Baby... I Love You

Baby... I Love You
Tidak ingin melihatnya



Sya harus segera menjalani operasi untuk mengeluarkan bayinya. Pendarahan yang terjadi tidak bisa memungkinkan bayi untuk terus bertahan di dalam kandungannya meskipun usia kehamilannya masih 8 bulan.


Radit hanya bisa menyetujui semua penanganan yang akan Dokter Lilis lakukan untuk Sya. Dia hanya ingin yang terbaik untuk istri dan anaknya.


Dengan perasaan cemas, Radit duduk di kursi tunggu menunggu Sya yang sedang ada di dalam ruang operasi.


Radit selalu membayangkan kalau mereka akan segera berkumpul ber 4 di rumah nanti. Ini semua dia lakukan agar pikirannya bisa tetap waras selama menunggu operasi Sya selesai.


Baru 15 menit Radit terduduk sendiri, Mama Riana dan Papa Riyan datang dengan tergopoh-gopoh menghampirinya. Air mata sudah menetes di pipi cantik wanita usia lebih dari setengah abad ini.


"Radit, kenapa bisa sampai seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Mama Riana denga sesenggukan. Radit hanya bisa menatap wajah Mama Riana tidak tau harus berkata apa.


"Mama tenang dulu, biar Radit juga bisa tenang. Sekarang yang terpenting adalah kita berdoa agar Sya dan cucu kita baik-baik saja." Ujar Papa Riyan mencoba untuk menenangkan Mama Riana. Biar bagaimana pun Papa Riyan menyadari kalau Radit sedang dalam kondisi syok dan tidak baik-baik saja. Papa RIyan tau sekali apa yang sedang Radit rasakan saat ini karena dia pun pernah mengalaminya dulu.


Salah satu penyebab Mama Riana dan Papa Riyan hanya memliki 2 anak yaitu Radit dan Rida, itu karena saat kehamilan mengandung Rida, Mama Riana tidak dalam kondisi baik-baik saja. Dan itu menyebabkan Rida lahir prematur dan sehabis melahirkan Mama Riana sempat koma selama 1 minggu.


Kejadian itu sudah cukup membuat Papa Riyan trauma dan memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi, dia tidak ingin mengorbankan nyawa istrinya hanya untuk memenuhi keinginan mereka yang berencana untuk memiliki banyak anak. Bagi Papa Riyan kehadiran 2 anak sudah lebih dari cukup untuknya.


Mama Riana mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia duduk di samping Radit yang terlihat seperti sedang bingung karena tidak tau harus berbuat apa.


Tiba-tiba saja Radit bersimpuh di kaki Mama Riana dan menangis.


"Radit, kamu kenapa, jangan begini." Ujar Mama Riana dengan terisak lirih mencoba untuk membangunkan Radit yang masih bersimpuh di kakinya.


"Ma, maafin Radit kalau selama ini Radit enggak mau nurut sama Mama, maafin Radit kalau sering nakal dan ngelawan ucapan Mama." Ujar Radit dengan terisak.


Papa Riyan yang melihat itu hanya terdiam membiarkan Radit menumpahkan segala perasaannya.


"Iya, Mama udah maafin semua kesalahan Radit." Jawab Mama Riana seraya mengusap kepala Radit dengan lembut.


"Radit sekarang tau gimana beratnya seorang Ibu mempertaruhkan nyawa mereka untuk melahirkan anak-anaknya kedunia. Maafin Radit kalau dulu Radit juga pernah membuat Mama kesakitan." Tangis Radit semakin terdengar semakin sendu. Bahkan Papa Riyan pun sudah tidak bisa membendung air matanya lagi saat mendengarr tangisan dari putra sulungnya yang selama ini terlihat tenang cenderung dingin.


"Enggak apa-apa sayang, itu sudah menjadi kodrat seorang wanita. Baik Mama ataupun Sya pasti akan merasa sangat bahagia saat bisa membawa anak kita ke dunia dengan selamat." Ujar Mama Riana dengan lembut.


Sebenarnya ini bukan pertama kali Radit menemani seseorang melahirkan. Hanya saja saat ini kondisinya sangatlah berbeda. Jika dulu Audrey melahirkan Kendra melalui operasi caesar yang sudah di tentukan tanggalnya dan tidak ada kejadian apapun yang membuat mereka cemas dan semuanya baik-baik saja, maka kali ini berbeda. Sya sedang benar-benar mempertaruhkan nyawanya agar baik dirinya dan baby dapat bertahan hidup.


"Sya berdarah Ma." Ucap Radit kepada Mama Riana seolah mengadu atas apa yang sudah terjadi tadi. Dan Mama Riana membiarkan Radit untuk bercerita dengan sendirinya.


"Radit enggak mau Sya dan baby kenapa-napa. mereka akan selamat kan Ma? mereka nggak akan setega itu buat ninggalin Radit dan Kendra kan?" Tanya Radit dengan air mata yang berurai kepada Mama Riana..


"Mama yakin Sya dan babynya akan baik-baik aja, mereka pasti akan selamat." Jawab Mama Riana. Meskipun saat ini hatinya sedang sangat sedih, tapi yang paling hancur saat ini adalah Radit. Jadi dia sebisa mungkin menguatkan putra sulungnya itu.


45 menit kemudian terdengar suara tangisan bayi sangat keras dari ruang operasi, seketika semua langsung mengucapkan syukur atas kelahiran anggota baru keluarga Santoso.


Pikiran Radit sudah sedikit tenang. Anaknya sudah lahir ke dunia, dan dari suara tangisannya Radit bisa tau kalau dia pasti baik-baik saja. Yang sekarang menjadi ganjalan adalah mengenai kondisi Sya. Apa istrinya itu baik-baik saja?


Tidak berapa lama kemudian 2 orang suster keluar dengan membawa bayinya.


"Selamat Pak, babynya laki-laki. Tapi karena kodisinya yang lahir dalam keadaan prematur, maka akan saya bawa dulu ke NICU untuk mendapatkan perawatan lebih intensif, Bapak bisa mengadzaninya disana." Ujar seoarng perawat.


"Apa bapak mau melihatnya?" Tanya suster itu lagi.


Tanpa terduga Radit justru menggelengkan kepalanya. Hal ini membuat Mama Riana dan Papa Riyan terkejut dengan apa yang Radit lakukan itu, dia justru kembali duduk di kursi tunggunya. Namun mereka tidak mengatakan apapun.


"Apa istri saya baik-baik saja? " Tanya Radit pada salah satu perawat tersebut.


" Ibu Sya sedang di tangani Dokter LIlis, memang tadi ada sedikit masalah, tapi semuanya pasti akan baik-baik saja. Ibu Sya hanya butuh do'a dan suport keluarga." Jawab sangat suster.


Mama Riana memilih untuk menemani cucu barunya, sedangkan Papa Riyan menemani Radit.


"Kenapa tidak mau melihatnya?" Tanya Papa Riyan kepada Radit. Apa yang Radit lakukan ini salah, tidak seharusnya Radit melakukan ini kepada anaknya sendiri. Biar bagaimana pun bayi itu tidaklah bersalah dengan adanya kejadian ini.


" Radit mau melihatnya, hanya saja tidak dulu sampai Radit tau bagaimana keadaan Sya Pa." Jawab Radit datar.


"Apa kamu menyalahkan bayimu mengenai apa yang terjadi kepada Sya?" Tanya Papa Riyan dengan intonasi yang dalam.


"Tidak Pa, Radit tidak menyalahkan baby. Radit hanya belum siap melihatnya sebelum tau bagaimana kondisi Sya. Itu saja, Papa tolong ngertiin Radit." Jawab Radit dengan nada putus asanya.


"Tetap saja apa yang kamu lakukan ini salah Radit. Sya tidak akan menyukainya kalau tau kamu bersikap seperti ini kepada putranya." Ujar Papa Riyan yang entah kenapa langsung bisa menohok hati Radit.


Radit terdiam mendengar apa yang Papa Riyan ucapkan. Apa yang dia lalukan ini salah? Apa Sya akan membencinya jika tau apa yang dia lakukan kepada putra mereka? Tapi Radit tidak berniat seperti itu. Dia hanya belum siap melihat wajah bayinya.