
Sekarang ini Sya sedang duduk di meja makan bersama Radit dan juga Kendra yang masih sesenggukan di pangkuannya. Sya tidak tau harus berbicara apa karena suasana begitu terasa canggung. Sejak Radit menjemputnya hanya karena Sya keluar rumah untuk membeli bubur ayam di depan komplek, Sya terus berpikir mengenai apa yang terjadi sebenarnya.Karena tidak biasanya Radit bersikap seperti ini. Saat melihat Radit tadi, Sya dapat melihat sorot ketakutan di bola mata laki-laki yang biasanya terlihat dingin dan tegas itu.
" Kamu makan dulu ya, biar aku suapin. " Ujar Radit bersikap seperti biasa seolah tidak ada kejadian yang terjadi tadi.
" Iya... " Jawab Sya singkat. Sekarang ini masih jam 7, dan dapat di lihat kalau Kendra juga kembali tidur di pangkuan Sya, mungkin karena bocah tampan ini terlalu lelah menangisi Sya hampir setengah jam lamanya.
Dengan telaten Radit menyuapi Sya. Tatapannya sudah kembali seperti semula, tapi sepertinya Radit memang tidak memiliki niat untuk menjelaskan mengenai kejadian tadi. Setelah selesai menyuapi Sya, Radit juga mengambilkan minum untuk istrinya itu.
" Minum dulu. " Ujar Radit seraya menyerahkan gelas yang berisi air hangat.
" Terima kasih. " Sya menerima gelas minum itu dari tangan Radit dan meminumnya dengan pelan.
" Kenapa nggak bangunin aku kalo kamu pengen makan bubur ayam sayang? " Tanya Radit kepada Sya. Tatapan matanya terlihat begitu lembut.
" Aku liat Mas tidurnya pules banget, dan lagi pula tempat jual buburnya nggak jauh dari rumah. Jadi aku putusin buat beli sendiri aja. Dan mumpung masih pagi jadi aku sekalian jalan-jalan. " Jawab Sya menjelaskan. Sya balas menatap Radit. Namun Radit justru mengalihkan pandangannya. " Mas sebenarnya kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu? " Sya akhirnya tidak tahan untuk bertanya kepada Radit.
Radit sedikit tersentak di tempat duduknya. Kembali Radit menatap Sya.
" Biar aku pindahkan Kendra ke kamar dulu. " Ujar Radit kepada Sya. Pasalnya melihat Sya dengan perutnya yang sudah membesar memangku Kendra membuat Radit justru yang merasakan sesaknya.
Namun saat Radit berniat untuk mengambil alih Kendra dari pangkuan Sya. Bocah tampan yang saat ini matanya terlihat sembab itu merengek seolah menolak berpindah dari pangkuan Sya.
" Tidak apa-apa Mas. Biar seperti ini saja. " Ujar Sya pada akhirnya. Membangunkan Kendra pun rasanya Sya tidak tega. Terlebih putranya itu habis menangis karena dirinya.
" Tapi perut kamu nanti sesek kalo ketindihan badan Kendra sayang. " Ujar Radit merasa keberatan. Perut Sya buncit bukan karena isi angin, tapi di dalamnya ada seorang bayi yang mungkin sedang meringkuk nyaman disana.
" Ya udah biar aku gendok ke atas aja. " Ujar Sya kepada Radit.
" No, kamu terlalu sering naik turun tangga aja nggak baik apalagi ini mau gendong Kendra yang beratnya lebih dari 15 kg. " Ujar Radit melarang. Yang benar saja Sya mau menggendong Kendra yang berat itu.
Melihat Radit yang begitu menghawatirkannya, akhirnya Sya memberikan idenya untuk menidurkan Kendra di kamar tamu yang posisinya tidak jauh dari dapur. Dan untungnya Radit menyetujuinya.
" Baiklah. " Radit membantu Sya untuk berdiri dengan dari duduknya bersama Kendra yang ada di gendongan Sya.
Dan ya, mengenai hal itu Radit jadi merasa bersalah karena bukannya menenangkan Kendra saat tadi Sya keluar, Radit malah justru ikut panic. Padahal Mbak Tinah tadi sudah bilang kalau Sya keluar untuk sekedar membeli bubur ayam dan jalan-jalan sebentar. Tapi karena mimpi menyebalkan yang Radit dapat semalam, laki-laki itu menjadi kehilangan kontrolnya.
Dengan hati-hati, Radit membantu Sya menurutkan Kendra dari gendongan wanitanya. Sya terlihat menepuk-nepuk pelan punggung Kendra saat putranya itu terlihat mengeliat tidak nyaman.
Kemudian tatapan Sya beralih kepada Radit yang duduk di pinggir ranjang.
Dengan lembut Sya bertanya kepada suaminya itu.
" Jadi, sebenarnya ada apa Mas? Kenapa Mas terlihat begitu tertekan sejak tadi? Apa aku membuat kesalahan? " Tanya Sya kepada Radit.
" Bisakah kamu mendekat sayang? Aku ingin memelukmu. " Ujar Radit tanpa menjawab pertanyaan yang Sya ajukan. Namun istrinya itu tetap mengikuti perintahnya. Sya mendekat kepada Radit. Dan dengan pelan Radit menarik tangan Sya untuk duduk di pangkuannya.
Dengan erat Radit memeluk tubuh Sya. Dan ini terasa begitu emosional untuknya. Sya yang sepertinya menyadari apa yang sedang Radit rasakan itu memilih untuk diam dan membiarkan Radit untuk menenangkan dirinya.
" Sayang... " Panggil Radit seng suara pelan.
" Iya Mas... Kamu bisa berbagi cerita denganku jika memang sudah siap. Dan jika belum, kamu bisa tetap memelukku. " Ujar Sya menjawab pangggilan dari Radit.
Mendengar Sya yang mempersilahkan dirinya untuk memeluk tubuh mungil itu lebih lama, maka itulah yang Radit lakukan. Meskipun dia juga butuh bercerita, tapi yang paling dibutuhkan sekarang adalah sebuah pelukan. Dan hebatnya Sya adalah wanita itu tidak menuntutnya untuk bercerita meskipun Radit tau kalau istrinya itu sangat penasaran dengan alasan yang membuatnya bertingkah seperti tadi.
" Mimpi itu datang lagi.... " Ucap Radit memulai pembicaraan. Dan Sya yang mendengarnya tidak memberikan respon apapun, wanitanya itu seolah mempersilahkan Radit untuk terus melanjutkan ceritanya tanpa ada niatan untuk memotong ucapan Radit.
" Dulu, sejak kepergian Audrey dari rumah ini meninggalkan aku dan Kendra yang masih bayi sendirian. Aku selalu menyalahkan dirinya. Aku menganggap kalau semua kemalangan yang menimpaku dan juga Kendra adalah karena ulahnya. Namun, beberapa waktu setelah Audrey terlibat kecelakaan bersama selingkuhan yang sejak kita resmi bercerai menjadi kekasihnya itu, aku sadar kalau aku juga ikut andil menjadi penyebab Audrey sampai berselingkuh. " Radit terdengar begitu berat saat mencoba membuka kisahnya yang belum pernah dia ceritakan kepada Sya. " Aku selalu berpikir dengan mencukupi semua kebutuhan Audrey maka itu sudah cukup. Tapi seperti wanita kebanyakan, Audrey juga menginginkan perhatian lebih dariku. Dan aku yang waktu itu begitu gila kerja tidak pernah memikirkan itu. " Tambah Radit.
Sya dengan setia mendengarkan setiap cerita yang keluar dari bibir Radit.
" Sejak Audrey meninggal, dia selalu datang ke mimpiku. Dia menangis didepanku dan mengatakan kalau selama ini akulah yang jahat. Karena akulah dia sampai harus mencari laki-laki lain untuk bisa mendapatkan sebuah perhatian yang dia inginkan. Dan tadi malam, dia datang lagi ke mimpiku, namun sosoknya berubah menjadi kamu. " Ujar Radit dengan suara beratnya.
" Sayang, apa selama ini aku juga memperlakukan kamu dengan buruk seperti yang pernah aku lakukan kepada Audrey? Tapi sungguh aku tidak pernah berniat seperti itu. " Ujar Radit mengakhiri ceritanya dengan sebuah pertanyaan yang dia ajukan kepada Sya.