
Tiba harinya pembukaan cabang perusahaan. Selain Radit, Papa Riyan dan Mama Riana, Sya juga ikut hadir disana. Sya datang hanya berdua dengan Radit. Baby Rendra dia titipkan kepada Mbok Inah dan Mbak Tinah, sedangkan Kendra saat ini masih sekolah.
"Selamat ya Mas atas pembukaan cabang perusahaannya." Sya memberikan bucket bunga untuk Radit. Setelah acara selesai tadi, mereka langsung kembali ke kantor utama mereka.
"Terima kasih sayang, tapi jujur saja sebenarnya aku nggak terlalu suka sama cabang perusahaan ini. Karena cabang inilah yang membuat kamu pergi meninggalkan aku." Ujar Radit seraya membawa Sya kedalam pelukannya.
"Jangan gitu Mas, ini semua bukan salah cabang perusahaannya, tapi salah kamu yang nggak bisa bagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Salah aku juga yang udah egois terlalu memikirkan perasaan aku sendiri dan nggak memikirkan perasaan kamu." Sya juga membalas pelukan Radit.
"Iya aku juga ngaku salah. Maafin aku ya sayang." Radit semakin mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya itu.
"Aku udah maafin kamu Mas."
Sya dan Radit larut dalam pelukan mereka. Terutama Radit, laki-laki itu seolah enggan melepaskan pelukannya dari tubuh Sya.
"Mas... " Sya memanggil Radit.
"Hemm, kenapa?" Tanya Radit tanpa melepaskan pelukannya.
"Aku boleh main ke Divisi akutansi 2 nggak? Aku kangen sama mereka." Ujar Sya meminta izin kepada Radit. Sudah lama Sya tidak bertemu dengan teman-teman satu divisinya itu. Terkahir mereka bertemu ya saat Sya baru saja melahirkan baby Rendra.
"Gimana ya, nanti aku pikirin deh." Jawab Radit santai.
"Kok nanti sih? sekarang Mas, kan bentar lagi aku juga pulang. Mas nggak inget kalau aku ninggalin Rendra di rumah cuma sama Mbok Inah dan Mbok Tinah doang? Mereka pasti juga capek kalau disuruh bantu jagain Rendra juga." Ujar Sya sedikit kesal. Sya melepaskan pelukan Radit dari tubuhnya.
"Kok kamu marah sih sayang?" Tanya Radit tanpa merasa bersalah.
"Aku bukan marah, aku kesel sama kamu Mas, ya boleh ya aku main kesana, sebentar aja cuma 1 jam." Sya masih tidak patah semangat untuk bisa mendapatkan izin dari Radit.
"Tadi kamu bilang nggak mau lama-lama ninggalin Rendra, ya udah sekarang mending pulang aja.".Radit masih belum memberikan izinnya kepada Sya.
" Mas, please sebentar doang. Abi itu aku langsung pulang kok. Atau gini aja, aku bakalan lakuin apapun yang Mas minta." Sya menawarkan negosiasi demi mendapatkan izin dari Radit agar bisa menemui teman-teman satu divisinya dulu.
Mendengar ucapan Sya, senyuman langsung terpancar di wajah Radit. Sebenarnya Radit tidak langsung memberikan izin kepada Sya karena dia sedang menunggu hal ini. Sya akan melakukan apapun yang dia minta agar bisa bertemu dengan teman-temannya? Itu adalah penawaran yang amat sangat menarik untuk Radit.
"Beneran?" Tanya Radit kepada Sya.
"Iya bener Mas."
"Janji bakal nurutin semua yang Mas minta?"
"Iya janji."
Senyum di bibir Radit semakin mengembang. Kemudian dia maju satu langkah agar lebih dekat dengan Sya, kemudian membisikkan sesuatu di telinga istrinya itu.
Sya seketika membelalakan matanya mendengar ucapan Radit.
"Mas... " Sya terlihat keberatan dengan syarat yang Radit berikan. Benar-benar, kenapa suaminya itu sangat mesum?
Radit menaik turunkan satu alisnya untuk menggoda Sya.
"Gimana? setuju enggak? Kalau setuju kamu boleh langsung menemui teman-teman kamu. Tapi kalau kamu enggak setuju, ya sudah sekarang juga mending aku anter kamu pulang aja." Ujar Radit dengan santainya. Radit tau saat ini Sya tidak sedang dalam posisi bisa menolak permintaannya.
Sya menghela nafas pasrah sebelum dia menganggukkan kepalanya.
"Apa sayang? Jawab yang jelas." Ujar Radit menggoda Sya.
"Iya aku mau, tapi janji cuma 1 minggu. Kalau lebih dari itu bisa-bisa aku masuk angin Mas." Sya masih kesal dengan permintaan Radit.
"Oke deal, 1 minggu." Ujar Radit seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sya.
"Oke deal." Sya menjabat tangan Radit.
"Yakin cuma seminggu? Nanti tiba-tiba malah kamu yang minta jadi 2 minggu atau bahkan seterusnya."
"Mas ihh, udah diem." Pipi Sya saat ini benar-benar sangat merah karena menahan malu.
"Eitsss, tapi tunggu dulu. Inget disana jangan deket-deket sama laki-laki yang pernah suka sama kamu itu. Kalau Mas tau kamu deket-deketan sama dia, selamanya kamu enggak akan Mas ijinin buat ke Divisi akutansi 2 itu lagi." Ujar Radit dengan nada posesif. Ya, tentu saja Radit tidak akan melupakan kalau di divisi itu ada yang pernah naksir kepada istrinya.
"Maksud Mas, Mas Tio?" Tanya Sya tanpa rasa bersalah.
"Terserah namanya siapa, yang penting Mas nggak mau kamu deket-deket sama dia titik."
"Kenapa emangnya? Mas cemburu sama Mas Tio?"
"Ya menurut kamu aja Maureen." Ujar Radit seraya menekuk wajahnya.
Da sekarang disini Sya, di depan ruangan yang pernah menjadi ruang kerjanya, Divisi akutansi 2.
Tok... tok... tok...
Saat Sya membuka pintu, semua orang yang ada di dalam langsung menatapnya.
Sampai akhirnya....
"Sya... Ya ampun gue kangen banget sama lo. Sini masuk-masuk. " Tentu saja suara heboh itu berasal dari satu-satunya perempuan di ruangan ini, siapa lagi kalau bukan Dian.
"Haii, aku bawain kalian sushi loh." Sya mengangkat bingkisan yang dia bawa. Tadi sebelum datang kesini Sya memang sempat memesan sushi terlebih dahulu.
"Iya masuk Sya." Ujar Leo kepada Sya.
Sedangkan Tio hanya menatap Sya dengan pandangan yang sulit untuk di jelasin. Entahlah laki-laki itu sudah move on atau belum dari Sya.
Sya masuk ke dalam, Dian dan Leo langsung menghampiri Sya kemudian barulah disusul oleh Tio.
"Lo tumben ke kantor Sya? Atau jangan-jangan lo mau kerja di kantor lagi?" Tanya Dian kepada Sya.
"Enggak, aku enggak kerja lagi kok. Tadi aku abis nemenin Mas Radit di pembukaan cabang perusahaan terus mampir sini. Dan karena aku kangen kalian ya udah aku sekalian main aja." Ujar Sya menjelaskan.
"Lagian mana mungkin Pak Direktur ngebiarin istrinya buat kerja lagi." Ujar Leo. "Btw Sya, itu Sushi nya boleh di buka nggak? Gue laper soalnya." Tambah Leo.
Sebenarnya sebentar lagi memang jam istirahat, itulah alasan kenapa Sya membawakan Sushi untuk teman-temannya ini.
"Boleh dong, buka aja. Kita makan bareng-bareng." Jawab Sya.
Dengan semangat Leo langsung membuka Sushi yang Sya bawa.
"Giliran makanan aja cepet banget." Celetukan itu berasal dari Dian.
"Biarin, kayak yang ngomong enggak aja." Jawab Leo santai.
Berbeda dengan 2 orang yang selalu ribut itu, Tio tetap diam tidak terusik sedikitpun.
.
.
.
*Buat yang penasaran apa syarat yang Radit berikan buat Sya, silahkan temen-temen tebak sendiri karena aku tidak akan membocorkannya😂*
*Jangan lupa kritik dan sarannya, kasih tau aku kalau ada typo 🤗*
*Jangan lupa juga baca* ***Laras for Dani***, *pengen cepet-cepet 1 M☺*
***Terima kasih😘💕***