Baby... I Love You

Baby... I Love You
Wajah Merah Radit



" Ooo jadi kalian disini. Udah ditungguin dari tadi juga, ayo sholat jama'ah. " Ujar Mama Farida dari depan pintu dapur.


Buru-buru Sya dan Radit beranjak dari duduknya, padahal mereka hanya sedang duduk saja, itu pun juga ada Kendra di antara mereka. Tapi rasanya seperti baru saja ketahuan sedang melakukan hal terlarang, deg-degan.


" Iya Ma, ini Sya lagi nungguin Kendra." Jawab Sya gugup.


" Iya Mama tau, kenapa juga adek harus gugup begitu, Radit juga. " Ujar Mama Farida menggoda Sya dan Radit.


" Saya enggak kok Tan. " Jawab Radit seraya tersenyum. Radit memang paling bisa mengendalikan ekspresi wajah dan gerak-geriknya.


" Ya udah ayo, udah di tungguin itu. Sana kalian wudhu dulu. " Ujar Mama Farida kemudian masuk ke dalam rumah.


Sya langsung saja mengangkat Kendra untuk masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Radit yang hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.


" Tungguin aku Maureen. " Ujar Radit kepada Sya.


" Mas udah gede, nggak perlu ditungguin. " Jawab Sya tanpa menoleh.


.


.


.


Saat ini keluarga Sya dan Radit sedang berkumpul di ruang tamu. Sepertinya akan ada pembicaraan serius di antara mereka. Namun tanpa ada Sya di antara mereka, tadi setelah makan malam Sya langsung masuk kamar bersama Kendra. Mereka terlihat seperti kakak dan adik jika sudah bersama.


" Jadi kalau boleh Om mau tanya sama kamu Dit. " Ujar Ayah Sya kepada Radit.


" Boleh Om silahkan, kenapa harus tidak boleh kan. " Ujar Radit tersenyum dengan canggung.


Sedangkan Papa Riyan, Mama Riana, dan Mama Farida hanya menyimak pembicaraan mereka berdua.


" Jangan terlalu formal seperti itu Dit, Om kan sahabat Papa dan Mama kamu. Santai saja, kita sudah seperti keluarga kok dari dulu. " Ujar Ayah Dodi menenangkan Radit yang terlihat tegang.


" Iya Om. " Jawab Radit tersenyum.


" Disini Om tidak akan menyinggung atau pun menanyakan masa lalu kamu karena Om rasa ini bukanlah kapasitas Om. Yang Om mau tanyakan adalah, apa benar kamu menjalin hubungan spesial dengan Sya? " Tanya Ayah Dodi dengan wajah santainya namun nada bicaranya terkesan tegas.


" Benar Om, hanya saja untuk saat ini Radit sama Maureen sedang break. " Jawab Radit dengan jujur. Radit berprinsip untuk kali ini dia akan memulainya dengan kejujuran.


" Kenapa break? Maksudnya break itu kalian putus? " Tanya Mama Riana tiba-tiba. Tentu saja dia terkejut karena selama ini yang dia tau hubungan Sya dan Radit baik-baik saja. Mereka terlihat cute seperti biasanya.


" Ma, biarin Radit jawab dulu. " Ujar Papa Riyan kepada Mama Riana. Tentu saja Mama Riana langsung menurut.


" Jadi? " Tanya Ayah Dodi.


" Emmm... Ada beberapa hal yang kita pertimbangkan sampai pada akhirnya kita mengambil keputusan untuk break. Namun sepertinya Radit tidak bisa menceritakannya. Hanya saja yang perlu kalian tau, semua kesalahan ada pada Radit. " Jawab Radit dengan tegas.


Ayah Dodi hanya menganggukan kepalanya.


" Apa ada kemungkinan kalian akan kembali bersama? " Tanya Ayah Dodi. Pertanyaan ini membuat Radit terdiam sesaat.


" Ya, ada dan akan. " Jawab Radit dengan yakin.


" Kenapa kamu bisa seyakin itu? " Tanya Ayah Dodi.


" Karena saya mencintai Maureen. " Jawab Radit lantang. Ya Sekarang Radit yakin jika dia mencintai Sya. Sudah 2 kali dia dengan bodohnya menyangkal perasaan cinta ini. Tidak akan Radit biarkan dirinya ragu untuk yang ke 3 kalinya, tidak akan dan jangan sampai.


" Baiklah. "


" Apa yang membuat kamu mencintai anak Om? karena setau Om, dia anak yang sangat manja ke orang tua dan Masnya. Kamu laki-laki dewasa, pasti kamu juga butuh pendamping yang dewasa juga. Tidak seperti Sya yang seperti anak kecil. " Tambah Ayah Dodi kepada Radit. Bukan sedang menjelek-jelekkan Sya di depan orang lain. Hanya saja dia perlu tau bagaimana karakter laki-laki yang mencintai anak gadisnya, yang kemungkinan besar akan menjadi menantunya. Terlebih lagi kedua orang tua Radit adalah sahabatnya.


" Om benar, memang Maureen adalah gadis yang manja saat bersama orang tua dan kakaknya. Itu wajar menurut saya karena adik saya, Rida pun juga begitu. Bahkan setelah dia memiliki suami dan seorang anak, tetap saja saat bersama saya, kakaknya dan juga Mama Papa, sifat manjanya itu akan selalu muncul." Jawab Radit seraya tersenyum manis. " Tapi Om, Om juga harus tau kalau putri Om itu adalah salah satu gadis tersabar yang pernah saya kenal. Dia selalu sabar menghadapi sifat saya. " Ujar Radit menambahkan.


" Sudah Mama duga, pasti ini semua salah kamu. Nggak mungkin lah mantu cantik Mama yang buat salah. " Lagi-lagi Mama Riana menerobos masuk kedalam percakapan antara Radit dan Ayah Dodi.


" Kapan Sya jadi mantu kamu mbak? " Tanya Mama Farida kepada Mama Riana.


" Sejak aku ketemu sama Sya di kantor Radit Far. " Jawab Mama Riana tersenyum. " Kan seperti perjanjian kita dulu, salah satu anak kamu jadi mantu aku. " Kali ini ucapan Mama Riana membuat semuanya tertawa kecuali Radit.


" Perjanjian? jadi apa, aku sama Maureen dulu sempet di jodohin? " Tanya Radit kepada Mama Riana.


" Iya, dulu Mama sama Farida itu punya niatan buat nge jodohin salah satu di antara kalian sebelum kita lost kontak. Tapi karena kamu udah nikah, tadinya mau Rida yang Mama jodohin, eehh taunya Rida juga punya pilihan sendiri. Dan lagi, karena lost kontak juga akhinya Mama lupa." Ujar Mama Riana menceritakan sejarah awal adanya perjodohan anak-anak mereka.


" Kok Mama nggak cerita dari dulu sih. " Ujar Radit dengan kesal.


" Lah, kenapa kamu jadi marah sama Mama. Lagian buat apa juga Mama cerita. Toh kamu dari SMA juga udah pacaran sama Audrey. Emang kalau Mama cerita terus kamu bakal langung mau kalau di jodohin sama anak kecil." Ujar Mama Riana juga kesal.


Tentu saja anak kecil, jika saat itu Radit SMA, itu artinya usianya sekitar 17 atau 18 tahun. Sedangkan Sya usia 10 tahun, masih SD.


" Ya harusnya kan Mama cerita. Toh sekarang aja waktu pertama liat Maureen, aku langsung suka, berarti kalau dulu Mama cerita dan ketemuin aku sama Maureen juga sama ceritanya. " Ujar Radit yang tanpa sadar membocorkan rahasianya jika sejak pertama melihat Sya, Radit langsung tertarik dengannya.


" Ciee yang udah mengakui kalau suka sama Sya dari awal ketemu. Sok jual mahal lagi. " Ujar Mama Riana menggoda Radit.


Seketika Radit langsung tersadar jika dia sudah salah bicara.


" Enggak, bukan gitu. Maksudnya... Ehhmm, maksud aku tuh, kalau Mama cerita dari dulu kan... " Belum selesai Radit menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja Sya turun bersama Kendra.


" Ehh, lagi pada kumpul yah. Kok aku sama Kendra nggak diajak sih? " Tanya Sya kepada semua orang yang sedang menertawai tingkah Radit. " Ini juga kenapa pada ketawa? " Tanya Sya bingung.


" Haha, ada yang habis ngungkapin perasaan Sya. " Ujar Mama Riana tertawa.


" Ooh ya? Siapa? " Tanya Sya penasaran.


" Kok wajah Ayah melah, Ayah demam? " Tanya Kendra yang langsung duduk dipangkuan Radit. " Endak panas kok. " Ujar Kendra dengan polosnya meletakkan telapak tangannya ke dahi Radit seperti yang sering laki-laki itu lakukan saat Kendra sedang demam.


Melihat tingkah lucu Radit membuat semua orang kecuali Sya kembali tertawa.


" Kamu beneran demam Mas? " Tanya Sya dengan polosnya.


" Enggak. " Jawab Radit cepat.


" Cie salting cie. " Ujar Mama Riana menceletuk.


" Udah Mbak, kasiah Raditnya. Itu mukanya udah merah loh. " Ujar Mama Farida yang juga tertawa.


Sedangkan Papa Riyan dan Ayah Dodi hanya menampilkan wajah geli mereka.


" Ini pada kenapa sih? Pada ngetawain Mas Radit yah? Emang Mas Radit tadi ngelucu ya? Wah tumben banget es batu bisa ngelucu. " Ujar Sya yang tidak tau apa-apa juga ikut tertawa. Padahal dia sendiri tidak tau apa yang sedang keluarganya tertawakan.


" Kamu nggak tau apa-apa kenapa jadi ikutan ketawa dek. " Ujar Ayah Dodi kepada putrinya itu.


" Ya ikutan aja. " Jawab Sya.