Baby... I Love You

Baby... I Love You
Kebenaran



" Memang kenapa? Sya juga tidak pernah keberatan kok setiap Mama atau Kendra telfon. Kamu aja yang pikirannya selalu nethink. Makanya kalo apa-apa tuh dicari dulu kebenarannya. Jangan asal berasumsi. Dan juga kalau kamu patah hati itu jangan malah dilampiasin ke Kendra. Emang Kendra tau apa soal patah hati kamu itu. Patah hati sih boleh, tapi otak mesti harus jalan." Ujar Mama Riana ketus.


Radit diam saja mendengar ucapan Mamanya. Yang Mama Riana katakan memang ada benarnya. Dia yang sedang patah hati kenapa justru melampiaskannya kepada Kendra, bukankah Kendra memang tidak tau apa-apa.


" Eehhh tunggu-tunggu, tadi Mama bilang apa? Aku patah hati? Yang benar saja kalau bicara. Siapa juga yang sedang patah hati. Aku hanya kesal saja kepada Maureen. Dia tidak berterus terang saat menolak lamaranku kalau dia sudah mempunyai pasangan. Aku hanya merasa dibohongi. Dan tentu saja karena dia tanpa sadar sudah memberikan harapan palsu kepada Kendra. Harapan palsu? Tunggu, Maureen bahkan tidak mengatakan apapun mengenai kesiapannya menjadi Bunda untuk Kendra. Lalu apa ini? Apa aku yang sudah terlalu berharap kepadanya? " Radit merasa pusing dengan jalan pikiran dan hatinya. Ini terasa sangat membingungkan. Dia saja tidak tau apa yang dia rasakan saat ini, dan juga apa yang dia inginkan. Namun yang Radit tau pasti adalah bahwa dia menginginkan Sya untuk menjadi Bundanya Kendra. Mengenai perasaannya? Radit sama sekali tidak tau, yang pasti dia merasa marah saat melihat postingan Sya sedang bersama laki-laki lain.


" Ngelamun aja terus sampe anak gajah bisa terbang. Kamu tuh kebiasaan tau nggak, main ambil kesimpulan sebelum tau yang sebenarnya. Ngurusin masalah perusahaan aja jago, tapi ngurusin diri sendiri enggak bisa." Ujar Mama Riana kesal karena ucapannya yang panjang kali lebar itu tidak mendapat respon apapun dari Radit.


" Kendra sini, ayo kita telfon Bunda Sya. Katanya kangen, Eehh Bunda lagi apa yah." Ujar Mama Riana menaikkan Kendra ke pangkuannya.


" Dunda pasti lagi maem, ini kan sudah siang. Matahalinya udah panas sekali." Jawab Kendra dengan polos. Yang membuat Mama Riana terkekeh geli.


Mama Riana langsung menghubungi Sya melalui video call.


tutt.... tutt.... tutt....


" Hallo, Assalamu'alaikum Kendra." Ujar Sya membuka percakapan dengan ceria.


" Waikumsalam Dunda. Dunda lagi apa? Kendla lagi duduk sama Oma. Kendla tuh kangen tau sama Dunda. Katana kita mau main ke Timezone lagi. " Ujar Kendra dengan wajah yang cemberut. Namun itu justru membuat Sya menjadi tertawa karena sakiing gemasnya.


" Kamu lagi dimana Sya? Mama liat kayaknya itu lagi direstoran sushi di Mall kota yah? " Tanya Mama Riana yang melihat ada seperti logo sushi terkenal dibelakangnya.


" Iya Ma, ini Sya emang lagi di Mall lagi makan sushi. " Jawab Sya tersenyum.


" Dunda lagi maem sushi? Tuh kan Oma, Dunda kalo matahalinya udah panas sekali pasti lagi maem. " Ujar Kendra kepada Omanya.


" Dunda maem setiap saat Kendra, enggak mesti nunggu Mataharinya panas sekali. " Jawab Sya seraya tertawa. Sekarang Sya sudah menghilangkan kata Tante didepannya menjadi hanya Dunda karena Kendra sempat memprotes panggilan itu kepadanya.


Di sofa sebrang Mama Riana dan Kendra, Radit terlihat seperti sedang fokus dibalik ponselnya. Namun siapa sangka jika kefokusannya itu justru untuk menguping pembicaraan antara Kendra dan Sya. Hanya saja dia tidak mau terlihat seperti sedang menguping. Meski begitu, Mama Riana tetap tau gerak-gerik anaknya itu. Sifat Radit itu seperti Papanya yang sangat gengsian mengakui sesuatu, untuk itu Mama Riana sudah sangat paham dengan hal seperti itu.


Sambil tersenyum simpul Mama Riana bertanya kepada Sya.


" Kamu makan di Mall sendiri Sya? " Tanya Mama Riana. Seketika Radit langsung menajamkan telinganya untuk dapat lebih jelas mendengar jawaban dari Sya.


" Enggak Ma, ini sama kakak aku. Namanya Mas Fardan. Yang tadi Mama tanyain dipostingan aku itu lho. " Ujar Sya menjelaskan.


" Ooo jadi itu Mas kamu, pantes aja mirip ya. Mama tadi ngiranya Masmu itu pacar kamu lho." Mama Riana sengaja mengeraskan suaranya agar Radit dapat mendengar. Dan ya seperti yang sudah diduga, Radit terlihat sudah mengendurkan otot wajahnya. Emosi yang tadi seakan menyelimuti dirinya entah hilang kemana.


" Dit, kamu kenapa senyum-senyum sendiri? " Tanya Mama Riana sengaja memancing anaknya itu.


" Eehhh... Siapa yang senyum-senyum. Orang aku lagi main game. " Ujar Radit berusaha mengelak.


" Main game kok nggak ada suaranya, kamu kan nggak pake headset." Ujar Mama Riana masih berusaha mencecar Radit agar mengakuinya.


" Ya... ya karena aku silent, iya aku silent kok suaranya. ". Jawab Radit masih tetap mengelak.


Setelahnya Mama Riana hanya diam saja. Sudahlah biarkan saja, dia malas dengan Radit yang selalu saja bisa mengelak mencari alasan.


" Kendra mau kenalan nggak sama Om Fardan? " Ujar Sya menawarkan kepada Kendra yang sedari tadi berceloteh riang menceritakan segala sesuatu kepada Sya. Mulai dari Grey yang merupakan kucing kesayangannya. Acara berkebun tadi bersama Opa Riyan yang merupakan Papa Radit. Dan masih banyak lagi.


" Om Faldan? Siapa Dunda, Kendla tidak kenal Om Faldan." Ujar Kendra dengan wajahnya yang lucu.


Kendra yang melihat Fardan ada dilayar ponsel Omanya langsung memundurkan wajahnya merasa malu. Sya dan Fardan yang melihatnya langsung tertawa geli. Bagaimana bisa Kendra menjadi sangat lucu seperti ini.


" Eehhh... Ini kok cucu Oma malah malu-malu begini. Itu Omnya panggil Kendra lho." Ujar Mama Riana geli melihat tingkah Kendra yang malu-malu tidak seperti biasanya. Radit yang melihatnya pun merasa aneh karena tidak biasanya Kendra malu dengan orang asing. Sifat percaya dirinya itu sudah dia turunkan dengan semaksimal mungkin kepada Kendra.


" Assalamu'alaikum bu, saya Fardan kakaknya Sya. " Ujar Fardan menyapa Mama Riana. Tadi Fardan tidak melihat kalau ternyata Kendra dipangku oleh Mama Riana karena hanya terlihat wajah Kendra dilayar ponsel Sya.


" Wa'alaikumsalam nak Fardan. Wahhhh... ternyata kalian emang mirip banget ya, hampir Mama kira kalo nak Fardan ini pacarnya Sya. Abis cocok banget sih, kalo ada yang nggak tau kalo kalian itu kakak adik pasti gebetan kalian langsung patah hati melihat kecocokan kalian. " Ujar Mama Riana yang juga sedang menyindir seseorang yang tadinya patah hati namun sekarang sedang menguping pembicaraan mereka.


Radit yang mendengar ucapan Mamanya itu seketika merasa tersindir, namun tidak mengatakan apapun. Dia tidak mau Mama Riana semakin merasa diatas awan karena tebakannya benar jika dia sedari tadi marah-marah karena Sya. Ya walaupun dia tetap pada keyakinannya sendiri jika dia bukan patah hati.


" Tante bisa aja nih. Padahal kalau tante lihat secara langsung pasti langsung bisa menebak kalau kita itu kakak adik lho. " Jawab Fardan seraya tertawa kecil.


" Tapi memang kalian kalo bukan kakak adek tuh cocok banget tau. Kapan-kapan main kesini sama Sya nakal Fardan." Ujar Mama Riana kepada Fardan.


" InsyaAllah Tante, tapi kayaknya kalo dalam waktu dekat ini saya tidak bisa. Soalnya besok saya harus pulang ke Jogja. " Jawab Fardan memberikan penjelasan.


" Oo gitu, ya sudah tidak apa-apa. Lain kali juga tidak apa-apa. Eehh ngomong-ngomong jangan panggil tante dong. Panggil Mama aja kayak Sya. " Ujar Mama Riana memprotes panggilan dari Fardan.


" Iya Ma." Jawab Fardan dengan kikuk.


" Kendra enggak mau ngomong dulu sama Om Fardan? " Tanya Mama Riana kepada Kendra yang saat ini menelungkupkan wajahnya didadanya. Kendra hanya menggeleng tanda menolak.


Disebrang sana ponsel sudah kembali beralih ke tangan Sya. Sya melihat Kendra yang sepertinya masih malu langsung tertawa geli.


" Iiihhh... Itu kenapa Kendra jadi gitu. Mana nih muka gantengnya, kok nggak kelihatan ya." Ujar Sya kepada Kendra. Kendra yang mendengar suara Sya langsung mengangkat wajahnya kearah Sya.


" Kenapa? kok ngumpet sih dari Om Fardan? " Tanya Sya halus kepada Kendra.


" Kendla malu Dunda. " Jawab Kendra menampilkan wajah polos dan lucunya itu.


" Hahaha..... " Sya tertawa mendengar jawaban Kendra. Sebenarnya bukan saja karena jawabannya itu, tapi suara dan wajahnya yang sangat menggemaskan. Ingin rasanya Sya membawa Kendra kekosannya agar dia tidak merasa bosan saat sendirian.


" Ya sudah, Dunda tutup dulu ya video callnya. Dunda mau pulang soalnya. Eehh ngomong-ngomong Dunda tadi lupa tanya. Kendra udah maem belum sayang? " Tanya Sya kepada Kendra.


" Kendla sudah maem sama telul mata sapi sama kecap Dunda. " Jawab Kendra ceria. Sya memang sudah tau jika makanan kesukaan Kendra itu Ayam goreng Kentucky dan telur mata sapi. Dan Kendra paling susah untuk makan sayur.


" Tidak pakai sayur? " Tanya Sya.


" No. " Jawab Kendra menutup mulutnya.


" Lain kali harus maem sayur ya, biar sehat kayak popeye." Sya saat ini tidak bisa untuk memaksa Kendra, baginya yang penting dia mengajarinya secara perlahan.


" Okeyy Dunda. " Jawab Kendra semangat.


" Sekarang Dunda matikan ya video callnya, Assalamu'alaikum Kendra." Ujar Sya kepada Kendra.


" Waikumsalam Dunda."