
“Alvira Aleesandra Putri Santoso. Alvira dalam bahasa Latin artinya penyayang. Aleesandra artinya penolong atau pelindung. Jadi arti dari keseluruhan adalah putri dari keluarga Santoso yang penyayang dan suka menolong.”Ujar Radit seraya tersenyum bahagia.
“Jadi panggilannya apa Mas?” Tanya Sya kepada Radit.
“Sandra, jadi Kendra, Rendra dan Sandra.” Jawab Radit seraya mencium pipi merah putrinya.
Tiba-tiba seseorang menarik-narik celana Radit dari bawah.
“Ayah..Mas pengen cium dedek Sandla.” Ternyata Rendra yang menarik celana Radit.
“Dedek Sandra, Rendra, bukan Sandla.” Ujar Kendra menyahuti.
“Ya kan Mas benel panggilnya dedek Sandla.” Ujar Rendra tidak mau disalahkan.
“Sandra pake R bukan Sandla pake L.” Kendra masih saja menggoda adik laki-lakinya itu.
Mata Rendra seketika berkaca-kaca karena Kendra masih saja menggodanya mengenai hururf R. Melihat itu Radit dan Sya tersenyum karena perdebatan kecil anak-anak mereka.
“Bunda…Abang nakal lagi..” Rendra naik ke ranjang Sya dan menangis sesenggukan di samping sang Bunda.
“Eeehhh, kok malah nangis? Abang cuma bercanda Mas. Iya kan Bang?” Ujar Sya menenangkan Rendra dan bertanya kepada Kendra.
Kendra mengiyakan ucapan sang Bunda.
“Iya dek, Abang cuma bercanda kok. Jangan nangis nanti dedek Sandra ikutan nangis. Iya kan Ayah?” Kali ini Kendra meminta persetujuan dari Radit.
“Iya bener yang Abang bilang. Udah ah masa jagoan nangis sih, katanya kalau adeknya udah lahir mau jadi penjaga buat adeknya biar nggak ada yang nakalin. “ Dan benar, setelah Radit mengucapkan itu tangis Rendra langsung berhenti.
“Abang minta maaf sama adeknya.” Ujar Radit kepada Kendra.
Kendra dengan patuh melakukan perintah sang Ayah.
“Abang minta maaf ya dek, Abang cuma bercanda kok.” Ujar Kendra seraya mengulurkan tangannya.
Dan ya, seperti anak kecil pada umumnya Rendra juga dengan cepat bisa memaafkan Abangnya.
“Sini, katanya mau liat adek Sandra.” Radit duduk di tengah-tengah sofa agar Kendra dan Rendra bisa duduk di kedua sisinya. Jadi mereka tidak akan berebut untuk melihat adik baru mereka.
Baik orang tua Radit maupun Sya belum ada yang datang ke rumah sakit. Mama Farida dan Ayah Dodi masih dalam perjalan saat ini karena mereka baru dapat pesawat tadi pagi. Kalau Mama Riana dan Papa Riyan masih ada di Belanda dalam rangka liburan. Sebenarnya mereka akan pulang 1 minggu menjelang Sya melahirkan, tapi seperti yang kita tau kalau Sya melahirkan 2 minggu lebih awal daripada waktu yang di tentukan.
“Cantik ya, tapi tetep aja wajahnya mirip kamu Mas.” Ujar Sya seraya menatap baby Sandra yang sedang tertidur pulas.
Saat ini Kendra dan Rendra sudah pulang terlebih dahulu di jemput Mbak Tinah dan Pak Agus. Karena biar bagaimana pun Rumah Sakit bukanlah tempat yang cocok untuk seorang anak kecil. Dan baik Kendra maupun Rendra mengerti akan hal itu. Lagi pula Sya besok sudah di perbolehkan untuk pulang karena baik dirinya maupun baby Sandra dalam keadaan stabil.
“Ya gimana ya, abisnya kamu cinta banget sih sama Mas. Makanya wajah anak-anak mirip Mas semua.” Jawab Radit dengan bangga.
“Kata siapa? Nggak juga ah.” Sya menyangkal ucapan Radit.
“Eeehh? Kamu nggak cinta sama Mas?” Tanya Radit dengan nada terkejut.
Sya mengulum senyumnya.Senang rasanya melihat wajah Radit yang terlihat panik.
“Cinta dong, kalau nggak cinta mana mau aku nikah sama kamu.” Jawab Sya seraya tersenyum manis.
“Dasar nakal.” Ujar Radit seraya mencium pipi Sya. “Jangan nakal-nakal kaya Bunda ya sayang.” Radit berganti mencium pipi baby Sandra.
“Mana ada Bunda nakal, Bunda nggak pernah nakal Ayah.”
Radit hanya tersenyum seraya mengusap rambut Sya dengan lembut.
Saat ini Sya dan Baby Sandra sudah di perbolehkan untuk pulang. Baik orang tua Sya maupun orang tua Radit sudah ada di Jakarta untuk menjenguk cucu baru mereka. Seperti saat kelahiran Rendra dulu, di hari kepulangan Sya dan baby Sandra dari rumah sakit pun mendapat kejutan dari orang-orang.
Rida, Raga dan Aurel juga datang dari Bandung untuk menyambut kepulangan baby Sandra dan Sya dari rumah sakit. Sedangkan Fardan, Asti, dan juga Shanum masih dalam perjalanan dari Bali.
WELCOME HOME BABY SANDRA
Sya tersenyum mendapat sambutan dari orang-orang terdekatnya. Dan Sya juga mangucapkan terima kasih. Tapi karena kesehatannya yang masih belum terlalu pulih, jadi Sya hanya ikut dalam pesta kecil-kecilan ini sebentar. Setelah itu Sya langsung naik ke kamarnya bersama baby Sandra karena dia masih harus istirahat.
Tentu Radit tidak akan membiarka Sya sendirian di kamar mereka, untuk itu Radit memilih untuk menemani Sya.
Sya menidurkan baby Sandra di box bayi milik Rendra dulu. Box bayi ini masih sangat bagus, jadi Sya memilih untuk tidak membelinya lagi.
“Kamu juga harus istirahat, sini sayang.” Radit membawa Sya untuk berbaring di pelukannya.
Dengan sayang Radit menatap wajah Sya yang menurutnya sangat cantik. Pipi chubby nya membuat Radit merasa gemas untuk tidak menciuminya.
“Mas…” Sya memanggil Radit yang terus saja menciumi pipinya.
“Apa sayang? Mas tuh gemese banget sama kamu.” Ujar Radit seraya menghentikan ciumannya di pipi Sya.
Radit lagi-lagi masih merasa tidak menyangka dengan kebahagiaan yang dia dapatkan sejak menikah dengan Sya. Biar bagaimana pun sejak perceraiannya dengan Audrey, Radit berencana untuk tidak lagi menikah. Radit tidak ingin membuat hatinya terluka lagi. Terlebih Radit juga tidak ingin kalau Kendra nantinya memiliki ibu tiri yang tidak menyayanginya. Untuk itu Radit hanya ingin hidup berdua dengan Kendra saja nantinya. Tapi rencana hanyalah sebatas rencana. Tuhan mengirimkan Sya di tengah rasa tidak percayanya akan seorang wanita lagi. Wanita muda yang berhasil mencuri perhatian Kendra di awal pertemuan mereka. Wanita yang sempat Radit ragukan ketulusannya. Pada akhirnya, pertemuan antara dirinya dengan Sya menjadi anugerah terbesar yang Radit miliki.
“Mas, kenapa diem?” Tanya Sya kepada Radit. Suaminya itu terlihat menatap Sya dengan pandangan yang sulit di artikan.
“Nggak papa sayang.” Jawab Radit seraya menatap Sya lembut.
“Yakin nggak papa? Atau kamu sakit?”
“Nggak sayang, aku nggak sakit. Aku sehat-sehat aja kok.” Jawab Radit meyakinkan Sya.
Hening… Sya tidak tau harus berkata apa. Mendadak suasana yang tercipta diantara dirinya dan Radit menjadi sedikit melow.
“Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu dari anak-anak aku. Baby… I Love You.” Bisik Radit di telinga Sya.
“I Love You too Mas.” Balas Sya seraya tersenyum hangat.
.
.
.
Akhirnya setelah berbulan-bulan aku bisa namatin Baby... I Love You. Terima kasih untuk dukungan temen-temen semua. Tanpa kalian aku nggak yakin bisa nyelesain ini. Pokoknya sayang kalian banyak banyak❤😘
InshaAllah bakal aku bikin sequel untuk Abang Kendra😁
Dan InshaAllah aku juga bikin beberapa extra partnya🙃
Jangan lupa terus kasih kritik dan sarannya buat aku😍
Dan karena cerita ini udah tamat, bisa lah ya baca juga Laras for Dani. 😍😍
Terima Kasih 😘💕