
" Kita balik ke kantor. "
Ujar Radit seraya beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kasir untuk membayar makanan mereka tanpa menunggu Sya tersadar dengan ucapan Radit.
Sya mengikuti Radit dari belakang setelah melihat Radit beranjak dari duduknya. Sya tidak berbicara apapun karena merasa bahwa kali ini dirinya lah yang salah.
Namun setelah masuk kedalam mobil, Sya tidak tahan lagi didiamkan oleh Radit. Meskipun perasaannya kepada Radit belum terlalu besar, tapi Sya tetap merasa harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke kantor. Biar bagaimana pun Sya juga yang sudah memutuskan untuk menerima Radit dan menjalin komitmen.
Sumpah demi Tuhan, Sya tidak bermaksud untuk membuat Radit cemburu, dia bukan remaja alay yang harus memanas-manasi pasangannya agar tau seberapa cemburunya dia pada kita. Dan Sya juga bukan perempuan yang tidak pernah menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis. Semasa SMA dulu dia juga pernah punya pacar, hanya saja ya pacaran seperti remaja pada umumnya saja. Dan Sya memutuskan untuk mengakhiri hubungannya karena sudah merasakan jika pacaran ternyata membuat nilai sekolahnya turun. Dan ya, itu menjadi pengalaman satu-satunya Sya memiliki pacar.
Untuk masalah Jero, Sya benar-benar lupa jika dia sudah menjadi pacar Radit. Karena dalam pikirannya Radit adalah bosnya saat dikantor. Tentu saja refleksnya memanggil Radit dengan panggilan Pak karena memang Sya yang menginginkan untuk menjalin hubungan secara backstreet. Dan jika permasalahannya adalah karena dia memberikan nomor ponselnya, itu karena Sya berpikir apa salahnya menjalin silaturahmi? Toh Jero anak teman Mama Riana. Mungkin terkesan Sya tidak menghargai perasaan Radit, tapi sungguh Sya tidak bermaksud seperti itu.
" Mas.... "
" Mas Radit.... "
Panggilan Sya tidak sedikitpun ditanggapi oleh Radit.
" Mas Radit marah ya sama aku? " Pertanyaan macam apa ini, sudah tau Radit marah padanya. Tapi masih saja ditanya. Tidak apa-apa, setidaknya Sya sedang berusaha.
Radit mulai menghidupkan mobilnya, namun seketika kunci mobil dimatikan oleh Sya.
" Kita selesaikan dulu masalah ini. Aku nggak mau bawa-bawa masalah ke kantor. Pokoknya harus kita selesaikan sekarang juga." Ujar Sya mendadak mengeluarkan suara tegasnya.
Radit seketika menatap Sya dengan tajam. Perlu diketahui jika Radit bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah menahan emosi. Tapi untuk kali ini Radit berusaha sangat keras menahannya. Hubungan mereka masih sangat baru, tidak mungkin Radit mengeluarkan sifat buruknya itu didepan Sya untuk sekarang.
Sya sebenarnya takut melihat tatapan Radit yang begitu tajam itu. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya meski saat ini Radit menatapnya. Meski begitu Sya berusaha untuk tidak terlihat terintimidasi dengan tatapan Radit saat ini.
" Aku harus apa biar Mas maafin aku? Aku minta maaf. Aku ngaku salah. Aku bener-bener lupa kalo sekarang kita sudah menjalin hubungan. Dan masalah Jero, aku juga minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk tidak menghargai Mas Radit ataupun hubungan ini. " Ujar Sya penuh dengan penyesalan.
Radit yang melihat Sya berkata dengan sungguh-sungguh dan wajah menyesal seketika menjadi tidak tega melihatnya. Bagaimana pun Radit sudah jatuh cinta kepada gadis didepannya ini.
" Aku juga minta maaf. " Lagi-lagi Radit menurunkan gengsi untuk tidak menuruti egonya. Seorang Radit yang sebelumnya tidak pernah meminta maaf kepada siapapun kali ini tidak bisa berkutik saat melihat wajah memelas Sya.
Sya diam saja untuk mendengarkan Radit melanjutkan kalimatnya.
" Maureen, kamu harus tau. Saya tipe laki-laki yang posesif. Apa lagi kepada sesuatu yang jelas-jelas milik saya. Dan kamu sekarang adalah milik saya. Saya tidak suka melihat kamu berhubungan dengan laki-laki lain, apalagi sudah jelas jika laki-laki itu menyukai kamu. " Ujar Radit dengan lembut. Matanya masih tetap menatap lekat kepada Sya, namun bukan lagi tatapan tajam penuh amarah. " Biar bagaimana pun saya tidak akan pernah melepaskan kamu. Itu janji saya. " Tambah Radit.
" Kok Mas Radit nyeremin sih. " Ucap Sya tanpa sadar.
" Saya tidak akan menyeramkan jika kamu menuruti apa yang sudah menjadi batasan-batasan yang saya katakan. " Jawab Radit seraya mengelus pelan kepala Sya.
" Mas masih marah? " Tanya Sya tiba-tiba.
" Masih. " Jawab Radit pendek.
" Aku harus apa supaya Mas tidak marah lagi? " Tanya Sya. Bukan Sya bucin atau bagaimana. Hanya saja Sya ingin menghilangkan rasa bersalahnya kepada Radit. Karena sekarang ini memang dia lah yang salah.
Radit terlihat terdiam seraya berpikir.
" Kamu tadi ngasih nomor kamu ke Pajero itu kan? "
" Jero Mas. " Ujar Sya membenarkan.
" Terserah, aku hanya ingin memanggilnya Pajero. " Jawab Radit santai. " Aku ingin kamu.... " Belum selesai Radit menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ponsel Sya berbunyi. Secara reflek Radit mengambil ponsel Sya yang memang ada dipangkuan gadis itu.
*Haii Sya, save ya nomor aku.
Jero*
Sya yang melihat Radit mengambil HPnya diam saja, karena Sya merasa tidak ada yang dia sembunyikan dari Radit.
" Siapa Mas? " Tapi mau tidak mau Sya juga kepo karena Radit hanya diam membaca pesan masuk itu.
Radit mengambil sesuatu di dashboard mobil, ternyata sebuah SIM card baru.
" Ganti SIM card kamu dengan yang ini. " Ujar Radit memberikan ponsel dan juga SIM card baru itu.
" Emang kenapa harus ganti? aku aja baru ganti beberapa bulan yang lalu. " Tanya Sya dengan bingung.
" Aku nggak mau kamu chating sama Jero nantinya. " Jawab Radit dengan tatapan lurus kedepan.
Sya yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika Radit akan sekekanakan ini.
" Mas kalo cemburu lucu deh. Ya udah, ini ganti aja sendiri. " Sya memberikan ponsel dan SIM card itu kembali kepada Radit. Untuk kali ini Sya akan menuruti apa kata Radit. Karena sekali lagi, disini Sya lah yang salah.
" Kamu nggak suka aku cemburu? " Tanya Radit seraya menatap Sya.
" Bukan suka atau nggak suka sih. Tapi lain kali kalo cemburu jangan kayak gini ya, aku bingung gimana cara ngebujuk kamu. Mungkin akan lebih gampang ngebujuk Kendra yang sedang ngambek. Lain kali kalo cemburu langsung bilang aja, jadi aku tau salah aku dimana dan aku harus melakukan apa. Disini sebenarnya yang lagi datang bulan siapa sih? Kok malah Mas Radit yang ngambek-ngambekan nggak jelas. " Ujar Sya kepada Radit yang sedang memasang SIM card baru di ponselnya.
Radit yang terkejut mendengar perkataan Sya.
" Ya ampun sayang, aku lupa kamu lagi datang bulan. Perutnya masih sakit nggak? " Radit dengan sifat hangatnya sudah kembali, itu berarti moodnya sudah membaik.
Radit langsung meletakkan ponsel Sya dan duduk menyamping menatapnya.
" Aku udah nggak papa Mas. Gara-gara kamu ngambek, aku jadi lupa kalo lagi sakit perut. " Jawab Sya menenangkan.
" Aku minta maaf. " Ujar Radit menyesal. Sifat posesifnya ini membuat Radit menjadi sosok yang pencemburu akut.
" Aku maafin. " Jawab Sya pendek. " Kalau masalah kita udah selesai pulang ke kantor yuk. Aku udah telat masuk 15 menit Mas. " Ujar Sya kepada Radit.
" Nggak papa, nanti Andre yang akan meminta ijin kepada Pak Sean. " Jawab Radit halus.
.
.
.
Jadi yang nganggep Sya belum pernah pacaran salah ya😂
Oo iya, mengenai visual tokoh aku belum nemu yang pas, jadi mohon bersabar🤗
Selamat membaca,
Terimakasih buat dukungan teman-teman 💕