil dari Radit.


" Tidak ada apa-apa. Saya hanya sedang melihat wajah lucu Kendra saat sedang kesal. " Jawab Radit tersenyum.


" Kendra memang lucu sekali Pak. " Ujar Pak Sean menambahkan.


Sya sebal dengan Radit saat ini. Dia tau jika Radit pasti sedang menertawakannya. Dan Kendra hanya alasan untuk menutupinya.


" Ini Sya, sudah saya periksa. Dan sepertinya ada beberapa kesalahan tanggal transaksi. Coba kamu cek dan perbaiki lagi. " Ujar Pak Sean mengagetkan Sya karena sedari tadi dia sedang berperang tatapan dengan Radit yang memang ada tepat di depannya.


" Baik Pak. " Sya langsung berdiri dari duduknya.


Sya mengambil berkasnya kembali, kemudian berpamitan untuk kembali keruangannya.


" Saya permisi Pak. " Ujar Sya kepada Pak Sean yang langsung diangguki olehnya.


" Permisi Pak. " Ujar Sya kepada Radit juga.


" Silahkan. " Suara Radit memang terdengar dingin seperti biasa saat menjawabnya, namun saat melihat wajahnya, jangan kaget jika terlihat seringai jahil saat ini.


" Kamu nggak papa kan Di? " Tanya Sya kepada Dian.


" Nggak papa Sya, cuma sakit perut aja. Sekarang udah nggak kok. Eehh itu berkasnya gimana? " Tanya balik Dian kepada Sya.


" Ada tanggal transaksi yang nggak sesuai, katanya suruh dicek ulang. " Ujar Sya memberikan penjelasan.


" Oo gitu, ya udah sini aku perbaiki lagi. Makasih ya Sya udah bantuin aku. "


" Sama-sama Di, santai aja kali. Orang cuma nganter berkas ke Pak Sean. " Jawab Sya tersenyum. Kemudian dia kembali ke kubikelnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Saat sedang fokus mengerjakan tugasnya, tiba-tiba ponsel Sya berkedip tanda ada pesan masuk.


Direktur Ganteng


Kamu cantik banget hari ini. Tadi kenapa melotot begitu waktu aku panggil sayang? Tapi kamu jadi tambah lucu kayak Kendra.


Sayang, nanti kita makan siang bareng ya. Aku tunggu diparkiran kalo kamu nggak mau ketauan sama karyawan lain.


Sya geli melihat pesan dari Radit itu, rasanya sangat aneh saat melihat Radit yang biasanya sangat dingin ini mendadak sangat romantis, seperti remaja yang baru mengenal cinta. Ditambah lagi saat melihat namanya dikontak HPnya ini, sungguh Sya lupa saat akan menggantinya.


Mas tuh nyebelin. Kenapa panggil-panggil sayang didepan Pak Sean. Kalau dia denger gimana coba?


Btw nanti kayaknya aku nggak bisa deh Mas, temen-temen aku gimana?


Ujar Sya membalas pesan dari Radit.


Sya sedikit cemas menunggu pesan balasan dari Radit, pasalnya dia tau jika Radit bukanlah tipe orang yang menerima penolakan begitu saja. Harus ada alasan yang tepat untuk mengalahkannya.


" Kamu kenapa gelisah gitu Sya. " Ujar Tio yang sedang melihat kearah Sya.


" Eehh nggak papa kok Mas. " Jawab Sya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dan benar saja, tidak lama kemudian ada balasan dari Radit yang membuat Sya cemas sekaligus bingung.


Direktur Ganteng


Oke. Kalau kamu nggak mau ya nggak papa. Biar aku aja yang nyamperin kamu ke ruangan kamu. Nanti aku bilang ke temen-temen kamu kalo kita mau makan siang bareng:)


Dia harus alasan apa kepada teman-temannya? Tidak mungkin kan Sya membiarkan begitu saja Radit memberitahukan hubungan spesial antara dirinya dan Radit kepada mereka.


Tadi malam secara resmi Sya sudah menjawab pernyataan Radit karena laki-laki itu terus mendesaknya. Jadilah Sya menjawab iya. Walaupun ada rasa sedikit agak terpaksa karena memang jawaban itu keluar dari paksakan seorang Radit.


Iya iya, biar aku yang cari alasan. Nanti aku samperin kamu di parkiran. Mas nggak usah kesini.


Jawab Sya pada akhirnya. Mau bagaimana pun dia tidak akan menang jika harus melawan Radit. Karena Radit terlalu licik untuk dirinya yang polos ini.


Direktur Ganteng


Bagus, aku sayang kamu. Sampai ketemu nanti siang calon istri.


Sya hanya tersenyum membaca pesan dari Radit. Calon istri? Sya belum bisa membayangkannya saat ini. Hubungan mereka masih terlalu baru jika harus dibawa ke jenjang pernikahan. Sya masih belum mengenal betul bagaimana karakter Radit. Kalau urusan Kendra Sya akui jika mereka sudah sangat dekat. Layaknya ibu dan anak seperti gambaran Kendra selama ini.