
Setelah pernyataan perasaan yang Radit lakukan kepada Sya itu, kemudian terjadi keheningan lagi. Sya seperti tidak tau harus menjawab apa.
" Jadi bagaimana Sya? Makan kamu memberikan saya kesempatan." Ujar Radit kepada Sya yang terlihat hanya diam.
" Ehhmmm... bisa saya pikirkan dulu Pak? " Tanya Sya dengan ragu.
" Oke.. kamu pikirkan saja dulu. Saya tidak mau kalau kamu malah terpaksa nantinya saat menjalin hubungan dengan saya." Jawab Radit memaksakan senyumnya. Sebenarnya jauh didalam hatinya, Radit sangat ingin memaksa Sya menerima dirinya. Namun sekali lagi Radit tidak ingin menjadi seseorang yang egois karena jika Radit yang dulu maka dia tidak akan menerima sebuah penolakan.
" Saya pikirkan dulu ya Pak. " Ujar Sya menunduk.
" Jangan menunduk terus, saya jadi merasa kalau kamu takut sama saya. " Ujar Radit terkekeh geli.
" Iya Pak. " Sya memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya lagi.
" Maureen, boleh nggak kalo jangan panggil saya Pak. Panggil Mas atau apapun yang kamu suka. " Ujar Radit kepada Sya.
" Tapi nanti kalau ada yang denger gimana Pak? Kan nggak sopan jadinya. " Tanya Sya. Pasalnya dia tidak ingin teman-temannya tau jika dia memiliki hubungan spesial dengan atasan mereka.
" Kamu panggil Mas kalo kita sedang berdua seperti ini, kalau di kantor kamu boleh panggil saya Pak seperti biasanya. " Jawab Radit memberikan pengertian.
" Tapi kalo saya panggil Mas tapi bahasa kita masih formal kan jadinya malah aneh Pak. "
Benar yang dikatakan Sya. Penyebutan kata saya rasanya terlalu formal jika digunakan dikehidupan sehari-hari.
" Sekarang aku-kamu. Jangan lagi ada kata saya jika kita tidak sedang dikantor." Ucap Radit dengan lembut.
" Iya Mas. " Jawab Sya pelan.
" Sekali lagi. " Ujar Radit kepada Sya.
" Sekali lagi apa? " Tanya Sya bingung.
" Sekali lagi panggil Mas. " Jawab Radit antusias.
" Iya Mas. " Ujar Sya tersenyum geli.
" Sekali lagi. "
" Iya Mas. "
" Sekali lagi. "
" Udah ah, apaan sih kayak yang apa aja deh dipanggil Mas aja bahagia banget, Mas Fardan aku panggil Mas biasa aja tuh. " Ujar Sya dengan wajah cemberut. Dia sebal disuruh memanggil Mas terus menerus kepada Radit.
" Aku suka kamu panggil Mas. " Jawab Radit tersenyum.
" Hahaha... " Sya hanya tertawa kecil mendengar penuturan Radit ini.
" Pak... " Panggil Sya tanpa sengaja.
" Mas Maureen, bukan Pak. Kita saat ini sedang hanya berdua. Kamu harus panggil aku Mas. " Ujar Radit memperingatkan Sya dengan tegas.
" Iya Mas. Mas Radit. Puas. " Jawab Sya malas.
" Puas, sekarang kekasih aku ini mau tanya apa? " Tanya Radit mengelus rambut Sya yang masih dikuncir satu. " Kamu rambutnya jangan diiket satu dong kalau kekantor. " Ujar Radit kepada Sya.
" Eehh... Kenapa? Jelek ya kalo rambut aku diiket? " Tanya Sya dengan polos.
" Bukan jelek, tapi aku nggak suka ada laki-laki lain yang liatin leher jenjang kamu ini." Ucap Radit dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin.
" Issh... Belum jadi pacar aja udah posesif, gimana kalau Mas Radit jadi pacar aku. " Ujar Sya mendengus kesal.
" Bukan posesif. Aku kan cuma memberikan pendapat aja. Lagian leher kamu cantik, jadi mending ditutupin aja. " Ujar Radit memberikan alasan. " Jawabnya jangan besok dong, sekarang aja. Mau kan kamu jadi kekasih aku? " Tanya Radit sekali lagi.
" Apaan sih Mas. Mas Radit tuh kayak ABG baru pacaran aja. " Jawab Sya malas.
" Tadi kamu mau tanya apa? Mas lupa kalo tadi kamu mau tanya sesuatu kan? " Tanya Radit kepada Sya. Dia ingat jika Sya tadi memanggilnya untuk bertanya sesuatu.
" Apa ya, lupa aku. " Jawab Sya.
" Coba diinget-inget dulu. Mas penasaran kamu mau tanya apa. " Ujar Radit kepada Sya.
" Bentar aku inget-inget dulu. "
Semenit....
Dua menit....
" Oo Iya, aku inget. Mas Radit kok panggil aku Maureen? Udah jelas semua orang manggil aku Sya. Bahkan keluarga aku juga panggilnya Sya. " Pada awalnya Sya merasa biasa saja setiap Radit memanggilnya Maureen karena mungkin Radit tidak tau nama panggilannya. Namun saat semua orang kantor sudah memanggilnya Sya, Radit justru tetap memanggilnya Maureen. Tentu saja dia penasaran, apa sebegitu tidak inginnya Radit mengenal dirinya? Karena panggilan Maureen terasa sangat asing bagi Sya.
" Ooo itu. Aku cuma ingin yang spesial aja. Disaat yang lain panggil kamu Sya. Aku ingin menjadi yang berbeda namun spesial. Aku suka nama kamu. Maureen, cantik seperti orangnya. " Entah dari mana Radit menemukan kata-kata yang terdengar seperti gombalan menurut Sya.
" Hahaha... " Sya justru tertawa.
" Kok kamu malah ketawa? Aku serius lho. Aku ingin memanggil kamu spesial dibandingkan yang lain. " Ujar Radit bingung melihat Sya yang justru tertawa.
" Iishh, aku baru tau kalo Mas Radit itu pinter gombal ternyata. Udah berapa banyak cewek yang Mas gombalin? " Sya masih terkekeh geli.
" Kok gombal sih, Mas serius Maureen. " Radit berkata dengan raut wajah yang serius.
" Eehh Mas nggak lagi gombal ya? " Tanya Sya. Seketika Sya langsung mengatupkan bibirnya saat melihat Radit yang terlihat serius.
" Aku pacaran hanya sekali, itupun hanya dengan almarhumah mantan istriku. Tidak ada gadis yang pernah aku gombali. Begitu pula dengan Audrey. " Jawab Radit dengan wajah seriusnya.
" Iya aku percaya. " Sya lebih memilih mengatakan itu dibandingkan harus berargumen lagi. Dia takut melihat Radit dengan wajahnya yang datar terlihat seperti sedang marah.
Radit yang menyadari jika Sya ketakutan karena dirinya langung melemaskan otot wajahnya.
" Jangan takut, aku nggak marah kok. Aku cuma pengen kamu percaya aja makanya muka aku jadi serius. Kalau muka aku nggak serius takutnya kamu nggak percaya. " Radit tersenyum lembut untuk menenangkan Sya yang kembali menunduk.
" Beneran nggak marah? " Tanya Sya tidak percaya.
" Iya beneran. Coba lihat sini. Muka aku marah nggak? " Radit menampilkan senyuman manisnya yang biasanya membuat wanita langsung jatuh hati seketika.
" Iya, nggak marah. " Jawab Sya pelan.
" Haha.. " Radit tertawa kecil seraya mengelus rambut Sya. " Kamu tau nggak nama kamu dikontak HP aku apa? " Ujar Radit kepada Sya.
" Apa? Maureen? Maureen staf akutansi? atau Maureen divisi 2 akutansi? " Sya menebak pertanyaan yang diajukan oleh Radit.
" Bukan, salah semua. " Jawab Radit.
" Terus apa? "
" Nih kamu buka sendiri. " Radit memberikan ponselnya kepada Sya dan diterima gadis itu dengan sedikit ragu.
Sya mengeluarkan ponselnya untuk mengubungi nomor Radit.
Bunda Maureen
Sya tersenyum kecil melihat nama kontaknya di ponsel Radit. Entah mengapa dia merasa kalau Radit itu laki-laki yang romantis.
" Sejak kapan? " Tanya Sya kepada Radit.
" Sejak awal aku nyimpen nomer HP kamu. " Saat menjawab tanpa sengaja Radit melihat namanya dikontak ponsel Sya yang masih melakukan panggilan pada ponselnya.
Direktur Galak
" Kamu namain kontak aku Direktur Galak? " Tanya Radit dengan suara terkejut.