Baby... I Love You

Baby... I Love You
Marah Cemburu



" Huuuhhhh.... " Radit menghela nafas panjang setelah dia dan Sya masuk ke dalam mobil.


" Mas, aku bisa jelasin kok buat masalah itu, aku juga nggak tau, waktu itu tiba-tiba Mama Ri.. " Belum selesai Sya mengucapkan kalimatnya, Radit membalikkan badannya menatap Sya lembut.


" Iya sayang, aku tau kok. Waktu itu Mama juga bilang sama aku. Eehmm, lebihh tepatnya ngancem sih. Mama bilang dia bakal jodohin kamu sama anak temen arisannya karena aku nggak mau ngaku kalo sebenarnya aku punya perasaan sama kamu. Jadilah Mama pakai cara itu buat manas-manasin aku. Ditambah waktu Mama pulang arisan, dia nunjukkin foto kamu sama si Pajero itu. " Ujar Radit menjelaskan. Ditatapnya dengan lembut mata Sya yang sudah berkaca-kaca itu. Ya begitulah, hormon kehamilan.


" Mas nggak marah? " Tanya Sya kepada Radit. Karena seingat Sya suaminya itu tipe laki-laki yang sangat pencemburu. Melihat Radit yang terlihat biasa saja itu membuat Sya justru merasa tidak tenang.


" Enggak, kenapa aku harus marah sayang. Lagian kan kamu udah jadi milik aku. Ditambah sebentar lagi kita bakal punya anak. " Jawab Radit seraya tersenyum lembut. Ditatapnya Sya yang tengah mengerutkan dahinya.


" Berarti Mas udah nggak cinta sama aku? " Tanya Sya dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Bahkan satu tetes air matanya sudah turun membuat jejak di pipi chubby Sya.


Radit yang mendengar ucapan Sya dan juga air mata yang menetes itu menjadi bingung sendiri. Apa yang salah dari ucapannya? Bukankah bagus kalau dia tidak marah karena hal ini?. Dan sekarang apalagi, Sya meragukan cintanya? Demi Tuhan, bahkan Radit begitu mencintai Sya. Bahkan karena terlalu dalamnya sampai membuat dia tanpa sadar menyakiti perasaan Sya dan membuat kebebasannya sedikit hilang.


" Kok kamu nangis? Aku salah ngomong? " Tanya Radit bingung.


" Hiks, biasanya Mas bakal cemburu kalau aku cuma bicara sama laki-laki lain selain Mas. Tapi setelah kejadian tadi Mas enggak cemburu. Berarti Mas enggak cinta lagi sama aku. " Jawab Sya seraya menangis sesenggukan.


Radit yang mendengar ucapan Sya langsung tersenyum geli.


" Mas kok malah senyum? " Tanya Sya masih menangis.


" Duhh, cup cup... Istri Mas jangan nangis dong. Nanti dedeknya ikut nangis loh. " Radit dengan lembut membawa Sya ke pelukannya.


" Hikss... tapi.. "


" Husshh, sayang, dengerin Mas ngomong. Mas memang nggak marah sayang, lagian buat apa juga kan Mas marah. Tapi kalau cemburu, ya jelas Mas cemburu dong sayang. Mana mungkin Mas enggak cemburu. Tadi kan yang kamu tanyain Mas marah atau enggak, ya Mas jawab enggak dong. Kecuali kalo kamu tanyanya Mas cemburu atau enggak, baru Mas jawab cemburu. Dan lagi-lagi, jangan pernah ngeraguin cinta Mas ke kamu lagi ya. Bahkan karena rasa cinta Mas yang terlalu dalam ini kadang jatuhnya malah seperti ngekang kamu. " Ucap Radit seraya mengusap lembut punggung Sya dan mengecup rambut Sya yang tergerai itu.


" Beneran? " Tanya Sya seraya mengangkat kepalanya dari dada bidang Radit.


" Iya sayang. Udah cup jangan nangis lagi nanti dedeknya ikutan sedih loh. Apalagi kalau Kendra ada disini. Udah pasti aku bakal diomelin karena udah bikin kamu nangis. " Ucap Radit seraya terkekeh legi mengingat Kendra yang sama posesifnya dengan dirinya.


" Jadi kangen Kendra deh. Kita jemput dia yuk Mas. " Ujar Sya kepada Radit.


" Sayang, habis makan siang kan Mas masih ada rapat? Biar nanti Mas suruh Pak Agus jemput Kendra terus dianter ke kantor aja ya? " Ujar Radit kepada Sya. Kalau saja hari ini dia tidak ada rapat bersama PT Jayapura atau ada Andre yang bisa dia suruh untuk menggantikannya memimpin rapat, sudah pasti dia akan menuruti permintaan Sya untuk menjemput putra sulung mereka itu. Tapi ya bagaimana, keadaan sedang tidak memungkinkan.


" Yahh.... " Ucap Sya merasa kecewa.


" Gimana kalau Mas beliin coklat? " Ujar Radit menawarkan. Biasanya coklat bisa mengembalikan mood Sya selain es krim dan makanan pedas tentunya.


" Mas mau bikin aku tambahan gendut ya? Nanti kalo aku jelek gimana? " Tanya Sya dengan wajah tertekuk. Ternyata mood Sya memang sedang jelek.


" Siapa yang bilang kamu jelek? Sini biar Mas ajak berantem. Enak aja istri cantik dan sem*k Mas dikatain jelek. " Ujar Radit yang seketika membuat Sya tertawa malu.


" Mas ihh, ya udah aku mau dibeliin coklat sama Es krim. " Ujar Sya kepada Radit.


...***...


Setibanya di kantor, Radit langsung meninggalkan Sya di ruangannya bersama beberapa cemilan yang Radit beli di supermarket tadi. Tentu saja tidak lupa dengan es krim dan coklat sesuai janjinya.


" Kalau butuh sesuatu kamu hubungi Lisa atau OG ya sayang, atau kalau nggak langsung hubungi Mas. Sekarang Mas pergi dulu. Paling lama 2 jam kok. " Ujar Radit kepada Sya.


" Iya Mas, aku tau kok. " Jawab Sya.


" Jangan lupa minum susunya, nanti kalo capek istirahat aja di kamar, oke? "


" Oke Mas. " Jawab Sya mengangkat jempolnya.


" Ya udah Mas pergi dulu... cup.. " Radit mencium sekilas bibir Sya.


Sepeninggalnya Radit, Sya menuju pantry untuk membuat susu hamilnya sesuai yang suaminya perintahkan.


Sembari menikmati susunya, Sya memutuskan untuk menonton drama Korea di laptop yang sudah dia bawa dari rumah.


Namun baru setengah jam menonton, Sya merasa mengantuk. Mungkin karena kondisinya yang sudah sangat kenyang. Bahkan cemilan yang Radit belikan saja masih belum tersentuh. Sya terlalu kenyang untuk memakannya. Tadipun hanya es krim yang Sya makan.


Seperti yang sudah Radit peringatkan. Sya pindah ke kamar yang ada diruangan Radit. Dan tidak sampai 10 menit dia menyentuh kasur dan bantal, Sya langsung tertidur pulas.


...***...


Samar-samar Sya bisa merasakan sebuah tangan kecil yang memeluk pinggangnya. Sya mencoba untuk membuka matanya yang terasa masih lengket karena kantuknya yang belum sepenuhnya hilang.


Namun setelah berusaha hampir 5 menit lamanya, pada akhirnya Sya bisa membuka matanya. Sya mencoba menyingkirkan tangan kecil itu kemudian berbalik untuk melihatnya.


Dan ya, itu adalah tangan Kendra. Bocah tampan itu terlihat tidur sangat pulas. Sya tersenyum melihatnya. Ngomong-ngomong sejak kapan Kendra datang?


Jadi tadi saat Sya tidur, Kendra datang bersama Pak Agus. Kemudian saat sudah sampai di lantai ruangan Radit berada dia diantar oleh Lisa masuk ke ruangan sangat Ayah. Melihat Sya yang sedang tertidur itu Kendra melarang Lisa untuk membangunkan sang Bunda. Karena Kendra pikir Sya mungkin kelelahan karena terus membawa adiknya yang semakin besar itu. Dan jadilah Kendra juga ikut tidur disamping Sya.


Sya melihat kearah jam di dinding, ternyata sudah jam Radit lebih sedangkan dia belum sholat. Segera saja Sya mengambil air wudhu dan menjalankan kewajibannya itu.


Setelah sholat, Sya keluar kamar untuk melihat apakah Radit sudah selesai rapat atau belum. Ternyata Radit sudah duduk di kursinya.


" Mas... " Panggil Sya.


Radit langsung mengalihkan perhatian dari laptopnya kearah sumber suara.


" Sudah bangun sayang? " Tanya Radit seraya tersenyum manis.