
"Cemburu." Jawab Sya singkat seraya menundukkan kepalanya.
Mendengar hal itu Radit antara antara senang tapi juga bingung. Senang karena Sya cemburu dengannya yang itu berarti tanda cinta, dan juga bingung karena Sya cemburu? Tapi cemburu sama siapa? Setau Radit dari tadi dia tidak memiliki interaksi apapun dengan wanita selain Sya. Lalu bagaimana bisa istrinya itu mendadak cemburu?
"Kamu cemburu? Kenapa bisa cemburu, kamu cemburu sama siapa?" Tanya Radit seraya menatap lembut Sya.
"Enggak usah dibahas ya Mas, iya aku tau aku salah. Tapii... " Sya semakin menundukkan kepalanya karena merasa malu dengan apa yang dia lakukan tadi. Bagaimana bisa dia cemburu dengan hal remeh seperti ini. Bukankah Sya tidak bisa mengatur mata setiap orang untuk melihat apa saja?
"Tidak, kita harus menyelesaikan segera. Aku tidak mau kalau hal seperti ini akan menjadi masalah dimasa yang akan datang. Jadi sayang, sekarang aku tanya, kamu cemburu karena apa?" Radit mengangkat dagu Sya dengan lembut agar mau melihat kearahnya. Ditatapnya wajah teduh Sya yang saat ini masih menolak untuk menatap kearahnya.
Sya masih diam tidak mau menceritakan yang sebenarnya.
"Sayang..." Panggil Radit dengan suara lembut.
Sya menatap kearah Radit seperti ragu untuk mengatakannya.
"Katakan saja, aku tidak akan marah." Ujar Radit menenangkan Sya.
Sya menarik nafas panjang sebelum menceritakan kenapa dia bisa sampai cemburu.
"Aku cemburu sama mbak-mbak yang jaga Abang waktu dia hilang di Timezone." Jawab Sya lirih namun masih bisa Radit dengar.
Mendengar jawaban Sya membuat Radit bingung.
"Mbak-mbak di Timezone? Aku bahkan enggak inget sama muka dia sayang." Radit sedikit tidak percaya Sya cemburu dengan wanita yang bahkan Radit sendiri tidak mengingat wajahnya sejak mereka keluar dari Timezone."Jadi, apa yang membuat kamu sampai cemburu sama dia?" Tanya Radit lembut.
"Dia liatin Mas kayak suka sama Mas gitu. Bahkan waktu aku bicara sama dia aku diabaikan. Padahal dia tau kan kalau kita Ayah dan Bundanya Kendra, tapi kenapa dia malah melakukan itu." Ucap Sya dengan kesal. Menceritakan itu membuat emosi Sya menjadi sedikit terpancing.
Radit tersenyum mendengar Laras bercerita, tidak menyangka kalau Sya bisa cemburu karena hal sepele seperti ini. Sebelum hamil baby Rendra bahkan sangat sulit untuk Radit membuat Sya cemburu. Tapi sekarang? Radit benar-benar merasa kalau Sya sangat mencintainya.
"Sayang dengerin aku, aku tidak peduli seberapa cantiknya dia ataupun wanita lain yang perlu kamu tau adalah aku tidak akan berpaling dari kamu." Ucap Radit. "Bagaimana bisa aku berpaling dan menghianati kamu kalau kamu saja rumah sekaligus dunia untukku." Radit menatap dalam mata Sya. "Aku bisa mati kalau aku meninggalkan duniaku."
Sya terdiam mendengar ucapan Radit. Seketika dia merasa spechles mendengar kalimat yang menurut Sya romantis itu.
"Tapi aku senang kamu cemburu, itu berarti kamu cinta sama aku." Ucap Radit seraya tersenyum menggoda Sya."Sering-sering cemburu, aku suka." Bisik Radit di telinga Sya.
"Jadi Mas suka kalau aku cemburuan?" Tanya Sya kepada Radit.
"Suka, tapi jangan yang sampe kamu cuekin Mas kayak tadi. Maunya kalau kamu cemburu kamu langsung bilang sama Mas." Ujar Radit seraya mencium puncak kepala Sya.
Sya tersenyum mendengar ucapan Radit, Sya pikir Radit akan memarahinya karena dia sudah cemburu tidak jelas seperti tadi. Tapi ternyata Radit justru suka kalau Sya cemburu.
"Udah enggak cemburu lagi kan sayang?" Tanya Radit seraya mengangkat Sya ke pangkuannya. Sya sedikit memberontak karena dia tau jika sudah seperti ini akan ada yang Radit lakukan kepadanya.
"Mas..." Sya berusaha untuk turun dari pangkuan Radit.
"Gimana caranya bisa bikin kamu seneng lagi?" Ujar Sya bertanya. Padahal Sya tau benar apa yang akan membuat Radit kembali senang.
Radit membisikkan sesuatu di telinga Sya.
Mendengar bisikan Radit seketika bulu kuduk Sya meremang.
"Tapi anak-anak lagi tidur Mas, gimana kalau mereka bangun terus cariin kita." Ujar Sya memberimu alasan.
"Bukankah itu bagus? Jadi kita memiliki banyak waktu." Jawab Radit enteng.
"Kalau adek bangun terus minta ***** gimana?" Tanya Sya kepada Radit.
"Kan aku tadi udah pesen sama Mbak Tinah kalau adek bangun terus minta ***** bisa ambil di ASI di freezer yang udah kamu pompa." Jawab Radit.
"Kalau Abang nanti bangun? Abang kan biasanya kalau bangun langsung cariin aku Mas." Sya masih tetap memberikan alasan untuk bisa menolak permintaan Radit.
"Abang aja tidur belum ada 1 jam, biasanya kalau Abang tidur siang bisa sampai 3 jam kan? Jadi kamu tenang aja, kita masih punya banyak waktu untuk melakukan itu." Radit benar-benar tidak membiarkan Sya mencari alasan untuk bisa lolos dari permintaan Radit.
"Tapii Mas, ini masih siang. Nanti malem kan bisa." Ujar Sya kepada Radit. Entah kenapa Sya mendadak menjadi gugup, padahal ini juga bukan pertama kalinya mereka melakukan itu.
"Memang apa bedanya siang sama malem? Enggak ada bedanya sayang. Kalau mau kita bahkan bisa melakukan pagi, siang, sore dan malam. Memangnya siapa yang membuat peraturan kalau melakukan itu hanya boleh malam hari? Tidak ada bukan." Jawab Radit santai. Karena mau seperti apapun Sya tidak akan pernah Radit biarkan lolos begitu saja tanpa melakukan apa yang Radit inginkan.
"Mas, tadi malem bahkan kita udah melakukan itu. Apa masih kurang?" Tanya Sya kepada Radit. Sebenarnya Sya malu menanyakan ini, tapi mau bagaimana lagi.
"Perlu kamu tau sayang, aku bahkan selalu ingin melakukannya setiap melihat kamu. Tapi aku tidak melakukan itu karena takut kalau itu akan membuat kamu merasa tidak nyaman." Radit membuka salah satu rahasianya.
Sya terkejut mendengar pernyataan Radit. Jadi selama ini?
"Makanya aku selalu tersiksa kalau kamu sedang dapat tamu bulanan. Terlebih kemarin waktu kamu habis melahirkan. Itu adalah hari-hari paling berat sejak kita menikah." Jawab Radit tanpa malu.
"Tapi kamu enggak jajan kan di luar sana?" Tanya Sya kepada Radit.
Radit tentu saja terkejut mendengarnya. Bisa-bisanya Sya menanyakan itu.
"Tentu saja tidak, mana mungkin aku melakukan itu. Tidak akan pernah. Jangan berpikir yang aneh-aneh." Ujar Radit seraya menyentil dahi Sya. "Lagian tadi kamu tanya gimana caranya buat aku seneng, giliran udah aku kasih tau kamu malah cari alasan terus. "
"Iya tapiii.... "
Belum selesai Sya mengucapkan kalimatnya Radit sudah lebih dulu membungkam bibir Sya dengan bibirnya.
"Nanti lagi ngomongnya, aku udah enggak tahan. Nanti malah keburu anak-anak pada bangun." Ujar Radit kepada Sya.