Baby... I Love You

Baby... I Love You
Pembagian pizza



" Ada apa ya Pak? Kok tumben banget ke kamar aku. " Tanya Sya begitu membuka pintu kamarnya.


" Itu Mbak, ada kiriman 20 box pizza dari Mas Radit. "


" Haaa 20 box pizza? " Tanya Sya kaget.


" Iya mbak, katanya buat pajak jadiannya Mbak Sya sama Mas Radit. " Jawab Pak Didin seraya tersenyum.


" Siapa yang kasih pajak jadian Mbak? " Tanya Dita yang samar-samar mendengar Pak Didin berbicara, namun hanya pajak jadian yang dia tangkap di telinganya.


" Ayo Mbak liat dulu dipos. " Ujar Pak Didin kepada Sya.


" Ikut. " Ternyata Dita sudah ada di belakangnya saat ini.


Sya dan Dita mengikuti Pak Didin ke pos satpam. Memang benar disana ada setumpuk box pizza. Sya dan Dita sampai melongo dibuatnya.


" Ini dari siapa Mbak? " Tanya Dita yang menyenggol lengan Sya karena Sya masih menatap berbox pizza itu.


" Dari Pak Radit. " Jawab Sya pelan.


" Oo jadi ini pajak jadiannya Mbak Sya sama Pak Radit? "


" Iya kayaknya. " Jawab Sya ambigu.


" Loh kok kayaknya? " Tanya Dita bingung. Mana ada orang jadian tapi kayaknya. Benar-benar jawaban Sya ini ada-ada aja.


" Ya karena aku ngrasa kita belum resmi jadian, kan aku belum jawab Iya ke Pak Radit. " Jawab Sya santai


" Lah terus pizza sebanyak itu buat apa ya Pak? " Sya justru bingung harus dia apakan pizza sebanyak itu.


" Ya kita makan aja atuh Mbak Sya. " Ujar Dita dengan semangat 45. Pasalnya Dita bahagia akhirnya dia tidak jadi mengeluarkan uang untuk makan malamnya kali ini. Beberapa potong pizza pasti akan membuatnya kenyang bukan?


" Entar dulu, biar aku telfon Pak Radit. " Untung saja tadi Sya membawa serta ponselnya saat akan keluar. Sya menyingkir agak jauh dari Dita dan Pak Didin untuk menghubungi Radit.


" Oke Mbak, cepetan ya. Aku udah laper lagi ini. " Ujar Dita tersenyum seraya menunjuk perutnya.


tut... tut... tut....


" Halo Maureen. " Sapa Radit dari sebrang telfon.


" Pak Radit, ini kok ada kiriman pizza sampai banyak banget gini. Kata Pak Didin, Pak Radit yang kirimin. " Ujar Sya langsung pada intinya tanpa mengucapkan halo terlebih dahulu.


" Kok Pak? Panggil Mas Maureen. " Ujar Radit membenarkan.


" Iya Mas Radit. " Jawab Sya tidak sabar menunggu jawaban Radit.


" Coba ulangi lagi pertanyaan kamu. " Tanya Radit yang membuat Sya kesal.


" Mas kenapa kirim pizza banyak banget? "


" Oo itu. Ya buat pajak jadian kita. Kata Pak Didin harus ada pajak berupa traktiran. Ya itu aku beliin buat semua orang yang ada dikosan kamu. " Jawab Radit santai.


" Ya tapi nggak sebanyak ini juga Mas, nanti jatohnya mubazir. " Ujar Sya.


" Ya kamu bisa bagi-bagiin ke yang lain Maureen. Udah sana kamu makan dulu. Nanti jangan lupa telfon lagi ya, inget janji kamu sama Kendra. bye Sayang. "


" Tapi Mas.... " Belum selesai Sya berbicara telfon sudah dimatikan secara sepihak oleh Radit. " Ish nggak sopan banget. " Ujar Sya menggerutu.


Sya kembali ke pos satpam dimana Dita dan Pak Didin berada.


" Itu jatah pizza kamu satu kotak Dita, ambil aja. " Ujar Sya kepada Dita.


" Beneran Mbak? Asikkk. " Dita langsung mengambil satu box pizza.


" Saya ambil satu juga ya Pak. Terus bapak juga ambil aja. Sisanya tolong bantu saya bagiin ke semua penghuni kos ya. " Ujar Sya kepada Pak Didin.


Setiap membagikan pizza kekamar teman-teman kos yang lain. Sya pasti selalu mendapat ledekan dari mereka yang membuat Sya hanya bisa tersenyum malu.


" Ciee akhirnya Sya taken juga. "


Dilain kamar lagi...


" Mbak Sya punya pacar Mbak, ini pajak jadiannya. " Ujar Dita menyahut.


" Dita... " Ujar Sya menyenggol lengan Dita.


" Alhamdulillah akhirnya Sya nggak jomblo lagi. Makasih lho Sya. "


Begitulah kira-kira percakapan yang terjadi setiap Sya mengetuk pintu untuk memberikan pizza.


Setelah membagikan pizza, Sya dan Dita kembali kekamar Sya.


" Makan yuk Mbak. " Ajak Dita kepada Sya.


" Ayokk. "


Sehabis isya Dita kembali ke kamarnya, dia ingat jika harus mengerjakan tugas kuliah yang besok sudah deadline.


" Aku balik dulu ya Mbak mau ngerjain tugas. Btw makasih buat pizzanya, aku kenyang parah sih ini. " Ujar Dita kepada Sya.


" Ya udah sana. Ini pizzanya kamu bawa aja, siapa tau laper lagi nanti malam. " Ujar Sya memberikan pizza yang memang lebih sangat banyak.


" Oke Mbak, bye Assalamu'alaikum. "


" Wa'alaikumsalam. "


Sepeninggalnya Dita, Sya menepati janjinya untuk video call dengan Kendra, kalau semakin malam Sya takut nanti Kendra malah sudah tidur.


tut... tut.... tut....


Saat sambungan video call diangkat, langsung saja wajah Radit memenuhi layar ponselnya.


" Halo Sayang. "


" Apaan sih Mas udah sayang-sayang aja. Kendra mana? Aku mau ngomong sama Kendra, kan aku udah janji mau video call dia. " Ujar Sya kepada Radit.


" Kendra dibawah sama Mbok Inah. Sekarang kamu video callan sama aku dulu aja. " Ujar Radit menampilkan senyuman cerahnya.


" Nggak mau ah, kan aku nggak ada janji buat video call sama kamu. Aku matiin aja ya, nanti aku hubungi lagi kalau Kendra udah sama Mas. " Ujar Sya.


" Jangan gitu dong, kamu marah sama aku karena kirim pizza kebanyakan? " Tanya Radit kepada Sya.


" Enggak, siapa juga yang marah. Mas nih suudzon. "


" Ya abis kamu nggak mau ngomong sama aku. " Tidak ada jawaban dari Sya. Sya hanya diam menatap Radit.


" Kamu udah makan? " Tanya Radit halus.


" Udah Mas, kan Mas kirim pizza sebanyak itu. Jelas aku udah makan. "


" Iya juga ya. " Hening beberapa saat. " Maureen, saya rindu sama kamu. "


" Apaan sih Mas. " Tanpa bisa dicegah pipi Sya memerah karena malu.


" Kok pipi kamu merah sih sayang. " Ujar Radit seraya tertawa geli.


" Enggak kok, aku emang pakai blush on makanya pipi aku merah. " Jawab Sya mengelak.


" Malem-malem kok pakai blush on, mau kemana emangnya sih pacar Radit ini. " Ujar Radit tambah menggoda Sya.


" Aku abi main make-up make-upan sama Dita tadi makanya pake blush on. "


" Hahaha... kamu ini ada-ada aja alesannya. " Ingin rasanya Radit mengacak rambut Sya, namun sayangnya tidak bisa karena mereka hanya video call saja.


" Hahaha... " Sya ikut tertawa mendengar alasan konyol yang dia ucapkan itu.


" Dundaaa...... " Kendra masuk kamar Radit dan langsung berteriak memanggil saat mendengar Radit sedang video call dengan Sya.


" Haii Kendra... kamu dari mana aja sayang? " Tanya Sya begitu wajah Kendra sudah mengambil alih bagian Radit.


" Kendla dali bawah main sama Mbok Inah, dali tadi Ayah senyum-senyum telus diajak bicala, nggak asik. " Ujar Kendra mengadu kepada Sya.