
Malam hari, Sya masih setia menunggu kepulangan Radit yang sedang lembur. Sudah jam 10 malam, baby Rendra dan Kendra sudah tertidur sejak satu jam yang lalu. Sekarang Kendra sudah mau tidur di kamarnya sendiri karena Sya menemani bocah tampan itu sampai tidur.
Sembari menunggu Radit pulang, Sya memutuskan untuk membaca novel yang beberapa hari yang lalu di belinya secara online di e-commerce. Dan lagi-lagi seperti yang sudah-sudah, Sya juga kalap saat membeli novel. Niatnya hanya membeli 2 sampai 3 buku saja justru berlanjut hingga 10 buku.
Meskipun pada awalnya Sya masih terkejut dengan uang yang dia habiskan untuk membeli novel-novel ini, tapi akhirnya lebih tenang setelah dia berjanji untuk tidak membeli novel lagi dalam 10 bulan ke depan. Jadi hitungannya 1 novel untuk 1 bulan.
Tadinya Sya ingin menonton drama Korea yang belum dia selesaikan sejak kelahiran baby Rendra, tapi karena takut baby Rendra akan terbangun jadinya Sya memilih untuk membaca novel saja.
Hingga jam 11 belum ada tanda-tanda Radit pulang. Sebenarnya Sya sedikit khawatir setiap Radit pulang telat seperti ini, takut kalau terjadi sesuatu dengan laki-laki itu. Tapi Sya mencoba untuk positif thingking.
Dan benar, penantiannya membuahkan hasil. Tepat jam setengah 12 terdengar suara mobil Radit yang masuk ke halaman rumah.
Sya mengintip dari jendela, dan benar itu adalah Radit. Meskipun terlihat sedikit lesu, tapi itu semua tidak mengurangi kadar ketampanannya. Sya tersenyum melihat Radit, buru-buru dia keluar kamar untuk menyambut kepulangan suaminya itu.
Saat Radit membuka pintu tepat bersamaan dengan Sya yang turun dari anak tangga.
"Kok belum tidur sayang?" Tanya Radit kepada Sya. Pasalnya ini sudah larut malam dan biasanya Sya sudah tidur.
"Iya, aku nungguin kamu." Jawab Sya seraya menyalami Radit.
Radit membalasnya dengan mengecup dahi Sya.
"Anak-anak udah bobok semua?" Tanya Radit kepada Sya.
"Udah Mas... "
"Mau makan lagi enggak Mas? Kalau iya biar aku panasin lauknya." Ujar Sya kepada Radit.
"Enggak sayang, Mas masih kenyang, mau langsung mandi aja." Jawab Radit.
Tadi Sya memang sudah mengirim makan malam sesuai yang Radit pesan siang tadi.
Sya dan Radit berjalan ke kamar mereka. Seperti biasa selagi menunggu Radit mandi Sya menyiapkan piyama untuk suaminya. Untung saja besok weekend, jadi besok Radit bisa tidur sampai siang.
Sya melihat kearah jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 12 lebih, itu berarti sekarang adalah hari ulang tahun Radit dan Kendra.
"Mas habis ini ikut aku ke bawah ya." Ujar Sya begitu Radit selesai mandi.
"Ke bawah? Mau ngapain?" Tanya Radit kepada Sya.
Tidak biasanya Sya meminta di temani ke bawah.
"Ada lah pokoknya."
Dibantu Sya, Radit mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah rambutnya kering barulah Radit dan Sya bersama-sama turun ke bawah.
Sya mendudukkan Radit di kursi makan, sementara dia menuju lemari es untuk mengambil sesuatu yang sudah dia buat sejak siang tadi.
Radit yang sedang memainkan ponselnya tidak menyadari dengan apa yang Sya ambil.
"Selamat ulang tahun... " Ucap Sya.
Radit langsung menoleh kearah Sya, betapa terkejutnya dia saat melihat istrinya membawa Black Forest di kedua tangannya.
"Selamat ulang tahun Mas." Ucap Sya sekali lagi. "Semoga panjang umur dan sehat selalu. Semoga semakin menjadi ayah dan suami yang baik untuk anak-anak dan aku. Di usia Mas Radit yang semakin bertambah ini semoga kehidupan Mas berkah selalu." Tambah Sya. Senyum hangat tidak lepas dari bibirnya.
Radit merasa terharu mendengar penuturan Sya.
"Maaf ya Mas, aku enggak bikin surprise buat kamu. Soalnya aku enggak punya waktu buat nyiapinnya. Ini justru seadanya banget." Ujar Sya kepada Radit.
"Nggak perlu minta maaf sayang. Ini aja udah spesial banget buat aku. Asal aku bisa ngerayain momen ini sama kamu itu sudah lebih dari cukup." Jawab Radit seraya tersenyum. "Terima kasih sayang, ternyata kamu inget ulang tahun Mas, Mas sendiri justru lupa." Ujar Radit.
"Mana mungkin aku lupa sama hari spesial kamu Mas." Jawab Sya "Oo iya ini aku buat sendiri loh kuenya, karena tidak boleh tiup lilin, jadi kuenya langsung di potong aja ya." Sya meletakkan kuenya di depan Radit.
.
"Oo iya, wahh pasti enak banget nih. Makasih ya sayang." Radit memotong kue buatan Sya.
Setelah menidurkan kembali baby Rendra, Sya dan Radit ke kamar putra sulung mereka, Kendra.
Bocah laki-laki itu terlihat begitu pulas dalam tidurnya.
"Selamat ulang tahun sayang, semoga Abang menjadi anak yang sholeh, panjang umur dan jadi anak yang berbakti. Bunda dan Ayah sayang Abang." Ucap Sya dan Radit seraya bergantian mengecup dahi Kendra.
"Terima kasih selama ini sudah menjadi anak yang baik, Terima kasih sudah menjadikan Bunda sebagai Ibu untuk Abang." Bisik Sya di telinga Kendra.
Sya dan Radit sengaja tidak membangunkan Kendra, biarlah Kendra tetap tidur dengan nyenyak malam ini.
Sya sendiri sudah menyiapkan hadiah untuk Radit dan Kendra. Tapi besok saja Sya memberikannya.
"Jadi hadiah buat ulang tahun aku apa?" Tanya Radit kepada Sya. Sebenarnya ini hanya candaan saja, Radit tidak benar-benar berniat memintanya.
"Mas maunya hadiah apa?" Sya justru balik bertanya kepada Radit.
"Kamu." Jawab Radit seraya menatap Sya penuh makna.
"Aku?" Tanya Sya memastikan.
"Iya kamu." Jawab Radit menegaskan.
"Kenapa jadi aku?"
"Karena tidak ada hadiah yang lebih indah dari kamu sayang." Jawab Radit seraya tersenyum."Mas tau, kamu sudah selesai nifas dari seminggu yang lalu kan? Dan dibalik baju tidur kamu ini ada sesuatu yang selama ini Mas rindukan. Jadi sekarang ayo." Tanpa tedeng aling-aling Radit mengucapkan dengan begitu frontal. Hal ini langsung membuat wajah Sya seketika memerah malu. Meskipun ini bukan yang pertama kalinya, tapi tetap saja setelah sekian lama tidak melakukan *itu* Sya menjadi merasa sedikit takut.
"Kalau adek bangun gimana Mas?" Sya berusaha untuk menunda terjadinya malam ini. Padahal pakaian tidur ini sengaja Sya pakai sekarang memang untuk kejutan Radit, tapi melihat Radit yang seperti itu Sya justru menjadi takut sendiri. Bagaimana ini? Apa tidak bisa di tunda lagi? Tau akan begini Sya memilih memakai piyama tidur yang biasa.
"Enggak, adek kan anak pinter. Jadi sebelum kita selesai dengan kegiatan kita, dia enggak akan bangun. Percaya sama Mas." Jawab Radit santai.
"Tapi... "
"Sayang, Mas nunggu ini udah lama banget loh, dan inget nolak suami hukumnya.... " Radit menghentikan ucapannya.
"Dosa." Sambung Sya dengan tidak berdaya.