
Mungkin karena terlalu lelah bermain bersama Aurel, malam harinya Kendra tidur lebih cepat, tepatnya setelah mereka makan malam bersama. Tiba-tiba saja Kendra sudah tertidur di depan TV dengan Aurel di sampingnya.
" Kayaknya Kendra capek banget Bang, mending di pindah ke kamar aja. Aurel juga mau aku tidurin di kamar. " Ujar Raga kepada Radit.
Setelah pembicaraan siang tadi dengan Sya. Radit mencoba untuk berpikir lebih realistis. Rida saja percaya dengan Raga, suaminya. Masa dia yang menjadi kakak ipar tidak percaya dengan suami adiknya sendiri. Makanya sekarang Radit sudah bisa bersikap biasa saja seperti sebelumnya kepada Raga.
" Iya ini juga mau aku pindahin Ga. " Ujar Radit seraya mengangkat Kendra untuk tidur di kamarnya. Begitu juga dengan Raga yang segera membawa Aurel ke kamar Rida dulu.
" Ehhh, udah pada tidur ya? Kok cepet banget, masih sore padahal. " Ujar Rida yang baru keluar dari dapur bersama Sya.
" Kendra juga udah tidur Mas? " Tanya Sya yang melihat Radit membawa Kendra dalam gendongannya. Yang hanya di jawab anggukan oleh laki-laki itu.
" Kayaknya pada kecapean mereka yank. " Ujar Raga menjawab pertanyaan Rida.
" Tumben banget Aurel bisa tidur padahal belum *****. " Ujar Rida. Karena di usianya yang sudah 18 bulan ini bayi gemoy ini masih minum Asi dan biasanya Aurel tidak akan bisa tidur jika belum meminumnya.
" Ya nggak papa, jatah Aurel buat aku aja. " Jawab Raga seraya mengedipkan matanya dengan genit.
" Yank, maluuu jangan bahas itu... Liat tuh ekspresi Sya. Dia masih polos. Kalo Mas Radit beda lagi, jangan di pancing nanti dia pengen, kasian udah duda 3 taun. " Rida memarahi suaminya namun juga sekalian mengejek kakaknya itu.
Mendengar ucapan istrinya itu membuat Raga menjadi menahan tawa.
" Nggak usah bawa-bawa Duda. " Jawab Radit singkat.
Sya yang mendengarkan pembicaraan suami istri itu menjadi malu sendiri, pipinya memerah. Ingin rasanya dia menghilang dari hadapan mereka, ditambah disini ada Radit yang masih dengan santainya menanggapi ucapan Rida. Sya merasa tidak nyaman.
Akhirnya Rida dan Raga berlalu ke kamar mereka membawa Aurel agar bisa tidur lebih nyaman.
Sya akan berbalik dan duduk di sofa.
" Kamu mau kemana? " Tanya Radit kepada Sya.
" Ha? Aku mau duduk Mas. " Jawab Sya menoleh ke arah Radit.
" Temenin aku ke kamar. " Ujar Radit.
" Ngapain? Nggak ah, aku nggak mau. " Jawab Sya menolak permintaan Radit. Untuk apa dia ikut ke kamar? Setelah mendengar pembicaraan Rida dan Raga tadi membuat Sya menjadi berpikir negatif. Sya takut kalau tiba-tiba Radit khilaf.
" Kamu takut sama aku? Tenang aja aku nggak bakal apa-apain kamu. Aku masih waras Maureen. Ayo cepetan, aku nggak tanggung jawab kalo tiba-tiba Kendra bangun terus nyariin kamu yah. " Ujar Radit dengan santai namun tetap memaksa Sya untuk ikut dengannya.
" Ya udah iya. " Akhirnya mau tidak mau Sya mengikuti permintaan Radit. Karena kalau sampai Kendra bangun nanti maka rencananya untuk pulang ke kosan akan batal.
Radit membalikkan tubuhnya dengan tersenyum simpul. Sya menurut, dan Radit merasa bahagia. Sya mengikuti langkah Radit dari belakang untuk menuju kamar.
Dan benar saja, baru saja di tidurkan di ranjang Kendra membuka matanya.
" Bunda... " Panggil Kendra dengan lirih.
" Iya sayang, bobok lagi ya. Kendra ngantuk kan? " Ujar Sya kepada bocah kecil ini.
" Puk puk, Bunda sini. " Kendra masih memejamkan mata namun meminta Sya untuk tidur di sebelahnya.
Akhirnya Sya tidur di samping Kendra dan mulai mempuk-puk pantat Kendra dengan pelan.
Radit yang melihat pemandangan itu langsung mengalihkan perhatiannya dan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Radit mencoba untuk menghilangkan rasa ingin bergabung membaringkan tubuhnya di ranjang bersama Sya dan juga Kendra. Radit ingat Sya belum menjadi miliknya secara sah. Jadi yang dia bisa lakukan saat ini adalah menahan keinginannya itu.
Hampir 15 menit Sya menepuk-nepuk pantat Kendra akhirnya terlihat bocah ini sudah pulas. Sya beranjak dari ranjang dengan pelan agar Kendra tidak terganggu, kemudian menggantikan dirinya dengan guling agar bisa Kendra peluk.
" Mas... " Panggil Sya lirih.
" Hem.. " Radit mengangkat kepalanya dari ponsel dan menatap Sya.
" Udah yuk, aku mau pulang. Kendra juga kayaknya udah pules tidurnya. " Ujar Sya kepada Radit.
" Hemm... " Radit beranjak dari duduknya dan menghampiri Kendra untuk mencium kening Kendra seperti kebiasaan selama ini.
Setelahnya Radit dan Sya turun ke bawah. Disana ada Mama Riana dan juga Papa Riyan. Tidak terlihat keberadaan Rida dan juga Raga, sepertinya sepasang suami-istri masih di kamar.
" Ma Pa, Sya pamit pulang dulu ya. " Ujar Sya kepada orang tua Radit.
" Loh, nggak jadi nginep sini aja sayang? " Tanya Mama Riana dengan lembut.
" Enggak Ma, udah ditungguin sama temen-temen yang lain soalnya. Lagian ini juga masih sore. " Jawab Sya.
Sya mengulum tangannya untuk salim kepada Mama Riana dan juga Papa Riyan.
" Oo ya udah, hati-hati ya sayang. " Ujar Mama Riana seraya mencium pipi Sya dengan sayang.
'" Hati-hati ya nak. Kalo Radit macem-macem langsung laporin aja ke Papa. " Ujar Papa Riyan yang membuat Radit mendengus kesal. Memangnya dia mau macam-macam seperti apa?
" Iya Pa. Ya udah Sya pamit ya. "
Dalam perjalanan Sya menghubungi Dita dan Mbak Titik jika dia akan pulang sekarang.
" Jangan main HP terus. Aku cemburu sama HP kamu. " Ujar Radit seraya menggenggam tangan Sya halus.
" Ya ampun Mas, cemburu kok sama HP. Aku cuma lagi chatan sama Dita dan Mbak Titik. " Jawab Sya lembut.
" Tapi kamu jadi cuekin aku. " Ujar Radit memberikan argumennya.
" Kan aku nggak pernah ada niatan cuekin kamu. Itu semua pure nggak sengaja. "
" Sama aku juga nggak sengaja. " Jawab Sya santai.
" Yank.... " Ujar Radit kesal.
" Apa Mas? Ishh kok kamu jadi manja gitu kayak Kendra. " Ujar Sya tertawa melihat wajah menggemaskan Radit.
" Aku nggak suka kamu cuekin. "
" Iya, terus kamu mau apa? " Ujar Sya dengan halus. Bayi besar sedang manja mode on.
" Kamu cerita. "
" Lah aku harus cerita apa? Aku nggak punya cerita. " Sya bingung, maksudnya cerita apa coba?
" Ya udah nyanyi. "
" Nggak bisa Mas, suara aku fals. " Jawab Sya. Sebenarnya Sya bisa bernyanyi, hanya saja Sya tidak percaya diri kalo nyanyi di depan orang lain.
" Ya udah aku mau pegang tangan kamu aja. "
" Lah emang tangan aku dari tadi kamu pegangin Mas. " Ujar Sya seraya memutar bola matanya malas.
Radit hanya mengendikan bahunya santai.
Diperjalanan ini mereka melewati beberapa penjual makanan. Sya meminta Radit menghentikan mobilnya karena dia ingin membeli Martabak untuk teman-temannya dan juga Pak Didin.
" Mas, berenti dulu ya. Aku mau beli martabak dulu. " Ujar Sya kepada Radit.
Radit menganggukan kepalanya.
Saat Sya turun, Radit juga ikut turun mengikuti Sya.
" Kok kamu ikut turun? " Tanya Sya kepada Radit.
" Aku nggak mau jauh-jauh dari kamu. Selama ada kesempatan buat kita deket kenapa juga harus jauh-jauhan. " Jawab Radit seraya tersenyum tipis.
" Pak, Martabak coklat keju 3 box ya. " Ujar Sya kepada bapak penjual.
" Siyap neng, di tunggu sebentar ya. Silahkan duduk dulu. " Ujar Pak penjual mempersilahkan Sya dan Radit untuk duduk terlebih dahulu.
" Kamu sering beli disini? " Tanya Radit kepada Sya.
" Iya sering. Kenapa? "
" Nggak papa. "
Hampir setengah jam menunggu akhirnya pesanan Sya selesai.
" Ini Neng, totalnya jadi 120 ribu. "
Sya mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang. Namun sebelum itu sudah keduluan oleh Radit.
" Ini Pak, kembaliannya buat bapak aja. " Ujar Radit seraya memberikan uang 150 ribu.
" Ya ampun, makasih ya Mas. Semoga Mas langgeng sama istrinya sampe maut memisahkan. " Ujar Pak penjual dengan bahagia.
Sya yang melihat kejadian itu hanya melongo di tempatnya. Sedangkan Radit langsung tersenyum saat mendengar do'a yang di panjatkan penjual martabak itu kepadanya. Itu berarti dia berpikir jika Radit dan Sya adalah sepasang suami-istri.
" Ayo yank. " Radit mengajak Sya untuk bangun dari duduknya.
Dan entah bagaimana ceritanya Sya hanya menurut hingga mereka masuk ke mobil.
" Mas... Kok jadi kamu yang bayar sih. " Ujar Sya saat dia sudah tersadar dari rasa terkejutnya.
" Emang kenapa? " Tanya Radit santai.
" Kan aku yang mau bayar. "
" Apa bedanya? Uang aku juga uang kamu kan. "
Sudahlah, berdepat dengan Radit tidak akan membuat Sya menang.
" Yank, aku mau Martabaknya. " Ujar Radit kepada Sya.
Sya langsung mengambil satu kotak dan membukanya.
" Nih. " Ujar Sya memberikan sepotong martabak.
" Aku lagi nyetir yank, suapin. Aaa. " Radit membuka mulutnya.
" Kayak bayi aja. " Meski sambil ngedumel Sya menyuapkan Martabak ke Radit.
" Makasih sayang. I love You. " Ujar Radit seraya tersenyum lembut.