
Radit tersenyum setelah melakukan video call dengan Sya. Rasanya dia ingin segera pulang ke rumah dan memeluk istrinya yang semakin menggemaskan itu. Tapi tetap saja saat ini Radit masih harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor agar bisa cepat-cepat pulang ke rumah.
Ini bahkan masih pagi, dan nanti juga Radit masih memiliki jadwal rapat bersama koleganya.
" Andre tolong hubungi Pak Agus agar membawa mobilnya kesini. " Ujar Radit memberikan perintahnya kepada asistennya. Sedangkan dia masih fokus dengan laptop di depannya.
" Baik Pak. " Ujar Andre mengiyakan perintah sang Direktur.
...~~~...
Tidak terasa sudah jam makan siang, Radit harus segera keluar untuk makan siang sekaligus menemui koleganya. Tentu saja dengan mobil yang tadi diantarkan oleh Pak Agus. Sementara Andre menghandle pekerjaannya di Kantor.
" Selamat siang Pak Dani. " Ujar Radit menyapa koleganya.
" Pak? Nggak usah sok-sokan panggil gue Pak, Dit. Geli banget gue di panggil begitu. " Ujar Dani kepada Radit.
Radit hanya terkekeh geli mendengar jawaban dari Dani. Ya, sebagai informasi saja, Dani adalah teman Radit sewaktu mereka SMA dulu. Mereka berpisah karena Dani yang melanjutkan kuliahnya di Australia.
" Gimana kabar lo? " Tanya Dani kepada Radit.
" Baik, seperti yang lo lihat. " Jawab Radit singkat.
Dani menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
" Rokok. " Ujar Dani seraya memberikan sebungkus rokok kepada Radit.
" No, thanks. Gue udah nggak ngrokok. " Radit menolak dengan santai tawaran dari temannya itu. Dia sudah berjanji kepada Sya untuk tidak lagi menggunakan benda kecil itu.
" Uwoooo, sebuah keajaiban lo bisa berenti ngerokok. Sedangkan yang ngajarin gue ngeroko adalah lo. " Ujar Dani terkekeh kecil. Antara kaget dan tidak percaya Dani rasakan saat ini. Padahal Dani sendiri mengenal rokok dan lainnya itu dari Radit.
" Hahaha, bisa saja. Selama ada niat kenapa enggak. " Jawab Radit.
Dani mengangguk-anggukan kepalanya.
" Btw, kapan lo balik ke Indonesia? " Tanya Radit kepada Dani.
" Udah 2 bulan yang lalu sebelum gue ngirim proposal permintaan kerja sama ke perusahaan lo. " Jawab Dani.
" Bukannya lo mau jadi fotografer? Terus kenapa sekarang lo malah berpakaian formal dan mengurusi perusahaan kayak gini? " Tanya Radit sekaligus mengejek Dani. Setau Radit, Dani sengaja kuliah di Australia untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang fotografer.
" Ckck, mau gimana lagi. Papa gue maksa buat gue ngurusin perushaan. Lo tau sendiri kan kalo kakak gue cewek. Dia mana mau ngurusin ini semua. Sedangkan suaminya itu kerjanya pindah-pindah dari satu negara ke negara yang lain. Ditambah sekarang anaknya 2 kembar. " Jawab Dani dengan malas.
Radit terkekeh mendengar cerita Dani itu.
" Jadi sekarang gimana? Udah ada istri lo? " Radit ingat jika Dani itu salah satu laki-laki yang tidak menginginkan sebuah pernikahan. Bukan karena adanya trauma. Hanya saja dia memang malas untuk menjalin hubungan terikat semacam itu.
" Lo udah tau jawabannya. " Jawab Dani seraya menyesap batang rokoknya. " Lo sendiri? Udah dapet pengganti Audrey? " Ujar Dani bertanya kepada Radit.
Radit tersenyum seraya menganggukkan kepalanya..
" Apa dia sama seperti Audrey? "
" Tentu saja tidak, dia sangat berbeda dengan Audrey. Dan ya, dialah yang berhasil mengubah gue jadi seperti ini. " Jawab Radit.
" Woow, gue pengen ketemu sama istri lo itu. Siapa sih yang bisa ngubah cowok berandal macam lo itu jadi tobat. " Ujar Dani seraya tertawa kecil.
" Gue bakal kenalin kalo lo janji nggak bakal tertarik sama istri gue. " Jawab Radit dengan datar.
" Ya Tuhan, gila kali ya kalo sampe gue tertarik sama bini temen sendiri. Gue masih waras Dit. " Ujar Dani tidak terima dengan tuduhan tak berdasar yang Radit tujukan kepadanya.
" Ya siapa yang tau. " Jawab Radit seraya mengangkat bahunya membuat Dani hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Udahlah, skip dulu pembahasan mengenai bini lo itu. Sekarang kita serius sebagai partner kerja. Jadi..... "
Radit dan Dani mulai membahas kerja sama yang kemungkinan akan terjadi di antara perusahaan mereka. Tidak di pungkiri kalau Dani termasuk salah satu orang yang jenius, meskipun pada dasarnya dia tidak menyukai mengenai dunia bisnis seperti ini.
" Oke.. Kita bisa bicarakan ini secara resmi di kantor. Lo bisa minta sekretaris lo buat hubungi sekretaris gue. " Ujar Radit kepada Dani.
Dani menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
Sembari mengobrol santai, Radit mencoba untuk memberi kabar kepada Sya kalau dia akan pulang jam 4 nanti.
" Lo gila ya? " Tanya Dani kepada Radit.
" Kenapa? "
" Ya lo senyum-senyum sendiri kayak orang gila. " Ujar Dani menatap heran Radit.
" Hahaha, nggaklah mana mungkin gue gila. Yang ada gue tergila-gila sama istri gue. " Ujar Radit tertawa.
" Emang bener gila. "
" Lo nggak pernah ngerasain jatuh cinta makanya ngomong begitu. Coba aja kalo lo jatuh cinta, gue yakin lo bakal lebih gila dari pada gue. " Jawab Radit santai.
Dani hanya mencebik mengabaikan ucapan dari Radit itu. Dia tidak percaya kalo nantinya akan ada seseorang yang membuatnya jatuh cinta.
Tepat pukul 4 sore, Radit berpamitan kepada Dani untuk pulang terlebih dahulu. Karena berbeda dengan Dani yang bisa pulang semaunya, Radit tidak bisa karena memang dia tidak ingin. Bagaimana bisa dia meninggalkan istri dan anaknya yang begitu dia cintai itu terlalu lama. Jika memang tidak mendesak Radit tidak akan melakukan itu.
...~~~...
Diperjalanan Radit berpikir untuk membelikan sesuatu untuk Sya. Memberi hadiah tidak harus di hari sepesial saja kan?
Akhirnya Radit memutuskan untuk pergi ke Mall terlebih dahulu. Siapa tau ada sesuatu yang menarik untuk dia hadiahkan kepada istrinya.
Kemudian Radit berhenti di sebuah toko perhiasan. Dan tatapan langsung tertuju kearah gelang yang terdapat beberapa taburan berlian.
Radit bisa membayangkan jika ini akan sangat cantik saat dipasangkan di pergelangan tangan Sya.
...pict by Google...
Selesai melakukan transaksi, Radit keluar toko dengan senyuman yang terpampang di bibirnya. Tidak lupa juga dia membelikan sesuatu untuk Kendra. Ya, apalagi kalau bukan ayam goreng kakek.
Dengan perasaan yang sangat bahagia, Radit menjalankan mobilnya. Namun tanpa disangka ada seekor kucing yang melintas di depannya, refleks saja Radit langsung membantingkan kemudinya ke sebuah pohon di pinggir jalan. Dan apesnya lagi dahi Radit terantuk setir mobilnya hingga dahinya mengeluarkan darah cukup banyak dan menyebabkannya pingsan.
Tidak tau apa yang terjadi, saat tersadar Radit sudah berada di rumah sakit dengan Andre yang ada di sampingnya. Entah bagaimana bisa kenapa Asistennya itu bisa ada disini.
" Sebenarnya apa yang terjadi Pak? " Tanya Andre begitu Radit tersadar dan sudah di periksa oleh dokter.
" Ada kucing lewat, terus banting setir nabrak pohon. " Jawab Radit.
" Kepala Pak Radit dapet 3 jahitan karena lukanya cukup lebar. " Ujar Andre menjelaskan.
Radit terdiam.
" Kamu nggak ngasih tau Sya kan? " Tanya Radit kepada Andre.
" Belum Pak. " Jawab Andre yang membuat Radit langsung menghela nafas lega.
" Bagus, jangan beritahu dia, aku tidak mau kalau dia sampai cemas. Kita pulang sekarang saja. " Ujar Radit kepada Andre.
" Saya akan berbicara dengan dokter dulu Pak. "
Dan untungnya saja Radit di perbolehkan pulang jika cairan infusnya sudah habis.
Memikirkan Sya, Radit tau pasti istrinya itu sedang cemas karena dia yang tidak memberikan kabar kepadanya. Tapi biarlah, jika Radit memberitahu sekarang, dia yakin Sya akan semakin mencemaskannya.
.
.
.
*Maaf ya temen-temen kalo beberapa hari ini jarang update. Soalnya entah kenapa aku menjadi sibuk, padahal nggak tau sibuk apa 😂
Tapi tetep bakal aku usahain buat bisa update setiap hari kok. 😊
Dan terima kasih buat dukungan kalian semua, tanpa kalian mungkin aku nggak akan punya semangat buat terus nulis 😍
Jangan lupa kritik dan sarannya ya ☺*
Terima Kasih🙏💕