
Setelah dipikir-pikir lagi, Sya tidak mau merepotkan Radit. Jadi apa dia harus pergi sendiri? Tapi dia tidak tau dimana ada perkebunan strawberry.
Dengan mengandalkan ponselnya Sya mencari perkebunan strawberry terdekat yang masih ada di Jakarta. Dan akhirnya dia menemukannya.
Sekarang Sya bingung bagaimana dia haarus meminta ijin kepada Radiit. Sya yakin kalau dia meminta ijin maka Radit akan langsung pulang dan pergi bersamanya, sekali lagi Sya hanya tidak ingin mengganggu pekerjaan Radit.
Sya memutuskan menghubungi Dita siapa tau dia mau pergi menemaninya. Masih ingat Dita kan? Itu loh mahasiswa yang dulu satu kosan dengan Sya. Meskipun mereka sudah jarang bertemu, tapi komunikaasi mereka masih lancar.
"Halo Dit, kamu lagi sibuk nggak?" Tanya Sya melalui sambungan telefonnya.
"Enggak Mbak, lagi free aja nih, soalnya kelas aku hari ini diganti minggu depan." Jawab Dita.
"Ya udah kamu siap-siap ya, nanti aku jemput. Hari ini temenin aku jalan-jalan mau kan?" Setau Sya, Dita paling tidak bisa menolak ajakan untuk jalan-jalan, terlebih yang geratisan.
"Dibayarin kan Mbak?" Tanya Dita seraya terkekeh di sebrang sana. Ya maklum sja, mahasiswa perantauan memang harus ekstra dalam menghemat keuangan, kalau belum dapat kiriman dan uangnya sudah habis maka hari selanjutnya dia hanya bisa makan mie dan telur saja.
"Tenang aja kalau itu." jawab Sya, dia sudah menduga kalau Dita pasti akan bertanya seperti ini.
"Oke kalau gitu aku siap-siap dulu." Ujar Dita.
Yes, akhirnya Sya memiliki teman untuk menemaninya pergi, sekarang yang harus dia lakukan adalah meminta ijin kepada Radit. Tapi itu bisa dilakukan nanti setelah dia dan Dita di perjalanan, kalau ijin sekarang Sya takut kalau Radit tidak mengizinkannya, atau justru laki-laki itu akan pulang dan pergi menemaninya.
Sya bersiap untuk mandi, nanti dia akan memesan taksi online saja untuk pergi.
1 jam kemudian, Sya sudah selesai bersiap. Dia langsung memesan taksi online untuk menjemput Dita di kosannya.
Perjalanan ke kosan lamanya ini membutuhkan waktu setidaknya 30 menit, sekarang Sya sudah ada di depan kosannya.
" Tunggu sebentar ya Pak, saya mau panggil temen dulu. " Ujar Sya kepada sang supir.
Sya turun dengan perutnya yang besar itu, dia bertemu dengan Pak Didin yang sedang duduk di dalam posnya.
" Assalamu'alaikum Pak Didin. " Sapa Sya kepada penjaga kosnya itu. Pak Didin yang melihat Sya langsung terkejut dan buru-buru keluar.
" Wa'alaikumsalam Mbak Sya, wahhh sudah lama nggak main kesini, sekarang sudah mau punya bayi aja. " Ujar Pak Didin. " Sudah berapa bulan Mbak? " Tanya Pak Didin.
" Sudah 7 bulan Pak, Pak Didin gimana kabarnya? "
" Alhamdulillah sehat Mbak. Oo Iya Mbak Sya ada keperluan apa kesini? " Ujar Pak Didin menanyakan tujuan Sya datang ke kosan lamanya ini.
" Mau jemput Dita Pak, tadi sudah saya WA katanya sebentar lagi. " Jawab Sya
Dan benar, tidak lama kemudian Dita keluar menggunakan setelan jeans seperti biasa.
" Haii Mbak, maaf nunggu lama ya. " Ujar Dita kepada Sya.
" Enggak, ini aku baru aja sampe. Ngobrol dulu sebentar sama Pak Didin. " Jawab Sya seraya tersenyum. Dita dia sudah Sya anggap sebagai adiknya sendiri, ingat bukan saat mereka begadang untuk menyelesaikan tugas kuliah Dita, itu adalah salah satu hal yang Sya rindukan di kosan ini. Sekarang mereka sudah tidak bisa melakukannya lagi.
" Ya udah kalau gitu kita pamit dulu ya Pak Didin. "Ujar Sya kepada Pak Didin.
" Duluan ya Pak. " Ujar Dita berpamitan.
Di mobil, Sya dan Dita bercerita mengenai banyak hal. Sudah lama mereka tidak mengobrol seperti ini. Dan tiba-tiba saja keinginan Sya untuk menikmati strawberry di kebunnya langsung hilang begitu saja. Sya ingin menghabiskan waktunya untuk sekedar jalan-jalan bersama Dita. Jarang-jarang dia memiliki waktu seperti sekarang ini.
" Mbak Sya udah bilang kan sama Mas Radit kalo kita pergi bareng. " Ujar Dita tiba-tiba saja bertanya. Dita sedari tadi sedikit heran karena tumben sekali Radit mengijinkan Sya pergi sendirian sejak kehamilannya ini.
" Astagfirullah, aku lupa Dita, untung aja kamu ingetin. Ya udah aku telfon Mas Radit dulu. " Ujar Sya.
Benar, Sya lupa memberitahu Radit kalau dia akan pergi bersama Dita.
Dengan was-was Sya mendial nomor Radit, dan di 3 dering pertama panggilan langsung di angkat oleh suaminya itu.
" Halo, kenapa sayang. " Tanya Radit kepada Sya memulai pembicaraan awal mereka.
" Halo Mas, eemmhh ini... Aku mau minta ijin. " Ujar Sya menjawab pertanyaan Radit.
" Minta ijin? Kamu mau minta ijin apa emangnya? " Tanya Radit.
" Aku mau minta ijin pergi sama Dita. Boleh kan? " Jawab Sya sekaligus meminta ijin kepada Radit.
" Pergi kemana? "
" Pergi jalan-jalan aja ke Mall, atau enggak makan. Ya girls time gitu. " Jawab Sya.
" Baiklah, tapi diantar Pak Agus ya. " Ujar Radit kepada Sya. Hal ini membuat Sya langsung tergagap di tempat.
" Ehmmm, tapi Mas, sekarang aku udah ada di taksi sama Dita. " Jawab Sya dengan takut-takut. Ternyata pergi tanpa ijin rasanya seperti ini, tidak enak.
" Jadi kamu pergi sebelum minta ijin ke aku? " Tanya Radit dengan nada datar yang membuat Sya langsung merasa merinding.
" Iya, maaf. Tapi cuma sekali ini aja kok. " Jawab Sya.
" Baiklah, kali ini aku maafkan. Tapi begitu sampai langsung kamu share lokasi ke aku. " Ujar Radit memberikan perintah.
" Iya nanti aku langsung share lock, makasih Mas, I love you. " Ujar Sya kepada Radit. Biasa jika wanita itu sedang melakukan kesalahan kepada Radit maka dia hanya harus membuat Radit menjadi senang. Dan ucapan kata cinta itu tentu saja langsung berpengaruh untuk merubah suasana hati Radit menjadi lebih baik.
Dan itu memang berhasil, tanpa sepengetahuan Sya laki-laki itu sedang mengulum senyumnya setelah mendengar Sya mengucapkan I love You, memang sejak tadi sebenarnya Radit sedang dalam suasana hati yang agak buruk.
" I love you too, inget jangan capek-capek. Nanti pulangnya mampir ke kantor saja, kamu perlu mendapat sedikit hukuman karena pergi tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada suami. " Ujar Radit kepada Sya.
" Iya nanti aku ke kantor. " Jawab Sya. Mengenai hukuman dari Radit, Sya tidak akan memikirkannya. Yang penting sekarang dia bisa pergi untuk jalan-jalan bersama Dita.
" Ya udah aku tutup dulu ya Mas, selamat kerja. " Ujar Sya sebelum memutuskan sambungan telefonnya.
" Wahhh... Bener-bener, kamu berani banget Mbak pergi tanpa minta ijin sama Mas Radit. " Ujar Dita takjub.
Sedangkan Sya langsung tersenyum bangga.