Baby... I Love You

Baby... I Love You
Ada Apa?



Setibanya di kosan, Sya langsung menuju kamar mandi. Sya butuh mendinginkan hatinya yang sejak tadi bergemuruh tidak karuan setelah mendengar ucapan Radit. Bukan bergemuruh karena cemburu, tidak bukan itu. Justru karena ucapan Radit yang begitu manis Kamu tau Maureen? aku sayang kamu. Bagaimana bisa Radit mengucapkan hal itu tanpa memikirkan keadaan hati Sya nantinya. Ditambah dengan senyumnya yang begitu manis.


" Benar-benar Direktur tidak tau diri, nggak sadar apa kalo waktu dan bilang begitu ditambah senyum gantengnya jadi naik 79%" Sya menggerutu sendiri sambil menyikat giginya.


Apalagi setelah mengucapkan itu Radit langsung pergi begitu saja meninggalkan Sya yang masih dalam keadaan terkejut. Kurang ajar sekali bukan, sudah membuat anak gadis orang salah tingkah dia justru pergi dengan seenaknya saja.


" Aahhh.... Aku sebel sama kamu. " Teriak Sya seraya menunjuk-nunjuk foto Radit yang baru saja pap.


Direktur Ganteng


Sayang aku sudah sampai rumah.


Hanya caption biasa tapi fotonya terlihat begitu luar biasa menyebalkan.


" Mbakk... Mbakk Sya kenapa? Kok teriak gitu. " Terdengar suara Dita yang mengetuk pintu kamarnya.


Astaga, Sya lupa kalo kamar kosnya tidak ada peredam suaranya. Dan kenapa juga dia teriak-teriak seperti tadi.


" Nggak papa Dit, lagi latihan vokal aja. " Jawab Sya dari dalam. Sya menjawab asal panggilan Dita. Untuk apa juga Sya latihan vokal, dia saja tidak bisa bernyanyi.


" Ooo... Aku kira Mbak Sya kenapa. " Jawab Dita yang ternyata masih ada di depan pintu kamarnya.


Sya lega karena ternyata Dita percaya dengan alasannya. Padahal Dita sendiri tau kalau Sya tidak bisa bernyanyi. Mungkin anak itu lupa.


Sya sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dan menonton drama korea yang sedang di mainkan aktor favoritnya, Lee min ho.


Tidak dia pedulikan pesan dari Radit. Sya malas membalasnya. Biarkan saja, toh pesannya tidak penting juga.


Hingga tidak terasa sudah masuk waktu sholat maghrib. Walaupun Sya sedang tidak sholat, dia langsung mematikan laptopnya untuk mendengarkan adzan hingga selesai.


Baru setelah adzan selesai Sya melanjutkan menonton filmnya. Saking fokusnya menonton hingga tanpa sadar membuat Sya tertidur dengan posisi duduk di sofa.


Sya yang tertidur belum lama, tiba-tiba terbangun setelah mendengar pintu kamarnya kembali diketuk. Kali ini oleh Pak Didin.


Tok... tok... tok...


" Mbak Sya... " Panggil Pak Didin dengan suara agak keras.


" Ya Pak, sebentar. " Sya beranjak dari tidurnya. " Ada apa ya Pak? " Tanya Sya masih dengan wajah mengantuknya.


" Ada Mas Radit dan nak Kendra di pos, nunggu Mbak Sya katanya. " Ujar Pak Didin memberitahukan alasan kenapa dia mengetuk pintu kamar Sya di jam segini.


" Mas Radit? " Tanya Sya dengan bingung. Rupanya nyawa Sya belum kumpul sepenuhnya, terlihat dari wajahnya yang masih sangat sayu.


" Iya Mas Radit. Pacarnya Mbak Sya kan? Bos Mbak Sya juga di kantor. " Jawab Pak Didin sengaja memperjelas maksud dari ucapannya.


Mendengar kata bos, seketika Sya melebarkan matanya. Nyawanya yang tadi baru terkumpul setengah tiba-tiba langsung masuk kedalam raganya penuh.


" Kenapa Mas Radit kesini? " Pertanyaan bodoh macam apa ini. Kenapa Sya harus menanyakan hal ini kepada Pak Didin yang sudah dapat dipastikan tidak akan tau.


" Saya kurang tau Mbak. Mas Radit kesini sama Nakal Kendra. Sudah menunggu sekitar 10 menit yang lalu. " Jawab Pak Didin.


" Oo.. Tolong bilangin ke Mas Radit ya Pak, saya mau cuci muka dulu. Bentar. Pak Didin ke pos dulu aja, ntar saya nyusul. " Kata Sya kepada Pak Didin.


" Oo gitu ya Mbak, ya sudah saya balik ke pos dulu. "


Setelah Pak Didin kembali ke pos, Sya menutup pintunya kembali. Kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Karena tadi hanya menggunakan celana tidur dan kaos lengan pendek, Sya melapisi tubuhnya dengan cardigan agar lebih hangat. Diambilnya ponsel yang tergeletak di meja dekat laptopnya. Ternyata ada 3 panggilan tak terjawab dan beberapa pesan yang semuanya dari Radit.


Direktur Ganteng


*Maureen, aku dan Kendra akan ke tempatmu. Kendra ingin makan malam bersama kamu katanya.


Maureen


Sayang, kok telfon aku nggak diangkat. Kamu marah sama aku? Emang aku buat salah apa?


Aku dan Kendra sudah ada dijalan*.


Setelah membaca pesan dari Radit, Sya segera keluar kamar untuk menemui Radit dan Kendra yang sudah menunggunya.


" Haii... Nunggu lama ya? " Sya bertanya dengan canggung saat tatapannya bertemu dengan mata Radit yang menatapnya dengan intens.


" Dunda kok tadi ditepon tidak di angkat sih? " Tanya Kendra begitu melihat Sya ada di dekatnya.


" Maafin Bunda ya sayang. Bunda tadi ketiduran pas lagi nonton. Nggak denger deh jadinya waktu Kendra telfon. " Jawab Sya menjelaskan. Tidak lupa juga Sya meminta maaf kepada Kendra karena tidak menjawab panggilan telfon dari bocah itu.


" Belalti sekalang sudah tidak ngantuk kan? Kan Dunda sudah bobok. " Tanya Kendra dengan polosnya.


" Iya nih, Bunda udah seger lagi matanya. " Walaupun sebenarnya saat ini Sya sedang merasa lelah, setelah seharian bekerja ditambah pas dengan jadwal datang bulannya membuat Sya lebih lemas dari biasanya.


" Belalti saatnya kita pelgi maem. Kendla udah lapel nih. Dunda juga lapelkan, pasti belum maem. Nanti kita maem Ayam goleng kakek. " Kendra sangat bahagia bisa makan malam bersama Sya dan Radit. Beberapa hari ini Kendra hanya makan bersama Mbok Inah dan Mbak Tinah karena Radit setelah pulang kerja hanya menemani Kendra bermain sebentar kemudian lanjut lagi mengerjakan pekerjaan.


" No. Jatah makan Ayam goreng kakek sudah habis Kendra. " Ujar Radit menginterupsi ucapan Kendra. Hal ini tentu saja membuat Kendra memanyunkan bibirnya. Sedangkan Sya hanya diam melihat interaksi sepasang Ayah dan anak ini. Sya tidak berani berbicara karena sedari tadi Radit seperti sedang marah kepadanya. Walaupun Sya sendiri tidak tau salahnya apa.


" Pak Didin saya dan Maureen pamit pergi dulu ya, saya usahakan sebelum jam 10 Maureen sudah saya antar pulang. " Ujar Radit berpamitan kepada Pak Didin.


" Iya Mas, Lagian batas jam malam memang sampai jam 10 kok. " Jawab Pak Didin.


Radit beranjak dari duduknya setelah berpamitan sama Pak Didin dengan Kendra yang ada di gendongan lengannya. Sya yang melihat Radit berjalan tanpa berniat untuk menatap kearahnya langsung mengikuti Radit. Namun sebelumnya Sya juga berpamitan kepada Pak Didin.


" Saya pergi dulu ya Pak. " Ujar Sya kepada Pak Didin. Kemudian melangkahkan kakinya sedikit cepat mengikuti langkah Radit.


Radit mendudukkan Kendra dikursi belakang seperti biasa. Setelahnya membukakan pintu untuk Sya, namun tetap tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sya segera masuk tanpa berkata karena dia sendiri semakin bingung dengan Radit. Kenapa sifat laki-laki ini begitu mirip bunglon yang dapat berubah-ubah dengan begitu cepat.


Setelah menutup pintu Sya, Radit segera masuk mobil dan duduk di kursi kemudinya. Membunyikan klakson sekali sebagai tanda untuk berpamitan kepada Pak Didin kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir kosan Sya.


" Ayah... Sekalang kita mau maem dimana? " Tanya Kendra dari belakang kursi kemudi.


" Terserah kamu. Kecuali Ayam goreng kakek. " Jawab Radit padat dan jelas.


" Kalo Dunda mau maem apa? " Tanya Kendra kepada Sya yang dari tadi hanya diam saja.


" Emang Kendra lagi pengen maem apa? Selain Ayam goreng kakek tapi. Kan nggak boleh sama Ayah. " Sya sedikit menekankan kata Ayah tapi tetap saja Radit tidak menoleh sedikitpun kearahnya.


" Eehhmm... Apa ya, Kendla mikil dulu deh. " Kendra memperagakan gaya seperti orang dewasa yang sedang berpikir dengan meletakkan jari telunjuknya di dahinya. Terlihat sangat lucu dimata Sya hingga dia tidak bisa menahan tawanya.


" Kendra, kamu kok lucu banget sih. Jadi pengen Bunda bawa pulang ke kosan buat nemenin Bunda marathon drama Korea. " Ujar Sya tertawa kecil.


" Tidak boleh, kecuali kalau kamu sudah nikah sama aku. " Jawab Radit santai tanpa menatap Sya sedikitpun.


" Malathon dlama kolea apa Dunda? " Tanya Kendra bingung.


Sedangkan Sya sudah tidak fokus dengan pertanyaan Kendra. Fokusnya sekarang kearah Radit yang sepertinya sedang marah kepadanya.


" Jadi Kendra mau maem apa? " Tanya Radit mengalihkan perhatian anaknya dari pertanyaan yang dia ajukan kepada Sya.


" Maemm sate boleh? "Tanya Kendra penuh harap.


" Boleh kok. Jadi kita maem sate ya. " Jawab Radit setuju.


Tidak biasanya Radit tidak bertanya mengenai makanan apa yang dia inginkan. Bukan berarti Sya ingin ditanya, hanya saja apakah kehadirannya sekarang ini nampak dimata Radit?


Entah kenapa ada perasaan sedih yang menghinggapi hatinya. Sepanjang perjalanan Sya terus memikirkan apa salahnya, namun tetap saja Sya tidak menemukannya. Bahkan kejadian terakhir mereka diparkiran basement kantor cukup manis. Tapi kenapa sekarang terasa berbeda? Apa yang salah dengannya.


" Ayah, mau ke pasal malam. " Ucap Kendra begitu mereka melewati sebuah pasar malam yang cukup ramai.


" Baiklah. " Jawab Radit seraya mengarahkan mobilnya kearah pasar malam itu. Lagi-lagi tidak menanyakan pendapat Sya apakah dia mau atau tidak. Sepertinya kehadiran Sya memang tidak nampak saat ini.


.


.


.


Terimakasih buat dukungan kalian semua 🤗💕