
Pagi ini Sya bangun kesiangan, tadi setelah sholat shubuh Sya merasa ngantuk sampai akhirnya memutuskan untuk tidur lagi, dan lihat sekarang sudah jam 8. Sya menoleh ke samping, ternyata Kendra sudah tidak ada di tempatnya. Sepertinya Kendra sudah bangun dan keluar. Karena pintu kamar Sya tidak tertutup dengan rapat.
Buru-buru Sya bangun dari ranjangnya, mengikat rambut kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
Setelah merasa sudah segar, Sya keluar dari kamarnya. Dari lantai atas terdengar suara tawa Kendra yang sangat Sya hafal.
Di ruang keluarga terlihat Kendra dan Radit sedang bercanda. Entah apa yang mereka lakukan Sya juga tidak tau.
" Ekhemm... Selamat pagi. " Ujar Sya kepada 2 laki-laki beda generasi itu.
Kendra dan Radit menolehkan kepala mereka, kemudian tersenyum dan dengan kompak menjawab ucapan Sya.
" Selamat pagi Bunda. " Jawab Radit dan Kendra.
Sya tentu saja langsung salah tingkah saat mendengar Radit yang mengatakannya.
" Yang lain pada kemana? Kok sepi? " Tanya Sya kepada Radit. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan orang tuanya dan juga orang tua Radit.
" Yang lain pada pergi jalan-jalan. Nostalgia katanya. Aku nggak tau pada pergi kemana. " Ujar Radit menjawab.
" Kok pagi-pagi banget sih. " Gumam Sya lirih.
Sya beranjak ke dapur, perutnya sudah merasa sangat lapar.
" Pagi Mbak Sri... " Ujar Sya kepada wanita yang sudah lama bekerja sebagai asisten rumah tangganya itu.
" Pagi juga Mbak Sya, pasti mau sarapan ya? Tadi pagi Bu Farida sama Bu Riana sudah masak Ayam goreng sama tumis daun singkong. " Ujar Mbak Sri memberitahu Sya.
" Wahh, enak nih. Mbak Sri udah sarapan belum? Sini sarapan sama Sya. " Ujar Sya mengajak Mbak Sri untuk sarapan bersama.
Sya membuka tudung saji makanan, memang disana sudah ada ayam goreng, sambel tomati, tumis daun singkong dan lalapan. "
" Sampun Mbak. Saya sudah sarapan tadi sebelum Mbak Sya turun. " Jawab Mbak Sari tersenyum lembut.
Sya sudah seperti anaknya sendiri, tentu saja karena dia sudah 10 tahun bekerja disini. Ditambah keluarga Sya sangat baik kepadanya.
" Mbak Sya mau di buatin teh hijau? " Tanya Mbak Sri kepada Sya. Dulu setiap pagi Sya sering minta untuk dibuatkan teh hijau tanpa gula.
" Nggak usah Mbak. " Tolak Sya dengan halusi.
Ternyata Radit juga mengikuti Sya ke dapur. Dia berdiri tepat di belakang Sya. Dan Saat Sya menoleh tentu saja dia langsung terkejut.
" Mas kok ngikutin aku? " Tanya Sya kepada Radit.
" Aku mau sarapan. " Jawab Radit santai.
" Loh, Mas memangnya belum sarapan? " Tanya Sya lagi.
" Belum, aku nunggu kamu. Dari pada kamu sarapan sendirian kan mending aku temenin. " Ujar Radit seraya duduk di kursinya.
Mbak Sri yang melihat itu hanya tersenyum, kemudian berlalu dari sana untuk menyelesaikan cucian bajunya.
" Kendra sendirian dong? "
" Nggak papa, Kendra kan udah gede. Dia lagi nonton Coco Melon kok di ruang keluarga. "
Tanpa Radit minta, Sya refleks langsung mengambilkan piring untuk Radit.
" Terima kasih calon istri. " Ujar Radit menggoda Sya.
" Siapa calon istri? " Tanya Sya kepada Radit.
" Orang lewat. " Jawab Radit ketus.
Sya hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. Dia mengambil nasi dan Ayam goreng ke piringnya. Kemudian langsung makan dengan lahap menggunakan tangan. Saat dia menoleh ke arah Radit, terlihat Radit hanya menatapnya, piringnya masih kosong belum terisi apa-apa.
" Mas nggak jadi makan? " Tanya Sya dengan raut wajah bingung.
" Jadi. " Jawab Radit singkat.
" Lah kok piringnya masih kosong? " Tanya Sya bertanya lagi.
" Nunggu kamu ambilin nasi sama lauknya. " Jawab Radit tersenyum. " Kamu nggak pekaan. " Tambahnya lagi.
" Ya ampun Mas, orang tinggal ambil aja nunggu di ambilin. Aleman. " Ujar Sya sewot.
" Apa? Daleman? Aku minta tolong di ambilin nasi sama lauk. Bukan minta daleman Maureen. " Radit bingung, kenapa bisa jadi daleman?
" Hahaha... " Sya seketika langsung tertawa ngakak.
" Kok malah ketawa sih? " Tanya Radit bingung.
" Abis kamu lucu banget sih. Haha.. " Untung saja Sya sudah menghabiskan nasi di mulutnya, jadi tidak takut tersedak karena tertawa ngakak.
" Apanya yang lucu sih? " Radit masih tidak paham.
" Oo manja, bilang dong dari tadi. Kalau aleman mana aku tau. "
Akhirnya Sya mengambilkan Radit nasi dan juga lauk.
" Segini cukup? " Tanya Sya kepada Radit.
" Tambah nasinya dikit lagi. " Jawab Radit.
Sya pun menambahkan lagi nasi ke piring Radit.
" Iya udah cukup segitu aja. " Ujar Radit kepada Sya.
" Udah di ambilin piring eeh nglunjak minta di ambilin nasi juga. " Ujar Sya mengejek Radit.
" Biar sekalian sayang. " Jawab Radit tersenyum.
Akhirnya pagi ini Sya dan Radit sarapan bersama. Sya melihat Radit yang sudah bercucuran keringat.
" Mas kalau nggak kuat jangan di paksain. Nanti perut kamu sakit. " Ujar Sya kepada Radit.
" Tapi enak. " Jawab Radit.
Ya, Radit sedang makan ayam goreng dan juga lalapan. Di tambah sambal tomat ekstra pedas buatan Mama Farida.
" Ya udah terserah kamu. " Sebenarnya Sya menikmati wajah Radit yang memerah dengan keringat bercucuran di dahinya. Kenapa masih terlihat tampan? Ujar Sya dalam hati.
" Maureen, tolong dong air putih. " Ujar Radit menyadarkan Sya dari lamunannya.
" Eehh iya sebentar. " Buru-buru Sya mengambilkan gelas untuk Radit.
" Ini Mas. " Ujar Sya memberikan gelas berisi air putih.
" Terima kasih. "
Setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka, Sya langsung mencuci piring kotor miliknya dan juga Radit. Kalau masih bisa sendiri kenapa harus orang lain yang mengerjakan bukan?
Selagi Sya mencuci piring. Radit duduk tidak jauh dari Sya setelah dia mencuci tangannya. Dia memperhatikan Sya dari belakang. Saat melihat Sya hatinya menjadi semakin yakin jika dia benar-benar mencintai gadis itu. Dan saat sebuah bayangan di kepalanya muncul tentang bagaimana dirinya jika Sya ternyata menjadi milik laki-laki lain, hatinya langsung terasa sangat sesak. Tidak, Radit tidak bisa membiarkan itu terjadi.
" Mass... " Panggil Sya kepada Radit.
" Mas Radit... "
" Mas, pagi-pagi jangan ngalamun. Nanti kesambet. " Ujar Sya menepuk bahu Radit. Tentu saja langsung membuat laki-laki itu tersadar.
" Aku nggak ngalamun kok. " Ujar Radit.
" Iya nggak ngalamun tapi bengong. "
" Aku lagi mikirin kamu. " Ujar Radit dengan suara lembut.
Ucapan Radit ini membuat Sya terdiam seketika.
" Kenapa deh mikirin aku, kayak Mas nggak ada kerjaan yang lebih penting aja. " Ujar Sya seraya tertawa kecil.
" Sekarang aku yakin kalau aku emang cinta sama kamu." Ujar Radit kepada Sya.
" Haha.. Iya Mas iya. " Sya seperti tidak percaya dengan ucapan Radit. Setelah 2 kali dia merasa di bohongi, tentu saja tidak mudah memberikan kepercayaan lagi untuk yang ke 3 kalinya.
" Aku serius Maureen. " Ujar Radit meyakinkan.
Senyuman di wajah Sya lagi-lagi menghilang.
" Kalau gitu, buktikan Mas. Jangan hanya kamu ucapkan dengan kata-kata. " Jawab Sya datar.
" Kamu mau beri aku kesempatan? " Tanya Radit dengan semangat.
" Ya, untuk yang terakhir. " Setelah itu Sya pergi dari dapur meninggalkan Radit yang sedang tersenyum sendiri.
.
.
.
Buat temen-temen, maaf ya kalo jadwal up berantakan. Aku masih usaha biar bisa bagi waktu antara nulis dan pekerjaan aku. Jadi untuk sekarang ini ya masih tidak menentu.π
Terima kasih buat dukungan kalian semua, jangan lupa kritik dan sarannya biar tulisan aku bisa lebih baik lagiπ
Dan mengenai tulisan aku yang selalu gantung dan sedikit, aku minta maaf tidak bisa menjadi seperti yang kalian inginkan, aku sudah berusaha tapi sulit ternyata.π
Terima Kasihππ