
Pagi-pagi sekali Sya dan Radit sudah terbangun dari tidur mereka. Setelah berbuka tadi malam, tentu Sya dan Radit harus mandi besar dulu sebelum menunaikan sholat subuh.
"Dingin sayang? Maafin aku ya, tapi ya mau bagaimana lagi, aku udah nggak tahan." Ujar Radit setelah mereka selesai melaksanakan sholat subuh.
Sya sepertinya masih kedinginan karena saat Radit menggenggam tangannya terasa dingin. Padahal biasanya tidak, mungkin karena mereka baru melakukan ini setelah sekian lama, jadi tubuh Sya masih belum terbiasa.
"Nggak papa, dari pada nolak terus dapat dosa." Jawab Sya seraya tersenyum manis, namun terselip sebuah sindiran yang dia layangkan kepada suaminya itu. Karena kalimat itulah yang selalu Radit ucapkan setiap kali dia meminta haknya kepada Sya.
Namun tentu saja sindiran itu tidak mempan untuk Radit. Laki-laki itu hanya tertawa kecil mendengar ucapan Sya, diraihnya tubuh mungil istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Maaf ya sayang, soalnya aku bakal terus ngulangin lagi walaupun udah minta maaf sama kamu." Ujar Radit kepada Sya.
Tepat jam 6 pagi Kendra terbangun dari tidurnya. Bocah tampan itu seperti biasa akan langsung pergi ke kamar kedua orang tuanya.
"Bunda... " Panggil Kendra seraya berdiri di depan *connecting door* dan mengusap matanya yang masih mengantuk.
"Sini Bang... " Jawab Sya begitu melihat Kendra, dia masih disibukkan dengan baby Rendra yang sedang menyusu. Sedangkan Radit sudah tidur lagi sejak setengah jam yang lalu.
Kendra naik ke ranjang dan berbaring di tengah-tengah antara Radit dan Sya.
"Adek bangun jam belapa Bunda?" Tanya Kendra kepada Sya.
"Adek bangun jam setengah 6, tapi ini mau bobok lagi kayaknya." Ujar Sya menjawab pertanyaan Kendra.
Mungkin karena masih mengantuk, Kendra hanya menganggukkan kepalanya dan memejamkan matanya untuk melanjutkan tidurnya lagi. Sya membiarkan karena toh sekarang Kendra sedang libur sekolah.
Sya tersenyum melihat pemandangan pagi harinya ini. Pemandangan yang sangat menyenangkan untuk Sya, melihat suami dan anak-anaknya tertidur dengan pulas.
Setelah baby Rendra juga ikut tidur kembali, Sya memutuskan untuk ke dapur membuat sarapan. Karena pasti satu jam lagi Radit dan Kendra pasti akan bangun.
"Selamat pagi Mbak Tinah." Ujar Sya menyapa Mbak Tinah yang sedang mengepel lantai bawah.
"Selamat pagi juga Mbak Sya."
Sya langsung ke dapur setelah menyapa Mbak Tinah.
Dibukanya persediaan bahan makanan yang ada di lemari esnya. Sya berniat untuk memasakkan sesuatu yang spesial untuk Kendra dan Radit di hari ulang tahun mereka ini.
Karena saat ini Kendra sedang menyukai ayam kecap buatannya, maka Sya memutuskan untuk memasak itu sekarang. Dan untuk Radit, Sya memutuskan untuk menyamakan dengan makanan kesukaan Kendra saja demi menghemat waktu.
Waktu 1 jam Sya gunakan untuk memasak ayam kecap, menggoreng tempe dan menumis kacang panjang.
Dan begitu Sya menyelesaikan masakannya, tiba-tiba sepasang tangan memeluk pinggangnya.
"Mas, lepasin aku mau nuang sayurnya dulu." Ujar Sya kepada seseorang itu.
"Kok kamu tau ini aku sih sayang?" Tanya Radit tanpa melepaskan belitan tangannya.
"Ya kali 1 tahun serumah sama kamu aku enggak tau tangan kamu kayak apa, lagian siapa yang berani begini sama aku selain kamu Mas." Jawab Sya seraya meletakkan masakan yang sudah selesai di meja makan.
Iya juga, memang siapa yang berani melakukan ini kepada Sya selain Radit kan?
Kendra? Kalaupun iya, bocah tampan itu hanya bisa memeluk sebatas paha Sya saja.
"Belum, tadi masih tidur." Jawab Radit seraya mengambil air minum.
"Bunda..." Panggil Kendra yang tiba-tiba saja sudah berdiri disamping Sya.
Sya tersenyum melihat Kendra.
"Ayah bilang Abang belum bangun." Ucap Sya.
"Abang balu bangun Bunda." Jawab Kendra seraya mendudukkan dirinya di kursi. "Yeayyy, ayam kecap... " Kendra terlihat antusias melihat ada makanan kesukaannya di meja makan.
"Mau maem sekarang?" Tanya Sya kepada Kendra.
Kendra menganggukkan kepalanya.
"Ayah juga mau makan sekarang Bunda." Ujar Radit menyambung.
"Iihh, Ayah ikut-ikut Abang." Ujar Kendra kepada Radit.
"Siapa yang ikut-ikut, orang Ayah juga mau makan. Iya kan Bunda?" Radit meminta pembenaran kepada Sya.
Seperti inilah mereka berdua jika sedang dalam mode tidak akur. Entah apa saja yang mereka jadikan sebagai bahan perdebatan. Radit seperti tidak mau mengalah kepada Kendra.
Sya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja jika sudah seperti ini, nanti mereka juga akan akur dengan sendirinya kalau Radit sudah mau mengalah.
Entah bagaimana nanti kalau baby Rendra sudah besar, mungkin anggota perdebatan akan bertambah.
Selesai menghabiskan sarapannya, Sya teringat akan kue strawberry yang dia buat kemarin untuk Kendra.
"Abang, Bunda punya sesuatu buat Abang." Ujar Sya kepada Kendra.
Radit tersenyum mengetahui apa yang akan Sya berikan kepada Kendra, karena dia sendiri sudah mendapatkannya tadi malam, di tambah dengan hadiahnya juga.
"Sesuatu apa?" Tanya Kendra penasaran.
"Abang tutup mata dulu, jangan ngintip tapi."
Kendra langsung menutup matanya tanpa bertanya, sedangkan Sya langsung mengambil kue yang ada di lemari es.
"Happy Birthday Abang.... Happy Birthday Abang... " Sya menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Kendra.
Mendengar itu Kendra langsung membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju kearah kue strawberry kesukaannya.
"Selamat ulang tahun Abang, semoga panjang umur dan sehat selalu.... Jadi anak yang sholeh, pinter, dan sukses dunia akhirat." Sya memberikan doa dan harapanya kepada Kendra.
"Telima kasih Bunda... Abang sayang sama Bunda." Ucap Kendra seraya mengecup pipi Sya.
"Selamat ulang tahun ya Abang, maaf selama ini Ayah sering jail sama Abang. Soalnya Ayah gemes sama Abang." Ucap Radit yang membuat Kendra cemberut. "Eehh, lagi ulang tahun enggak boleh cemberut dong, kita ulang tahunnya samaan loh." Tambah Radit. "Doa Ayah enggak berbeda sama Bunda kok, semoga semua yang baik-baik selalu ada di dalam diri Abang."
"Telima kasih Ayah, dan selamat ulang tahun juga, Abang sayang sama Ayah." Ujar Kendra seraya mengecup pipi Radit juga.
Suasana pagi ini membahagiakan sekaligus haru.
"Jadi sekarang potong kuenya ya..." Ujar Mbak Tinah yang kebetulan ada bersama mereka.
Kendra memotong kuenya.
"Potongan pertama buat siapa hayoo." Ujar Mbok Inah kepada Kendra.
"Buat Bunda..." Ucap Kendra seraya memberikan potongan kue pertamanya kepada Sya.
"Terima kasih sayang." Sya menerimanya dengan senyum di bibirnya.
Barulah potongan kedua Kendra berikan untuk Ayahnya.
"Jangan lupa kadonya ya Ayah, Abang pengen mobil remot yang besar." Ucap Kendra kepada Radit.
Kan, dengan Sya saja Kendra bisa bersikap manis. Dengan Radit? Jangan harap, Kendra lebih senang menggoda Radit, begitu juga sebaliknya.