Baby... I Love You

Baby... I Love You
Hilang Kabar



" Sejak istri kamu meninggal. Mama tau semuanya. Mama juga tau bagaimana penghianat yang sudah Audrey lakukan kepada kamu. Dia tega berselingkuh dari kamu dan meninggalkan baby Kendra yang saat itu masih membutuhkan asi. Jangan sekali-kali kamu meremehkan feeling seorang Ibu, dari awal Mama tidak pernah menyetujui pernikahan kalian. Dan karena kamu mencintainya, Mama memilih untuk tetap mendukung keputusanmu. Ini juga yang menjadi penyebab selama ini Mama ingin kamu memiliki istri lagi. Mama tidak mau kamu trauma dan menganggap jika semua wanita sama."


Mama Riana menatap tajam kearah Radit yang hanya bisa terpaku ditempatnya.


" Kenapa kamu tidak pernah bercerita sama Mama? Kamu anggep Mama ini siapa sampai kamu begitu segan hanya untuk menceritakan permasalahanmu? " Ujar Mama Riana berapi-api.


" Bukan begitu Ma, Radit hanya tidak ingin Mama ikut merasakan beban penderitaan Radit selama ini. Sudah saatnya Mama menikmati hari tua tanpa harus memikirkan hal yang tidak penting. " Jawab Radit seraya menundukkan kepalanya.


" Sebagai seorang ibu, Mama ingin anak-anaknya dapat dengan nyaman berkeluh kesah kepada orang tuanya. Dengan kamu tidak bercerita apapun justru membuat Mama merasa tidak berguna sebagai seorang ibu. Dan itu justru lebih membebani fikiran Mama. Satu lagi! hanya dengan melihat raut wajah kamu saja Mama sudah tau kalau kamu sedang ada masalah. Selama ini kamu sudah sangat menderita dengan adanya perselingkuhan dari istrimu dan juga menjadi seorang single parent." Mama Riana mengubah nada suaranya menjadi lebih tenang.


" Ma, Radit nggak bermaksud begitu. Radit hanya.... " Radit seperti kehilangan kata-kata. Dia tidak bisa membuat penjelasan ataupun sanggahan atas kalimat Mama Riana kepadanya.Karena ucapan Mama Riana memang sepenuhnya benar.


" Tidak apa-apa. Mama mengerti." Mama Riana meninggalkan Radit termenung sendirian diruang keluarga. Niatnya ingin mengompori Radit menggunakan foto Sya dan Jero tidak jadi. Emosinya tiba-tiba saja meledak setelah mengetahui ternyata putranya masih belum berubah. Masih lari pada alkohol dan rokok jika ada masalah dan dia justru dengan seenaknya mengatai orang lain berandal. Satu lagi, yaitu sikapnya yang masih antipati dengan perempuan membuat Mama Riana menjadi cemas.


Baru saja mendudukkan dirinya disofa, Mama Riana membalikkan badan lagi.


" Kurang-kurangin kamu merokok dibalkon. Dan jangan sampai terlihat oleh Kendra. Kemarin Mama dan Kendra tidak sengaja kebalkon kamar kamu, dan Kendra menemukan bungkus rokok dibawah meja." Setelah mengatakan itu, Mama Riana melanjutkan naik kekamar.


Radit semakin kaget saat mendengar jika Kendra menemukan rokoknya dibawah meja. Benar-benar kali ini dia telah lalai menyimpan barang itu.


.


.


.


Berbeda dengan Radit yang sedang galau karena ternyata Mama Riana telah mengetahui rahasianya selama ini dan juga Kendra yang menemukan rokok miliknya. Saat ini Sya sedang berbunga-bunga karena tas yang baru saja dibelikan oleh Mama Riana. Meskipun ada rasa sedikit tidak enak karena harga tas yang menurutnya fantastis. Namun karena Mama Riana terus memaksanya, mau tidak mau Sya tidak bisa menolaknya. Rejeki tidak boleh ditolak bukan?" Kapan lagi dia bisa mempunyai tas sebagus dan semahal ini. Walaupun dia termasuk dari keluarga yang bercukupan, tetap saja Ibu Negara a.k.a Mama Farida pasti akan melarang keras dirinya membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu penting ini.


Sya teringat ponselnya yang dari semalam dia matikan.


" HP aku kemana ya? Perasaan kemarin aku taruh di sofa." Sya bingung mencari dimana dia terakhir kali meletakkan ponselnya itu. Mau di misscall pun tidak bisa karena mati.


Setelah mencari-cari kesana kemari, ternyata ponselnya tertindih oleh kasurnya sendiri.


Baru saja dia mengaktifkan ponselnya, puluhan pesan whatsapp masuk secara bersamaan.


+6285..........


Sya, ini Mama Riana, nanti Mama jemput kamu. Mama mau minta tolong kamu buat jaga Kendra selama Mama arisan nanti.


Mas Fardan


Dek..


Adek... Mama telfon kok nomernya nggak aktif.


Sya. Kamu nggak papa kan? Dalam 12 jam kamu tetep nggak bisa dihubungi, Mas bakal langsung terbang ke Jakarta.


Mama


Adek, kok Mama telfon dari semalem nggak aktif sih?


Hubungi Mama secepatnya kalau adek sempat.


Dian


Sya, besok ke mall yuk. Temenin gue nongkrong.


Eehh, nggak jadi deng, gue disuruh momong ponakan nih buat nemenin ke Timezone.


Sya, lo lagi di mall ya? Gue kok kayak liat lo.


Gilak Gilak. Lo ke mall sama anaknya Pak Radit yang kemarin itu kan? Dan itu ibu-ibu siapa disamping lo. Wahhh... Pasti ibunya Pak Radit ya. Lo beneran jadian sama Pak Radit?


Kok lo centang satu terus dari semalem.


Oyyy


Sya...


Besok pokoknya lo harus cerita sama gue. Titik nggak pake koma.


Dari semua pesan yang masuk, namun tidak ada satupun pesan dari Radit. Sya hanya menghela nafas. Entah kenapa didalam hati terdalamnya dia merasakan ada sedikit rasa kecewa, namun dengan segera ditepis olehnya. Saat ini bukan waktunya untuk mengurusi hal remeh temeh sekedar menunggu pesan dari bosnya itu. Ada Mama dan Kakaknya yang menunggu kabar darinya. Yang dari semalam. mungkin sudah sangat cemas.


Sya mengirimkan pesan sekedar untuk memberi kabar pada keluarganya bahwa dia baik-baik saja.


Setelahnya dia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah setelah berjalan-jalan seharian. Walaupun rasanya sangat menyenangkan karena dia bisa melepas penat setelah bekerja keras selama 5 hari.


Baru saja beberapa menit matanya terpejam, ponselnya berbunyi. Ternyata dia sambungan video call dari Mama dan Mas Fardan.


" Hallo Assalamu'alaikum." Ujar Sya begitu sambungan video call terhubung.


" Wa'alaikumsalam, adek. Kamu darimana aja? Kenapa dari semalem ponselnya nggak aktif. Kamu nggak tau kalo Mama tuh cemas nunggu kabar dari kamu." Ujar Mama Farida sedikit heboh.


Belum sempat Sya menjawab ucapan Mamanya itu, tiba-tiba Fardan sudah menyambungnya.


" Kamu tau dek, Mas hampir saja mau pesan tiket pesawat ke Jakarta kalau dalam waktu satu jam lagi kamu nggak ngasih Mas kabar. "


Sya yang mendengar kalimat Mama dan kakaknya ini hanya terkekeh geli.


" Mama, Mas Fardan maaf yah udah bikin kalian cemas, eehh sama Ayah juga. Adek nggak papa kok, kemarin malem itu adek abis begadang nonton film drama Korea. HPnya adek matiin. Terus dari pagi juga adek tuh abis main ke mall tapi lupa bawa HP. Jadilah tadi setelah sampai kosan adek hubungin kalian." Sya menjelaskan dengan senyuman tak berdosanya yang membuat Mama dan kakaknya itu tidak jadi marah kepadanya.


Mama dan Fardan hanya bisa menghela nafas melihat Sya yang sudah mengeluarkan ekspresi lucunya itu.


ting....


Direktur Galak


Saya butuh bicara sama kamu besok!


" Ada apalagi ini" Ujar Sya dalam hati.