Baby... I Love You

Baby... I Love You
Gagal



Bolehkah Radit mengatakan kalau dia benar-benar merasa sangat beruntung beristrikan Sya? Ya, Radit merasa kalau dia sangat sangat merasa beruntung. Bahkan di dalam hati dan pikirannya Radit sama sekali tidak memiliki niatan untuk berpaling dari istrinya itu. Justru Radit lah yang takut kalau Sya berpaling darinya, Radit takut kalau dirinya yang kurang peka ini membuat Sya bosan, meskipun ketakutan Radit ini memang tidak berdasar, pada intinya Radit ingin mengatakan kalau dia benar-benar merasa tidak ingin kehilangan Sya.


Cintanya kepada Sya yang semakin hari semakin bertambah membuat sikap posesif Radit juga semakin meningkat. Dan untungnya Sya bisa memahami itu setelah dia memberikan penjelasan.


"Mas Radit..." Radit tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Sya yang memanggil namanya.


Radit yang sedari tadi duduk di dekat ranjang baby Rendra langsung menoleh ke sumber suara. Terlihat Sya dengan tubuh berbalut bathrobe dan kepala yang juga berbalut handuk berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Aku udah selesai, kamu mandi sekarang aja. Lagi pula adek juga udah bobok kan?" Ujar Sya seraya berjalan ke meja rias untuk memakai beberapa skincare wajah yang biasa digunakan setelah dia selesai mandi.


Radit terdiam menatap Sya dengan pandangan yang... entahlah.


"Kenapa Mas?" Tanya Sya kepada suaminya itu.


Radit menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum kepada Sya. Jujur saja dari balik kaca Sya agak sedikit merinding melihat senyum Radit itu.


Radit berjalan mendekat kearah Sya, dan...


Radit memeluk tubuh Sya dari belakang.


"Kenapa sih Mas? Udah sana mandi dulu. Bentar lagi maghrib loh." Ujar Sya kepada Radit. Sepulangnya mereka dari camping tadi baik Kendra maupun baby Rendra langsung tertidur. Sebenarnya sehabis Asar Sya tidak boleh membiarkan Kendra tidur, tapi untuk kali ini saja Sya mengijinkannya karena Kendra terlihat sedikit kelelahan setelah seharian ini bermain.


"Nanti dulu, aku masih pengen peluk kamu." Jawab Radit seraya mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di leher belakang istrinya itu.


"Ada apa sih Mas? Kok tumben kamu begini?" Tanya Sya kepada Radit.


"Enggak ada apa-apa, aku cuma ngerasa beruntung aja." Jawab Radit.


"Beruntung? Beruntung kenapa?"


"Aku ngerasa beruntung bisa punya istri kayak kamu." Jawab Radit.


Pipi Sya bersemu merah mendengar ucapan Radit.


"Terima kasih ya kamu udah mau jadi istri sekaligus ibu buat anak-anak kita." Radit rasanya ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada Sya.


"Sama-sama Mas, lagi pula anak Mas Radit anak aku juga. Mungkin memang bukan aku yang melahirkan Kendra, tapi aku menyayangi Kendra dan Rendra sama, tidak ada yang lebih aku sayangi salah satunya." Jawab Sya seraya tersenyum manis. "Aku juga mau berterima kasih sama Mas karena Mas sudah menjadi suami dan Ayah yang baik." Bisik Sya seraya mengusap lembut lengan Radit yang masih membelit tubuhnya.


Sejak Kendra mengucapkan terima kasih kepadanya, Radit merasa dirinya menjadi lebih sentimental.


"Yank... " Ujar Radit memanggil Sya.


"Hhmm... "


"Kamu keramas?" Tanya Radit kepada istrinya.


"Iya, kenapa?" Sya tidak paham kenapa Radit bertanya seperti itu. Bukankah sudah terlihat jelas kalau dia keramas karena rambutnya saat ini basah berbalut handuk? Tunggu-tunggu, Sya bisa menebak apa yang ada di pikiran Radit saat ini. Pasti suaminya itu akan mengatakan...


"Berarti datang bulan kamu udah selesai dong yank?" Tanya Radit seraya menaik turunkan alisnya, jangan lupakan senyum mesum yang terpasang di wajahnya itu.


"Emang kalo lagi datang bulan nggak boleh keramas? Kan boleh-boleh aja." Sya tidak menyangkal tapi juga tidak mengiyakan.


"Boleh sih, tapi kan kamu udah 7 hari, dan di hari ketujuh kamu keramas, berarti udah selesai dong." Ucap Radit dengan yakin.


"Emangnya kenapa kalau aku udah selesai datang bulan?" Tanya Sya kepada Radit.


Radit tersenyum mendengar pertanyaan Sya.


"Apalagi, nanti malem bikin dedek bayi lah." Jawab Radit dengan frontal.


Seketika Sya langsung mencubit perut Radit.


"Dasar mesum."


"Aww, aww, sakit yank. Ihh main cubit-cubit aja." Ujar Radit seraya mengusap perutnya yang mendapat cubitan dari istrinya.


"Lagian Mas jadi suami mesum banget sih." Ujar Sya kesal.


"Mesumnya sama kamu doang kok, beneran deh yank." Jawab Radit seraya tersenyum. Melihat wajah Sya yang sedang ngambek sekaligus malu merupakan hiburan tersendiri untuk Radit.


"Iihh Mas... "


"Apa sih, kita itu nikah udah 1 tahun. Tapi kamu masih malu-malu aja." Jawab Radit dengan santai.


"Tau ah, udah sana mandi. Bentar lagi maghrib loh." Ujar Sya seraya mendorong pelan dada Radit.


"Tapi nanti malem bikin dedek ya?" Ujar Radit kepada Sya.


Radit tersenyum semakin lebar mendengar pertanyaan Sya.


"Ya enggak bisa nolak, karena nolak keinginan suami itu dosa." Jawab Radit dengan santai.


"Cupp..." Radit mengecup bibir Sya sekilas sebelum dia pergi ke kamar mandi.


"Inget sayang, nanti malem pokoknya harus, enggak boleh enggak. Aku udah puasa 7 hari loh." Setelah mengatakan itu Radit benar-benar masuk ke kamar mandi.


Ditempatnya Sya tersenyum karena tingkah Radit. Suaminya itu memang ada-ada saja kelakuannya. Tapi Sya cinta kok.




Hari sudah semakin malam, tapi belum tampak kalau Kendra sudah ngantuk. Bocah berusia 4 tahun itu masih asyik memainkan puzzle. Sedangkan Sya nampak duduk disamping Radit dengan membaca novelnya. Baby Rendra kemana? Bayi tampan itu sudah tidur di box bayinya sejak setengah jam yang lalu.



Terus Radit? Radit dengan wajah nelangsa duduk disamping Sya. Sepertinya rencana pembuatan dedek bayi akan tertunda karena Radit yakin malam ini Kendra akan minta tidur bersama dengan dirinya dan juga Sya.



"Yank, Abang kelonin dulu sana, ini udah malem loh." Radit melirik kearah jam yang sudah menunjukkan pukul setelah 11 malam. Padahal biasanya jam segini Kendra pasti sudah tertidur.



Sya tersenyum simpul mendengar ucapan Radit.


"Coba tanya Abang udah ngantuk belum." Ujar Sya seraya menutup novelnya.



Radit beranjak dari sofa dan mendekati Kendra.


"Bang, emangnya Abang belum ngantuk? Ini main puzzlenya buat besok lagi aja." Ujar Radit kepada Kendra.



Kendra menggelengkan kepalanya.


"Belum, Abang belum ngantuk." Jawab Kendra santai.



Radit terlihat terdiam dan memutar otaknya untuk mencari alasan agar bisa membujuk Kendra.


"Kita main dikamar aja yuk? Kasian adek sendirian dikamar." Radit berharap dengan mengajak Kendra ke kamar akan membuat bocah itu mengantuk.



"Abang bobok sama Bunda kan?" Tanya Kendra kepada Radit. Mau tidak mau Radit mengiyakan.



Tapi sepertinya rencana Radit tidak berhasil, karena meskipun mereka sudah ada di kamar, Kendra sama sekali tidak tidur. Bahkan disaat Sya sudah tertidur Radit masih harus menemani Kendra yang masih belum mengantuk sampai jam 1 pagi.



Ya, malam ini pembuatan dedek bayi gagal!


.


.


.


*Selamat membaca, jangan lupa kritik dan sarannya ☺*



*Jangan lupa juga baca* ***Laras for Dani*** *ya😍*



***Terima Kasih😘****💕*