
" Diaann..... " Teriak Sya begitu masuk ke dalam ruangan tempatnya bekerja dulu. Terlihat disana ada Leo dan Tio juga.
" Ya ampun Sya... Gue kangen banget kesini. Ya ampun udah berapa lama lo ngilang tanpa kabar begini. " Ujar Dian heboh saat melihat Sya masuk dan mendengar Sya yang memanggil namanya.
" Heleh, hilang tanpa kabar apaan. Orang begitu aku resign dari kantor aja langsung hubungin kamu. Nggak usah ngada-ngada deh. " Ujar Sya tidak Terima dengan tuduhan Dian kepadanya.
" Sya sekarang jadi galak ya, padahal dulu lemah lembut banget. " Ujar Leo menyambung pembicaraan antara Sya dan Dian. Leo berjalan mendekat bersama Tio yang ada di sampingnya.
" Hey Sya, lama nggak ketemu. Apa kabar? " Tanya Tio kepada Sya. Terlihat sepertinya laki-laki itu sudah mulai berusaha untuk menghilangkan perasaannya kepada wanita yang ada di hadapannya itu. Biar bagaimana pun Sya sekarang adalah istri sah dari seorang laki-laki.
" Eeh Mas Tio, Alhamdulillah aku baik Mas. Mas sendiri gimana kabarnya? " Ujar Sya dengan ramah.
" Baik, Alhamdulillah aku baik kok. " Jawab Tio seraya tersenyum.
" Giliran Tio aja ditanyain kabar, sedangkan gue nggak sama sekali. Dilirik pun enggak. " Ujar Leo kepada Sya.
" Hahaha, bukan gitu Yo, kan aku tanyanya satu-satu. Ya udah kamu apa kabar? " Tanya Sya kepada Leo.
" Baik dong, kabar gue mah selalu baik. " Ucap Leo dengan tengilnya.
" Eehh, Sya disuruh duduk dulu baru diajak ngobrol kali, nggak liat tuh sekarang perutnya udah gede aja. Mau entar diomelin sama Pak Direktur karena ngajak bininya ngobrol sambil berdiri yang nanti malah buat Sya kecapean. " Ujar Dian mengingatkan. Perut Sya memang belum terlalu besar, tapi jelas terlihat kalau wanita itu sekarang sedang mengandung.
" Oo iya, baru sadar gue. Nggak nyangka ternyata lo udah tekdung. Bikin anak gimana sih caranya Sya? " Tanya Leo dengan kurang ajarnya. Langsung saja Tio yang ada di sampingnya menggeplak punggung Leo dengan keras.
" Aawww, sakit bege. Gue kan tanya karena gue nggak tau. Biar gue nantinya nggak salah arah. " Ujar Leo seraya meringis menahan rasa panas yang ada di punggungnya.
" Hahaha... " Sya hanya tertawa mendengar pertanyaan Leo. Ditambah juga dengan Tio yang memukul Leo membuat suasana menjadi sangat lucu. Entahlah selera humor Sya sekarang ini menjadi sangat receh.
" Mamam tuh geplakan Tio. Udah ayo Sya duduk dulu. " Ujar Dian mengarahkan Sya untuk duduk di sofa. Dan diikuti oleh Leo dan Tio.
" Ngomong-ngomong itu posisi aku kosong ya sekarang? " Tanya Sya memulai pembicaraan.
" Ya gitu, soalnya dari atasan juga katanya belum butuh pengganti lo. " Jawab Dian.
" Emang kalian nggak keteteran? Secara waktu aku masih kerja aja pekerjaan kita banyak banget. " Ujar Sya.
" Kadang di waktu-waktu tertentu ya keteteran Sya. Tapi karena sekarang Pak Sean juga bantu kita ya semua teratasi dengan aman dan nyaman. " Jawab Dian seraya mengedipkan matanya.
" Btw, kamu nggak akan kerja lagi kalau udah ngelahirin Sya? " Tanya Tio kepada Sya.
" Sebenarnya sih pengen kerja lagi, tapi karena kesepakatan aku sama Mas Radit kalo setelah aku hamil harus resign ya udah. Tapi nggak tau juga kedepannya gimana. " Ujar Sya menjawab pertanyaan Tio.
Mereka ngobrol hampir satu jam lamanya sebelum akhirnya waktu istirahat tiba. Tadinya Sya ingin mendatangi teman-temannya waktu istirahat saja. Tapi karena Radit tidak mau ditinggal makan sendirian, jadilah Sya datang kesini lebih awal atas saran dari Radit.
" Lo ikut kita makan siang kan? " Tanya Dian kepada Sya.
" Hehehe, sekarang enggak dulu deh. Soalnya Mas Radit nungguin. Lain kali deh kita makan siang bareng.. " Jawa Sya tidak enak menolak tawaran Dian. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus menemani sang suami.
Baru saja Sya menyelesaikan ucapannya pintu sudah terbuka menampilkan sosok Radit yang berjalan dengan begitu angkuhnya.
" Sayang, sudah waktunya makan siang. Ayo. " Radit membantu Sya beranjak dari duduknya.
" Di, Le, Mas Tio aku duluan ya, lain kali kalo ada kesempatan kita makan siang bareng. " Ucap Sya kepada teman-temannya dan tentu saja langsung mendapat anggukan. Sedangkan Radit tentu saja tidak mau repot-repot menyapa karyawan yang merupakan teman istrinya itu. Bahkan melirik pun tidak.
Setelah keluar dari ruangan yang dulu tempat Sya bekerja, Sya langsung memarahi Radit.
" Mas itu, kalau sama temen-temen aku mukanya jangan begitu kenapa sih. Agak ramahan dikit Mas. " Ujar Sya kepada Radit.
" Emang wajah ramah aku itu pengaruhnya apa sih? Ya aku kan emang gini. " Ucap Radit dengan santai. " Udah ah jangan marah-marah, nanti dedeknya malah ikut jadi tukang ambekan kayak Bundanya. Lagian senyum aku tuh cuma buat kamu sayang. Aku tidak suka beramah-tamah dengan orang lain yang justru nantinya malah membuat senyum aku terbagi kepada orang lain. " Radit melembutkan nada bicaranya. Dan jika sudah seperti ini tentu saja amarah Sya langsung tergantikan dengan senyuman salah tingkahnya.
" Mas ih, aku lagi marah kok malah digombalin sih. " Ujar Sya dengan pipi meronanya.
" Hahaha, gemes banget deh sama kamu. " Radit mengecup singkat bibir Sya. Sekarang ini mereka ada di parkiran berencana untuk pergi makan siang ke sebuah restoran.
" Mau makan dimana? " Tanya Radit kepada Sya. Biarlah Sya saja yang memilih tempat mereka makan siang ini.
" Eehhmm, dimana ya Mas. Tiba-tiba pengen ramen deh. " Ujar Sya kepada Radit.
" Boleh makan ramen, tapi janji jangan yang pedes oke? " Radit menyetujui permintaan Sya.
" Okee!!!. " Jawab Sya dengan semangat.
Tibalah mereka di sebuah restoran yang ingin Sya makan salah satu menunya. Dan seperti perjanjian awal, Sya tidak memesan ramen super pedas, hanya di level pedas saja. Itu pun bagi Sya sama sekali tidak pedas.
Mereka menikmati makan siang dengan bahagia. Tentu saja Radit bahagia karena makan siang kali ini ditemani sang istri setelah sekian lamanya. Sedangkan Sya tentu saja senang karena diperbolehkan untuk ikut ke kantor bertemu dengan teman-temannya.
Baru saja mereka keluar dari restoran, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggil Sya.
" Nak Sya... " Panggil suara itu.
Dan ternyata orang itu adalah Mama Ana, yang merupakan Mamanya Jero, dan tentu saja bersama Jero yang ada di sampingnya.
" Apa kabar, ya ampun udah lama banget kita nggak ketemu. Terakhir ketemu waktu kamu ikut arisan sama jeng Riana kan. " Ujar Mama Ana.
" Oo iya Tan, Alhamdulillah aku baik. Tante sendiri gimana kabarnya? " Tanya Sya dengan ramah.
Sedangkan Radit dan Jero sedang saling pandang saat ini.
" Oo iya ini suami kamu? Anaknya Jeng Riana yah? " Tanya Mama Ana. Padahal dia sudah tau sejak lama.
" Iya Bu, ini suami Sya. Namanya Mas Radit. " Jawab Sya.
Radit yang merasa sedang diperkenalkan langsung menjulurkan tangannya dan menampilkan wajah ramahnya.
" Radit Tante. " Ujar Radit ramah.
" Nggak nyangka Sya udah nikah sama kamu. Padahal awalnya Jeng Riana mau ngejodohin Sya sama Jero. Ternyata dia juga mau Sya jadi mantunya. " Ujar Mama Ana seraya tersenyum.
Berbanding terbalik dengan Radit yang langsung menghilangkan senyumnya. Namun secepat itu pula wajahnya kembali seperti semula.
" Hahaha, iya Tan. Ya karena Maureen memang jodoh untuk saya. Lihat, bahkan sebentar lagi kita akan memiliki seorang anak. " Jawab Radit mengelus perut Sya seraya menampilkan senyum pura-puranya. Sekarang Radit merasa menang.