
" Iya Kendra, jadi apa hubungan lo yang sebenarnya? " Tanya Dian sekali lagi.
" Jadi, aku sama Pak Radit tuh..... "
" Permisi Kak, boleh saya letakkan makanannya. " Salah satu pelayan menginterupsi pembicaraan Sya dan Dian.
" Oo iya Mas silahkan. " Jawab Sya dengan ramah.
Setelah pelayan tersebut meletakkan pesanan mereka dan pergi, Dian kembali melanjutkan pertanyaannya.
" Jadi? " Tanya Dian seraya menyipitkan matanya.
" Iya, aku sama Pak Radit udah jadian, udah hampir 2 bulan ini. " Jawab Sya dengan jujur.
" Hhmmm udah gue duga sih. " Jawab Dian dengan santai.
" Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa dulu Di, aku belum siap jadi bahan gosip orang sekantor. " Ujar Sya memohon.
" Lo tenang aja kali Sya, gue emang suka gosip. Tapi nggak mungkin lah gue nyebar gosip sahabat gue sendiri. " Jawab Dian menenangkan. Ya Dian memang salah satu karyawan yang suka bergosip di kantor, tapi itu hanya berlaku dengan teman-teman dekatnya saja, seperti Sya contohnya. Dan masalah menjaga kerahasiaan, jangan diragukan lagi. Jika Dian mendengar cerita yang memang harus dia rahasiakan, maka Dian akan merahasiakannya. " Jadi gimana cara Pak Radit nembak lo? Dia kan orangnya dingin plus cuek banget gitu. " Ujar Dian mencairkan suasana dengan bertanya kepada Sya.
" Ya gitu, sebenarnya nggak ada pernyataan secara langsung awalnya, terus waktu kita main ke pasar malam, Pak Radit bilang I Love You tepat saat kita lagi naik bianglala dan ada dipuncak. " Jawab Sya dengan pipi memerah. Setiap mengingat kejadian itu, hati Sya akan terasa berbunga-bunga. Dan Sya berharap pernyataan Radit itu memang jujur dari hatinya.
" Berarti sekarang waktunya gue minta pajak jadian lo dong. " Ujar Dian dengan memamerkan wajah jailnya.
" Hahaha, pajak jadian apa deh. Kalau mau minta sama Pak Radit sana, beberapa minggu yang lalu juga Pak Didin minta pajak jadian ke Pak Radit, terus malemnya langsung dia kirim pizza 20 box. " Sya tertawa geli saat mengingat kejadian itu. Bagaimana bisa saat penghuni kosnya ada 10 tapi Radit mengirimkannya 20 box, benar-benar kalau sultan itu suka berlaku seenaknya.
" Wah 20 box? Kok lo nggak kirimin gue, lo kan tau gue suka banget sama pizza. Timbang nganter deket doang Sya. " Ujar Dian dengan wajah jengkelnya.
" Ya waktu itu aku nggak inget kamu lah. Kan aku sengaja nutupin hubungan sama Pak Radit ke kamu. Masa tiba-tiba ngasih kamu pizza terus bilang ke kamu Di ini pajak jadian aku sama Pak Radit. Ya nggak mungkinlah. " Jawab Sya seraya tersenyum geli melihat wajah Dian yang kesal itu.
" Ya nggak gitu juga Sya, bilang aja lo lagi ada banyak rejeki terus beliin gue pizza, gitu aja kok repot. Gue jadi ragu kalo lo lulus dengan cumlaude waktu kuliah. " Ujar Dian kesal. Diambilnya minuman dingin yang ada di depannya agar otaknya kembali fresh.
" Haha, iya juga ya. Aku kok nggak inget sama sekali ya. Udah dong jangan ngambek gitu, iya iya ini aku yang traktir deh biar kamu nggak ngambek lagi. "
" Nggak mau, maunya pizza. " Jawab Dian jutek.
" Ya udah kalo nggak mau. Nanti minta pizzanya ke Pak Radit aja ya. " Ujar Sya dengan santai.
" Eehh mana ada begitu, nggak berani lah gue kalo minta ke Pak Radit langsung. " Dian kaget mendengar ucapan Sya.
" Ya terserah. " Sekarang gantian Sya yang menampilkan wajah juteknya.
" Iya deh iya, mau kok ditraktir ini aja. " Ujar Dian memelas.
" Udah nggak berlaku ya Di." Jawab Sya dengan santai.
" Yahh... " Dian melemas di kursinya, niatnya merajuk dan menolak rayuannya agar Sya memberikannya pizza malah dua-duanya tidak dapat sama sekali.
" Hahaha... Apaan sih kami Di. Udahlah makan aja, ini aku yang traktir. " Ujar Sya tertawa geli melihat raut wajah Dian yang sangat lucu itu. Dian memang orangnya sangat absurd, untuk itulah dia di kantor selalu menjadi moodboster untuk Sya.
" Beneran? " Tanya Dian memastikan.
" Nggak, boong aku tuh. "
" Ya beneran Dian. Udah ayo makan, keburu dingin lo nanti. "
" Makasih Sya sahabatku teruwu, terucul, dan ter ter lainnya. " Ujar Dian dengan wajah lucunya.
" Apaan sih Di. " Sya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Dian yang lagi-lagi sangat absurd itu. Tap mau bagaimanapun Dian, Sya tetap menyayangi sahabatnya itu.
Sya dan Dian menikmati makan malam mereka dengan tenang setelah tadi ada sedikit drama-drama pengakuan atas hubungan Sya dengan Radit.
drrtt... drtt... drtt...
" HP lo tuh Sya. " Ujar Dian menunjuk kearah ponsel Sya yang terletak di sampingnya.
Sya menolehkan wajahnya. Ternyata Radit yang menelfonnya.
" Pak Radit. " Ujar Sya kepada Dian.
Dian diam untuk mendengar pembicaraan Sya dan Radit.
" Hallo Assalamu'alaikum Mas. " Ucap Sya begitu dia mengangkat panggilan telfon dari Radit.
" Wa'alaikumsalam sayang. Kamu lagi dimana? " Tanya Radit dari sebrang telfon.
" Lagi di restoran Jepang yang ada di Mall Mas, kenapa? "
" Nggak papa, kangen aja sama kamu. Kamu lagi sama siapa? Masih sama temen kamu itu kan? " Tanya Radit lagi.
" Gombal banget kamu, iya ini masih sama Dian kok. Kamu sendiri lagi apa? Terus Kendra dimana? " Tanya balik Sya kepada Radit.
Dian yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum sendiri, ternyata Radit dan Sya sangat romantis. Padahal dulu Radit adalah salah satu laki-laki idaman Dian, tapi karena Radit sudah bersama Sya yang notabene adalah sahabatnya. Jadi ya sudahlah, toh Dian hanya menjadikannya pria idaman karena sifat dan parasnya, tidak betul-betul mencintai.
" Aku lagi duduk di kamar aja nungguin kamu telfon tapi ternyata nggak telfon-telfon. Terus sekarang Kendra lagi ada dibawah, main sama Mbok Inah kayaknya. " Jawab Radit dengan suara halus.
" Oo gitu, ya udah aku lanjut makan lagi ya. " Ujar Sya kepada Radit.
" Kamu mau maitiin telfonnya? "
" Iya Mas, kan aku mau makan dulu, nggak bisa dong makan sambil telfonan. " Ujar Sya menjelaskan.
" Yah... Padahal aku masih rindu loh." Terdengar suara Radit yang merajuk seperti Kendra, Ternyata sifat merajuk nya Kendra ini memang diturunkan langsung oleh Ayahnya.
" Mas.... " Panggil Sya dengan halus.
" Iya iya sayang. Ya udah kamu makan dulu aja, nanti pulangnya hati-hati ya. Jangan lupa kabarin aku kalo udah sampai kosan. " Radit menghentikan aksi merajuknya, karena sebenarnya dia hanya bercanda saja. Mana mungkin seorang Radit merajuk hanya karena hal yang sepele seperti ini.
" Iya nanti aku kabarin ya kalo udah pulang, Assalamu'alaikum Mas. " Sya mengakhiri panggilan telfon mereka.
" Wa'alaikumsalam sayang. "
" Iihhh kok Pak Radit jadi gemoy gitu sih pas sama lo, kemana tuh suara dingin dan wajah garangnya. " Ujar Dian tiba-tiba yang hanya ditanggapi senyuman oleh Sya.