
Saat ini Sya dan Radit sedang duduk bersama di sofa seraya melihat pemandangan putra-putra mereka yang sedang tertidur pulas. Suasana yang dingin ditambah dengan suara rintik hujan membuat tidur mereka begitu nyaman.
Radit tiba-tiba menggeser duduknya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Sya.
"Usapin kepala aku." Ujar Radit seraya menenggelamkan wajahnya di perut ramping Sya. Radit menghirup aroma tubuh istrinya yang sudah sangat dia rindukan seminggu ini. "Aku kangen banget sama kamu yank." Ujar Radit kepada Sya.
Sya hanya tersenyum seraya mengelus kepala Radit.
"Kamu enggak kangen sama aku?" Tanya Radit saat dia tidak mendapatkan jawaban dari istrinya.
"Kangen,, aku bahkan udah kangen sama kamu sejak aku belum kesini." Jawab Sya dengan suara lirih namun masih bisa Radit dengar. Ya, Sya memang merindukan Radit sudah sejak lama. Bahkan sebelum dia memutuskan untuk membawa anak-anak pergi ke Bali. Bagaimana bisa? Karena meskipun Radit dan Sya masih dalam satu rumah, kesibukan dan pengabaian Radit padanya membuat Sya begitu merindukan suaminya itu.
"Maaf." Ujar Radit sekali lagi. Radit paham betul apa maksud dari perkataan Sya itu.
Sya tersenyum lembut kepada Radit.
"Mas udah makan?" Tanya Sya kepada suaminya, lagi-lagi Sya kelepasan membahasnya kembali. Sya berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin masalah yang saat ini sudah selesai justru dibahas kembali.
Radit menggelengkan kepalanya.
"Belum." Jawab Radit. Pasalnya Radit memang belum makan malam, terakhir dia makan ya saat Andre membelikannya siang tadi.
"Mau makan apa? Biar aku masakin." Tanya Sya dengan lembut.
"Tidak usah, aku mau sama kamu aja disini." Jawab Radit manja.
"Mas, ayo makan dulu, nanti kamu sakit kalau sering telat makan. Kamu pengen makan apa?" Tanya Sya dengan tegas. Sya benar-benar tidak suka kalau orang-orang yang dia sayangi sampai sakit karena telat makan. Meskipun sebenarnya Sya juga sering melakukannya.
Sebenarnya Radit bukan tidak ingin makan, apalagi ini adalah masakan Sya. Hanya saja Radit lebih ingin menghabiskan waktu berdua dan bermanja-manja dengan istrinya itu. Tapi, sekali lagi Radit tidak ingin membuat Sya sampai marah.
"Aku makan apa aja yang kamu masakin." Jawab Radit pada akhirnya.
"Kamu tunggu sini sebentar biar aku masakin dulu." Ujar Sya kepada Radit.
Namun dengan cepat laki-laki itu lanjut menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku mau ikut kamu." Jawab Radit menolak usulan Sya.
Sya hanya bisa menghela nafas.
"Ya udah ayo ikut ke dapur." Ujar Sya kepada Radit.
Sya dan Radit keluar kamar, mereka sudah tidak lagi mendapati Mama Riana dan Papan Riyan di ruang tengah. Sepertinya mereka sudah masuk ke kamar.
*
Di dapur Sya mulai berkutat dengan bahan masakannya. Kali ini simpel saja, karena masih ada nasi dan ayam goreng di meja, jadi Sya memutuskan untuk membuat nasi goreng ayam.
Radit terus memperhatikan kemanapun Sya melangkah. Tidak pernah sedikitpun dia melepaskan pandangannya dari istri tercintanya itu.
Tanpa sadar Radit tersenyum sendiri melihat Sya. Sekali lagi Radit dibuat jatuh cinta oleh istrinya sendiri.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit untuk Sya menyelesaikan nasi gorengnya. Begitu matang, Sya langsung menghidangkannya di meja tepat di depan Radit. Tidak lupa juga mengambilkan segelas air untuk suaminya itu.
"Terima kasih sayang." Ujar Radit kepada Sya.
"Sama-sama Mas, ayo cepet dimakan, nanti keburu dingin." Ujar Sya seraya tersenyum hangat.
Radit menyuapkan satu sendok nasi goreng kedalam mulutnya. Seperti biasa masakan Sya memang rasanya tidak pernah gagal.
"Enak enggak? keasinan atau kurang asin?" Tanya Sya kepada Radit. Pasalnya Radit terus menatapnya membuat Sya menjadi merasa tidak percaya diri dengan hasil masakannya.
"Kenapa masih bertanya? Masakan kamu selalu enak sayang." Jawab Radit seraya tersenyum lembut.
Tiba-tiba Radit menyodorkan satu sendok nasi kepada Sya.
"Kenapa?" Tanya Sya bingung.
"Aaa, aku mau suapin kamu." Jawab Radit.
"Aku udah makan tadi Mas, itu buat kamu aja." Ujar Sya seraya menolak dengan halus.
Radit menggelengkan kepalanya.
"Kalau aku makan lagi nanti aku tambah gemuk Mas, aku lagi mau program diet." Jawab Sya.
"Gemuk? Siapa yang ngatain istri aku gemuk?" Tanya Radit dengan nada tidak santai. Enak saja ada orang yang mengatakan istrinya itu gemuk. Padahal menurut Radit Sya sama sekali tidak gemuk, walaupun memang tubuhnya lebih berisi dibandingkan saat belum hamil. Bahkan tubuh Sya saat ini sudah sangat pas. Lemak-lemak di tubuh Sya sudah bersinggah diarea yang tepat.
"Ya enggak ada yang ngomongin aku gemuk sih. Cuma ya aku ngerasa berat aja. Apalagi kalau lagi ngaca" Jawab Sya.
Radit tersenyum mendengar jawaban Sya.
"Jangan diet ya sayang, aku suka sama bentuk tubuh kamu yang sekarang." Ujar Radit kepada Sya. "Aaa... " Radit kembali menyodorkan satu sendok nasi kepada Sya.
Mau tidak mau Sya membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Radit.
"Tapi bukannya laki-laki biasanya pengen punya istri yang langsing dan seksi ya." Ujar Sya tiba-tiba.
"Mungkin, tapi aku tidak. Aku hanya suka tubuh kamu. Tidak peduli itu langsing atau gemuk, yang penting itu tubuh kamu." Jawab Radit seraya menatap lembut Sya.
Sya yang mendengar ucapan Radit tentu saja tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Berarti aku gemuk?" Tanya Sya sekali lagi.
"Bukan gemuk sayang, tapi kamu itu sem... " Belum selesai Radit mengucapkan kalimatnya, Sya langsung memotongnya.
"Iya aku tau maksud Mas, jangan di teruskan. " Ujar Sya dengan pipi yang memerah.
Radit langsung tertawa melihat wajah Sya yang sudah semerah tomat.
Selesai makan, Radit dan Sya kembali lagi ke kamar. Terlebih dahulu mereka kekamar mandi untuk menggosok gigi lagi.
"Kita tidur dimana sayang?" Tanya Radit kepada Sya. Pasalnya ranjang besar sudah dikuasai oleh baby Rendra dan Kendra. Untung saja ranjang dilengkapi pembatas di setiap sisinya Jadi anak-anak bisa tidur dengan aman tanpa takut terjatuh. Ya, mau bagaimana lagi, disini mereka tidak memiliki box bayi.
"Disini sama mereka. Kamu disamping abang, biar aku yang di samping adek." Ujar Sya kepada Radit. Karena ranjang dengan ukuran king size tentu saja cukup untuk mereka berempat.
"Abang dan aku dipinggir aja, biar kamu sama adek di tengah." Ujar Radit.
"Maksudnya?" Sya tidak paham dengan apa yang Radit katakan.
"Ini disisi ranjang kan ada pengamanannya, otomatis abang enggak akan jatuh, terus adek disamping Abang, kamu disamping adek, dan aku di samping kamu." Ujar Radit menjelaskan. "Aku pengen tidur sambil peluk kamu. Udah lama aku tidur sendirian terus." Bisik Radit di telinga Sya.
.
.
.
*Selamat membaca ya, kasih tau aku kalau ada typo lagiπ*
*Jangan lupa kritik dan sarannya π€π*
***Terima Kasih****ππ*