
Setelah Radit berangkat ke Kantor, Sya segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tua Radit karena penerbangan ke Bali akan di lakukan 3 jam lagi. Tidak repot karena Sya hanya harus menyiapkan anak-anak saja karena barang-barang sudah di kirimkan terlebih dahulu.
Sebenarnya ada rasa bersalah di hati Sya. Dan Sya juga sadar kalau yang dia lakukan itu salah. Pergi tanpa seizin suami? Siapa yang akan membenarkan perbuatannya itu.
Tapi Sya hanya manusia biasa, dia juga memiliki batas kesabaran. Dan saat ini Sya sudah tidak tahan karena Radit terlalu mengabaikan dirinya dan juga anak-anak. Radit terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Memang sebagai istri yang baik harusnya Sya bisa mengertikan pekerjaan suaminya, dan lagi-lagi Sya akui kalau dia tidak masuk dalam kategori istri baik. Sya hanyalah istri yang masih mementingkan egonya sendiri. Dan sekarang Sya hanya butuh untuk menenangkan diri untuk sementara dan menghilang dari jangkauan Radit.
"Bunda, kita pelgi libulan Ayah nggak di ajak?" Tanya Kendra kepada Sya. Jika Rendra masih bayi dan belum bisa menanyakan sesuatu, maka Kendra adalah salah satu anak yang kritis dan sering bertanya.
"Eehhmm, Ayah kan masih sibuk dan banyak kerjaan jadi nggak bisa ikut kita liburan. Kita pergi liburannya sama Bunda, adek, Oma dan Opa aja, nggak papa kan Bang?" Ujar Sya memberikan penjelasan. Lagi-lagi Sya di dera rasa bersalah karena harus membohongi Kendra. Tapi Sya tidak punya pilihan lagi.
"Ayah sekalang sibuk kelja telus. Ayah udah nggak sayang lagi ya sama Abang, adek dan Bunda." Jawaban Kendra benar-benar tidak terduga. Sya sama sekali tidak berpikir kalau Kendra berpikiran seperti itu. Ya, jika begini makan Radit memang benar-benar sudah keterlaluan. Kendra bahkan dengan jelas merasakan kalau dia diabaikan oleh Ayahnya.
"Ayah sayang kita kok Bang, tapi Ayah emang lagi sibuk kerja aja, kan cari uang buat beli mainan Abang dan adek." Tentu Sya tidak akan menjelekkan Radit di depan anak mereka.
"Ya udah kalau gitu Abang nggak beli mainan lagi bial Ayah nggak kelja terus." Jawab Kendra seraya menatap Sya.
Mendengar ucapan Kendra membuat Sya menjadi terenyuh. Ingin rasanya Sya meneteskan air mata di depan putranya itu dan mengatakan bahwa apa yang Kendra rasakan juga Sya rasakan. Namun tidak, tentu Sya tidak akan melakukan itu.
Sya membawa Kendra kedalam pelukannya.
"Jangan sedih dong, kita kan mau liburan. Nanti Bunda ajak Abang ke pantai. Abang pengen ke pantai kan?" Ujar Sya berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Mendengar kata pantai Kendra langsung bersorak bahagia.
"Yeaayy, Abang mau ke pantai."
Sya tersenyum melihat Kendra yang sudah ceria kembali.
"Yuk kita berangkat sekarang." Sya menggandeng Kendra, sedangkan baby Rendra terlelap nyaman di gendongannya.
Saat Sya turun, kebetulan tidak ada Mbok Inah maupun Mbak Tinah. Jadi Sya tidak perlu lagi berbohong dan mencari alasan. Dan ternyata keberuntungan juga tidak sampai di situ, di kantor satpam juga tidak ada orang. Buru-buru Sya membawa Kendra keluar.
Sebuah taksi terlihat terparkir tidak jauh dari rumah Sya dan Radit. Ya, Sya memang sudah memesan taksi terlebih dahulu sebelum mereka berangkat.
30 menit dalam perjalanan akhirnya Sya sampai di rumah orang tua Radit. Disana sudah ada Mama Riana dan Papa Riyan yang memang sedang menunggu kedatangan Sya.
"Opaaa....." Dengan ceria Kendra langsung berlari kearah Papa Riyan. Memang Kendra jarang bertemu dengan Ayah Riyan karena Opanya itu sering ke luar kota.
"Cucu Opa yang ganteng.... " Ujar Ayah Riyan seraya membawa Kendra kedalam gendongannya.
"Gimana di perjalanan Sya? Anak-anak nggak rewel kan?" Tanya Mama Riana kepada Sya. Secara Sya pergi hanya bertiga saja tanpa bantuan baby sitter atau semacamnya. Terlebih Sya juga pergi menggunakan taksi.
"Anak-anak enggak rewel kok Ma. Rendra dari tadi tidur dijalan, kalo Kendra main game." Jawab Sya.
Setelah berbincang sebentar, Sya dan yang lainnya langsung berangkat ke Bandara.
"Ya udah yuk kita berangkat sekarang." Ujar Papa Riyan kepada Sya dan Mama Riana.
Selama dalam perjalanan tidak ada pembicaraan diantara mereka, hanya ada celotehan polos dari Kendra yang meramaikan perjalanan sampai Bandara. Karena setelah di pesawat bocah tampan itu langsung tertidur pulas.
Untuk pertama kalinya sejak 2 bulan ini Radit memiliki waktu luang. Radit menatap keluar jendela, menatap gedung-gedung yang bersebelahan dengan gedung kantornya. Sekarang jam makan siang, dan Radit sama sekali tidak merasa lapar. Mendadak justru ada perasaan rindu kepada Sya dan anak-anaknya.
Radit diam memikirkan hari-harinya selama 2 bulan ini. Radit sadar kalau dia sedikit mengabaikan keluarganya. Namun sebenarnya Radit sama sekali tidak berniat melakukan itu. Ini semua terjadi karena memang Radit benar-benar sibuk dengan pekerjaannya. Tapi tenang saja, dalam 2 minggu semua akan selesai.
"Setelah semua selesai kita akan pergi liburan." Ujar Radit dalam hati. Ya Radit berjanji akan menyelesaikan pekerjaannya sesegera mungkin. Dan setelah itu dia akan mengajak Sya dan anak-anak untuk pergi berlibur, mengganti waktu yang telah berlalu tanpa kehadiran dirinya.
Radit mengambil ponsel yang ada si saku jasnya. Banyak notif pesan dan lain-lain yang masuk di ponselnya. Namun yang dia cari tidak ditemukan. Ya, Radit mencari pesan dari Sya. Biasanya istrinya itu akan mengirimkan pesan untuk mengingatkan Radit agar tidak lupa makan siang.
Radit membuka kolom chat Sya, ternyata terakhir istrinya mengiriminya pesan sudah seminggu yang lalu. Dan yang membuat Radit merasa bersalah adalah ternyata selama 2 bulan ini pesan dari Sya jarang dia balas. Apa dia benar-benar sangat sibuk hingga membuatnya membalas pesan saja tidak bisa? Radit benar-benar tidak habis pikir dan dirinya sendiri.
Radit memutuskan untuk mendial nomor Sya. Saat ini Radit benar-benar merindukan Sya hingga tidak tahan untuk segera bertemu dengan wanita itu. Tapi pekerjaan masih menunggunya, dan setidaknya dengan menelepon dan mendengar suara Sya akan sedikit mengobati rasa rindu Radit.
Sudah 3 kali panggilan namun Sya tidak mengangkatnya. Saat Radit melihat kapan terakhir kali Sya aktif ternyata jam 10 pagi.
"Mungkin Maureen ikut tidur sama adek." Radit mencoba untuk berpikir positif.
Ya, rasa rindu Radit kepada Sya tidak tersalurkan sedikitpun. Tapi tidak apa-apa, hari ini dia tidak lembur dan hanya kurang 4 jam lagi dia bisa bertemu dengan Sya dan anak-anak.
Setelah terdiam sejenak Radit kali ini memutuskan untuk menghubungi Andre.
"Ndre, bawakan aku sebuket bunga Tulip putih."