
Dan seperti yang Radit katakan, dia memegang janjinya untuk tidak meminta imbalan kepada istrinya itu. Sepanjang malam ini Radit dan Sya hanya saling berpelukan seraya membahas berbagai hal. Namun entah bagaimana ceritanya tiba-tiba Sya membahas sesuatu yang membuat Radit terkejut. Dan Radit sungguh merasa tidak nyaman dengan apa yang mereka bicarakan itu.
"Mas, kalau aku nggak bisa bertahan saat melahirkan dedek bayi gimana? Kamu mau kan merawat dia." Tanya Sya kepada Radit.
Radit yang mendengar ucapan Sya itu seketika terdiam. Entah bagaimana dia harus menjawabnya. Sebenarnya di dalam hatinya Radit juga merasa takut saat memikirkan tiba waktunya Sya melahirkan. Padahal sebenarnya Radit tidak memiliki trauma tersendiri dengan orang melahirkan. Saat Audrey melahirkan Kendra dulu Radit tidak merasa setakut ini, tapi ini sungguh berbeda. Radit merasa tidak siap jika harus melihat Sya kesakitan. Terlebih melahirkan adalah sebuah pertaruhan nyawa.
"Kamu ngomong apa sih sayang, aku nggak suka kamu ngomong begitu." Jawab Radit dengan suara datarnya.
Sya tersenyum mendengar ucapan Radit.
" Kita tetep harus membicarakan ini Mas, karena ada kemungkinan itu bisa terjadi. Dan Mas harus mempersiapkan semuanya." Ujar Sya kepada Radit.
" Kamu pasti lagi kecapean makanya ngomongnya ngelantur begitu. Denger sayang, kita akan merawat anak kita bersama-sama, aku tidak mau kalau harus merawatnya sendirian. Lagi pula kenapa kamu berbicara seperti itu, selama ini kehamilan kamu baik-baik saja, dan saat melahirkan pun akan tetap baik-baik saja. Aku akan meminta Andre untuk mencarikan dokter terbaik untuk membantu proses kamu melahirkan nantinya." Ujar Radit. Dia tidak mau mendengar apapun lagi dari mulut Sya jika itu mengenai bayangan Sya tentang bagaima dia akan menninggalkannya seorang diri. Tidak, Radit tidak akan pernah membiarkan Sya meninggalkannya.
"Sekarang lebih baik kita tidur, aku menginjinkan Rida untuk membawa Kendra bersamanya bukan agar kamu bisa membicarakan omong kosong seperti ini. Kamu dan anak kita pasti akan selamat. Kita akan membesarkan anak-anak bersama. KIta akan melihat mereka tumbuh dewasa sampai mereka mendapatkan pasangan masing-masing." Ujar Radit seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Sya.
"Iya aku nggak akan ngomong begitu lagi." Jawab Sya pada akhirnya. Sebenarnya Sya juga tidak tau kenapa dia bisa berbicara seperti itu. Mungkin karena kehamilan Sya yang semakin membesar membuat Sya cemas untuk melahirkan.
Hening tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua. Sya dan Radit berkelana dengan pikiran masing-masing.
"Tapi nanti aku lahiran normal aja ya Mas." Ujar Sya tiba-tiba.
Radit memejamkan matanya mencba untuk tidak membuatnya hilang kontrol dengan pembicaraan yang masih sama ini.
" Apapun itu jika sudah menjadi keputusan terbaik dari Dokter dan demi keselamatan kamu dan baby aku tidak akan melarang." Jawab Radit datar.
"Aku nggak mau kalau sampai harus caesar, aku pengen menjadi wanita seutuhnya dengan melahirkan normal." Ujar Sya seraya memainkan dada bidang Radit yang memang sedang tidak berbalut apapun.
" Maureen, dengerin aku... melahirkan normal ataupun caesar bagi aku itu sama. Kamu berjuang dengan mempertaruhkan nyawa kamu demi nyawa yang baru. Tidak ada mana yang lebih baik atau buruk. Yang terbaik adalah yang bisa membuat kamu tetap selamat saat melahirkan nanti. Dan aku akan mengambil keputusan yang terbaik nantinya." Jawab Radit dengan suara tegasnyas.
"Tapi nanti kalau kamu di beri pilihan untuk memilih aku atau adek bayi nantinya agar salah satunya bisa bertahan, kamu harus milih adek bayi ya." Ujar Sya yang semakin membuat Radit tidak nyaman. Kenapa pembicaraan seperti ini harus terjadi. Kalau tau akan begini lebih baik Radit tidur di lantai seperti biasa dan tetap membiarkan Kendra tidur di pelukan Sya. Sekarang Radit merasa menyesal sudah mengijinkan Kendra untuk ikut bersama Rida.
"Aku akan memilih kalian berdua, tidak akan aku pilih salah satunya. Kalian semua akan selamat. Sekarang diam dan tidur. Kamu terlalu lelah hingga berbicara melantur seperti ini." Jawab Radit final.
Sya terdiam hingga tanpa sadar membuatnya langsung tertidur, meninggalkan Radit yang masih berkelana dengan pikirannya sendiri setelah tadi terlibat pembicaraan yang begitu menguras emosinya. Tapi tentu saja Radit tidak bisa memarahi Sya, dia pikir ini adalah salah satu hormon kehamilan Sya yang membuat istrinya itu menjadi over thinking.
Hingga menjelang dini hari Radit tidak bisa tidur. Setelah pembicaraan antara dirinya dan juga Sya, Radit menjadi terus memikirkannya. Baayangan akan Sya yang pergi meninggalkannya membuat Radit terus kepikiran.
...~~~...
Entah jam berapa Radit tertidur tadi malam, yang jelas saat ini Sya sedang mencoba untuk membangunkannya.
"Mas ayo bangun dulu, udah waktunya sholat shubuh. Mas udah ditunggu Ayah di bawah." Ujar Sya seraya mengusap lembut pipi Radit. Tangan istrinya itu terasa sangat dingin. Hal ini membuat Radit langsung membuka matanya.
Terlihat Sya yang menggunakan mukena putih menatap kearahnya seraya tersenyum lembut. Wajah Sya terlihat lebih bercahaya di bandingkan biasanya.
Radit merasa ada sesuatu yang aneh di dalam diri Sya saat ini. Setau Radit mukena yang Sya gunakan tadi malam berwarna hijau. Jadi apa Sya mencuci mukenanya dan meanggantinya dengan yang berwarna putih?
"Ayo Mas, kok kamu malah bengong begitu sih. Ayah udah nungguin di bawah loh." Ujar Sya sekali lagi.
Entah kenapa Radit hanya bisa menatap Sya. Radit ingin menanyakan banyak hal kenapa Sya terlihat begitu berbeda pagi ini.
"Cepetan ya Mas, aku mau liat adek dulu, kayaknya dia bangun deh." Ujar Sya seraya beranjak dari sisi ranjang meninggalkan Radit yang masih berbaring di tempat tidurnya.
Radit terus mengikuti kemana langkah Sya pergi. Dan langkah Sya terhenti di pinggir sebuah box bayi berwarna putih dengan kelambu yang menutupinya. Kemudian tatapannya beralih kepada sisi ranjang yang ternyata terdapat Kendra yang masih tertidur pulas.
Tatapan Radit beralih kepada Sya lagi setelah mendengar tangisan bayi. Radit begitu bingung saat melihat Sya sedang menggendong seorang bayi. Bukankah usia kandungan Sya baru memasuki 7 bulan? Lalu kenapa sudah ada seorang bayi disini?
Radit beranjak dari tidurnya dan berjalan menghampiri Sya. Sedangkan Sya yang menyadari kehadiran Radit langsung tersenyum manis.
" Ini adek Mas, aku titipin ke kamu ya...Didik dia dan abang agar menjadi anak yang sholeh dan pintar. Aku yakin kamu pasti bisa." Ujar Sya seraya menyerahkan bayi itu kepada Radit.
Radit menatap sang bayi yang terlihat tidur dengan lelap itu, tapi saat tatapannya beralih kepada Sya, istrinya itu sudah tidak ada.
Mata Radit mengitari seluruh kamar, tapi tetap dia tidak bisa menemukan dimana keberadaan Sya.
"Maureen... kau dimana?" Ujar Radit sedikit berteriak, tapi sayang tidak ada jawaban dari istrinya itu.
"Maureen, jangan becanda... Aku akan marah kalau kamu becanda seperti ini." Ujar Radit lagi, tapi keadaan tetap saja hening tanpa ada tanda jika Sya ada di sana.
"MAUREEENN.... MAUREEENNN...." Radit berteriak memanggil nama Sya.