Baby... I Love You

Baby... I Love You
Hadiah dari Uncle Dani



Hampir 1 jam Radit dan Dani mengobrol membahas perusahaan, tiba-tiba terdengar suara mobil yang masuk. Sya melihat jam di ponselnya yang ternyata ini adalah jam pulang sekolah Kendra.


" Kayaknya Kendra udah pulang, aku ke depan dulu ya Mas." Ujar Sya meminta ijin Radit. Sudah menjadi rutinitas sejak Sya di rumah saja kalau setiap Kendra pulang sekolah dia akan menjemputnya di depan teras rumah.


Radit menganggukan kepalanya dan Sya langsung beranjak dari duduknya untuk keluar. Tidak lupa sedikit menganggukan kepalanya kepada Dani.


"Kayaknya kalo gue ketemu sama orang yang sifatnya kayak istri lo gue bakal berubah pikiran buat nikah." Ujar Dani menceletuk setelah Sya menghilang dari pandangannya.


"Boleh aja asal bukan istri gue." Jawab Radit santai, pasalnya dia cemburu kepada Dani pun itu tidak masuk akal dan tidak ada gunanya saja karena Radit tau bagaimana sifat Dani. "Gue yakin lo bakal ketemu sama jodoh lo. Ya minimal taun depan lah." Ujar Radit seperti seorang peramal.


Mendengar ucapan Radit, Dani hanya terkekeh geli.


"Nggak yakin gue."


...~~~...


Disisi lain Sya tengah tersenyum melihat Kendra yang masih semangat berlari kearahnya meski baru saja pulang sekolah.


" Assalamu'alaikum Bunda....." Ujar Kendra memberikan salam setelah bocah tampan itu sampai di hadapan Bundanya.


"Wa'alaikumsalam anak Bunda yang pinter." Jawab Sya seraya mengusap puncak kepala Kendra.


"Assalamu'alaikum adeknya Abang Kendla." Tidak lupa kendra menyapa adik bayinya yang masih ada di perut Sya dan menciuminya.


"Wa'alaikumsalam Abang Kendra." Ujar Sya menjawab sapaan Kendra dengan menirukn suara anak kecil.


"Bekel Abang habis nggak?" Tanya Sya kepada Kendra. Pasalnya tadi pagi Sya membuatkan Kendra bekal nasi dengan sayur brokoli campur jagung dan juga lauk sosis goreng. Tidak lupa beberapa cookies dan buah strawberry sebagai pelengkap.


" Habis dong Bunda, Abang kan anak pintel. Abang juga tadi shaling bekelnya sama Zacy." Ujar Kendra menjawab pertanyaan sang Bunda.


"Wah emang anak Bunda ini pinter banget deh. Ya udah kita masuk yuk ganti baju, bau acem nih Abang." Ujar Sya mengajak Kendra.


Kendra masuk rumah dengan semangat dengan tangan yang menggandeng tangan Sya.


"Assalamu'alaikum." Ujar Kendra mengucapkan salam. Bocah tampan itu masih belum menyadari kalau ada orang lain selain Ayahnya di ruang tamu ini. Karena posisi duduk Dani memang membelakangi arah dari pintu masuk. " Ayah...." Ujar Kendra memanggil Radit.


" Wa'alaikumsalam." Jawab serentak kedua orang dewasa itu.


Kendra terlihat malu-malu begitu menyadari ada orang lain di sini.


Radit dan Dani tertawa kecil melihat respon malu-malu yang Kendra tunjukkan itu.


" Kenalin ini temen Ayah namanya Uncle Dani." Ujar Radit mengenalkan Dani kepada Kendra. Karena memang ini adalah pertemuan pertama keduanya.


Kendra mengulurkan tangannya untuk menyalami Dani.


"Hay kenalin nama uncle Dani, nama kamu siapa boy?" Tanya Dani dengan ramah. Wajah dinginnya berubah menjadi lebih hangat di bandingkan sebelumnya.


"Nama aku Kendla." Jawab Kendr singkat masih malu-malu.


Melihat itu Sya tidak menyangka kalau Dani bisa sehangat ini menghadapi seorang anak kecil.


"Uncle bawakan kamu hadiah, kamu mau?" Ujar Dani memberikan tawaran kepada Kendra.


Kendra langsung menatap kearah Ayah dan juga Bundanya untuk meilhat apakah dia boleh menerima pemberian dari uncle barunya itu atau tidak. Melihat itu Sya dan Radit menganggukan kepalanya tanda memperbolehkan. Melihat itu Kendra langsung tersenyum kemudian menatap kearah Dani.


"Iya Kendla mau." Jawab Kendra pada akhirnya.


Dani mengambil sebuah bingkisan yang berada di sambing parcel buah yang dia bawa tadi. Sengaja dia memang menyiapkan hadiah untuk anak dari sahabatnya itu. Terlebih ini adalah pertemuan pertama mereka. Semenjak menetap di Australia dia memang jarang sekali pulang ke Indonesia kalau bukan ibunya yang meminta. Berhubungan dengan Radit pun juga sangat jarang karena kesibukannya dan juga Radit.


Dengan tersenyum Dani memberikan bingkisan itu kepada Kendra.


"Ini buat Kendra" Ujar Dani seraya mengulurkan bingkisan yang langsung di terima dengn semangat oleh bocah tampan itu. Ya apapun isinya jika itu sebuah hadiah biasanya anak kecil akan sangat bersemangat.


"Terima kasih Uncle Dani." Ujar Kendra seraya tersenyum.


Saat melihat kedalam bingkisan itu, langsung dapat Kendra ketahui apa yang didalamnya. Sebuah mobil-mobilan yang bisa berubah menjadi robot.


"Abang boleh buka enggak uncle?" Tanya Kendra kepada Dani.


"Sure." Jawab Dani seraya tersenyum.


" Tapi Abang ganti baju dulu ya, abis itu baru lanjut mainnya." Ujar Sya kepada Kendra.


Meskipun sedikit kecewa, tapi Kendra menuruti ucapan Bundanya itu.


Langsung saja Kendra beranjak dsri duduknya untu mengganti bajunya terlebih dahulu.


Radit dan Dani tersenyum melihat betapa penurutnya Kendra kepada Sya. Jika anak kecil saja bisa sepenurut dan sedekat itu dengan ibu sambungnya, itu berarti tidak usah di ragukan lagi bagaimana baik dan tulusnya istri Radit itu, ujar Dani dalam hati.


10 menit kemudian Kendra datang sendirian ke ruang tamu.


" Loh Bunda mana Bang?" Tanya Radit kepada Kendra.


"Bunda katanya mau istirahat Ayah." Jawab Kendra memberikan penjelasan.


Radit hanya menganggukan kepalanya. Melihat jam sekarang ini, Radit tau kalau ini adalah jam tidur siang Sya. Seperti yang kita ketahui semenjak kehamilan ini Sya tidak bisa lagi jauh dengan cemilan dan juga kasur karena sekarang ini dia menjadi lebih sering merasa lapar dan juga mengantuk.


Sesuai rencana yang tertunda tadi, Kendra langsung membuka mainan yang Dani bawakan.


Wajahnya semakin cerah saat mengetahui isinya sesuai dengan yang ada di gambar boxnya dan juga kepalanya.


"Kendra suka?" Tanya Dani seraya menampilkan senyum hangatnya yang jarang dia tunjukan kepada orang lain


Kendra menganggukan kepalanya seraya tersenyum lebar.


"Iya Abang suka banget, terima kasih uncle Dani." Ujar Kendra dengan semangat. Terlebih yang membuatnya senang adalah ini adalah koleksi pelengkap. Kenapa? Karena Kendra sudah memiliki warna lainnya kecuali yang biru ini.


" Syukurlah kalo Kendra suka." Ujar Dani menatap Kendra yang mulai sibuk bermain dengan mainan barunya itu.


"Makasih Dan, gue jadi ngerasa nggak enak udah ngrepotin elo." Ujar Radit kepada Dani.


Dani tersenyum miring.


" Sok banget lo bilang nggak enak ngerepotin. Dulu bahkan lo lebih ngrepotin."


Radit tertawa mendengar ucapan Dani yang memang benar adanya itu. Semasa SMA dulu dia memang seringkali membuat Dani kerepotan.


" Makanya lo cepetan nikah biar cepet punya anak. Nanti jadinya gue bisa kasih hadiah buat anak lo." Ujar Radit menggoda Dani.


"Anak lo aja udah cukup buat gue." Jawab Dani santai.


" Nanti lo bakal ngerasain sendiri kalau punya anak itu akan membuat lo lebih bahagia." Ujar Radit menambahkan.


"Akan gue pikirkan nanti."