
Beberapa bulan ini Radit benar-benar sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan selama ada di kantor untuk makan pun laki-laki berstatus ayah dari 2 orang putra itu harus di ingatkan oleh asistennya, karena Sya memang sudah berpesan kepada Andre untuk selalu mengingatkan Radit yang sekarang sering lupa waktu jika sudah bekerja. Radit benar-benar mengabaikan kesehatannya sendiri demi mempersiapkan pembukaan cabang baru. Hal ini pula lah yang membuat Sya menjadi kesal kepada suaminya itu.
Setiap hari Sya selalu protes kepada Radit karena laki-laki itu selalu pulang hampir atau bahkan lewat tengah malam. Mungkin pada awalnya Sya masih bisa memahami itu semua, tapi karena semakin hari Radit semakin tidak memperhatikan kesehatannya dan juga anak-anak mereka Sya menjadi kesal. Entah bagaimana Sya harus menyampaikan protesnya kepada Radit.
Kendra saja selalu bertanya kepada Sya mengenai Radit yang jarang pulang. Waktu bertemu mereka hanya saat pagi, itu pun hanya sarapan dan ketika Radit mengantarkan Kendra ke sekolah. Bagaimana tidak, setiap Radit pulang kantor Kendra selalu sudah tidur.
Mungkin jika kesibukan Radit hanya saat weekdays Sya masih bisa memaklumi, tapi saat weekend pun Radit juga selalu sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun Radit di rumah dia tidak pernah lagi bermain dengan Kendra ataupun baby Rendra. Radit lebih sering ada di ruang kerjanya. Untuk makan pun Sya harus mengingatkan atau mengantarkan ke dalam.
Seperti sekarang ini Sya sedang menunggu Radit yang belum pulang dari kantor. Padahal sekarang sudah lewat jam 12 malam. Ingin rasanya Sya memperlihatkan amarahnya kepada Radit. Tapi setelah di pikirkan lagi Sya tidak ingin membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman untuk anak-anak mereka.
Kali ini Sya sama sekali tidak merasa ngantuk. Sya berniat untuk menyelesaikan masalahnya dengan Radit sesegera mungkin. Semakin dibiarkan Radit menjadi semakin terbuai dengan dunianya sendiri. Memang secara materi Radit memberikannya sangat lebih, tapi bukan itu saja yang Sya dan anak-anak mereka butuhkan. Sya dan anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kehadiran Radit. Sudah terhitung hampir 2 bulan Radit sibuk dengan urusan kantornya.
Bukan juga Sya tidak mensuport apa yang Radit kerjakan. Bayangkan mereka hidup satu rumah tapi terasa asing karena pertemuan mereka yang jarang. Meskipun saat malam seperti ini Sya dan Radit masih bertemu, tapi interaksi yang mereka lakukan singkat karena Radit sudah terlalu lelah dengan pekerjaannya di kantor.
Sya juga merasa kalau Radit menjadi lebih berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika dulu Radit tidak pernah marah kepada Sya dan Kendra, beberapa hari ini Radit lebih mudah tersulut emosi. Beberapa kali Sya juga mendapat amarah dari Radit padahal Sya tidak tau apa salahnya.
Barulah pukul 1 malam terdengar suara mobil milik Radit yang masuk ke halaman rumah. Sya memutuskan untuk tidak turun dan tetap menunggunya di kamar.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka, terlihat Radit masuk dengan wajah kusutnya.
"Kamu belum tidur yank?" Tanya Radit kepada Sya. Tidak ada senyuman bahagia di wajah Radit meskipun mengetahui Sya menunggunya pulang hingga lewat tengah malam.
"Belum." Jawab Sya singkat.
Jujur sebenarnya Sya tidak tega kalau harus mengajak Radit berbicara malam ini. Terlihat sekali dari wajahnya kalau Radit benar-benar sedang lelah.
"Aku mandi dulu ya." Ujar Radit kepada Sya dan langsung pergi kamar mandi.
Sya hanya bisa menghela nafas lelah. Dia beranjak ke walk in closet untuk menyiapkan pakaian ganti Radit.
15 menit menunggu akhirnya Radit keluar dari kamar mandi. Setelah selesai ganti baju Radit mendekat kepada Sya dan mencium dahinya.
Sya mendengarnya tentu saja terkejut. Bahkan seharian Radit sudah bekerja di kantor, dan sekarang laki-laki itu akan bekerja lagi sesampainya di rumah? Yang benar saja, ini sudah jam 1 lebih dan besok masih harus berangkat ke kantor jam 8 pagi.
"Mas apa enggak besok lagi aja? Ini udah malem banget loh. Kamu bukan robot Mas, kamu juga perlu istirahat. Kamu udah seharian ngurusin pekerjaan kantor. Apa masih kurang? Bahkan waktu yang Mas punya untuk aku dan anak-anak beberapa bulan ini sangat sedikit. Setidaknya kalau memang Mas sudah tidak peduli dengan perasaan aku dan anak-anak Mas peduliin kesehatan Mas sendiri." Akhirnya Sya meluapkan perasaannya kepada Radit.
Radit terdiam mendengar ucapan Sya. Radit benar-benar tidak menyangka kalau Sya akan mengatakan hal seperti itu.
"Aku harus nyelesain pekerjaan ini secepat mungkin Maureen. Tolong kamu ngertiin aku." Ujar Radit kepada Sya.
Sya sedikit terkejut karena Radit memanggil dengan namanya, biasanya jika Sya sedang marah Radit akan memanggilnya sayang dan menggodanya. Tapi kali ini tidak.
"Aku selalu berusaha untuk selalu ngertiin kamu. Tapi sekarang aku tidak bisa menahannya. Kamu udah keterlaluan Mas, kamu buat Kendra kecewa karena selalu sibuk dengan pekerjaan kamu. Kendra bahkan selalu bertanya sama aku kapan dia bisa bermain lagi sama kamu." Ujar Sya. Dia benar-benar kecewa kepada Radit.
"Aku kerja juga buat kalian, aku kerja bukan hanya untuk diri aku sendiri." Jawab Radit dengan nada keras.
Laras tersentak kaget mendengar ucapan Radit. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka Radit mengeraskan suaranya saat berbicara dengan Sya.
"Kamu pikir aku dan anak-anak cuma butuh uang kamu? Enggak Mas, itu saja tidak cukup. Kita juga butuh kehadiran Mas. Apa jika Mas bekerja seperti biasa yang berangkat pagi dan pulang sore akan membuat perusahaan Mas bangkrut? Tidak kan? Tolong jangan egois Mas. Kita juga harus memikirkan perasaan anak-anak, terlebih Kendra. Mungkin untuk Rendra dia belum mengerti, tapi pasti dia juga merasakan rindu sama kamu Mas." Ujar Sya tidak lagi bisa membendung emosinya. "Sebenarnya apa yang membuat kamu sampai betah banget di kantor? apa ada yang sedang kamu sembunyikan dari aku?" Tanya Sya kepada Radit.
"Aku tidak menyembunyikan apapun dari kamu Maureen. Aku hanya sedang sibuk karena pembukaan cabang perusahaan sebentar lagi. Tolong kamu ngertiin aku. Aku janji setelah semua ini selesai aku akan menyempatkan waktu untuk kamu dan anak-anak. Tapi untuk sekarang aku bener-bener sibuk." Ujar Radit dengan nada frustasi. Radit tidak menyangka kalau kesibukannya akan membuat rumah tangganya mendapat masalah.
Tiba-tiba saja baby Rendra terbangun dan menangis keras.
"Baiklah, aku akan coba untuk ngertiin." Jawab Sya pasrah. Buru-buru Sya mengangkat baby Rendra dari box bayinya.
"Terimakasih... Sekarang aku harus menyelesaikan pekerjaan." Ujar Radit seraya keluar dari kamar mereka. Mengabaikan baby Rendra yang sedang menangis.
"Cup.. cup... adek pinter bobok lagi ya." Ujar Sya seraya memberikan sumber ASInya kepada baby Rendra.
Tanpa sadar Sya meneteskan air matanya saat menyusui baby Rendra.