Baby... I Love You

Baby... I Love You
Welcome Home



Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Sya dan baby Rendra sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Rasanya Sya sangat bahagia, sudah bosan dia ada di rumah sakit.


"Barangnya udah semua Mas?" Tanya Sya kepada Radit.


Kali ini Sya hanya bersama Radit karena para orang tua dan Kendra sudah ada di rumah karena sedang menyiapkan surprise kecil-kecilan untuk Sya dan juga baby Rendra.


"Udah sayang, cuma tinggal tas popok aja kok, kan yang lainnya udah dibawa Mama sama Papa." Jawab Radit.


Sya menganggukan kepalanya.


"Adek sebentar lagi kita pulang ke rumah, ketemu Abang Kendra, Oma Riana, Opa Riyan, Uti Farida sama Kakung Dodi. Adek nanti pasti seneng deh." Ucap Sya seraya mengecup kedua pipi baby Rendra yang semakin gembul itu.


Pada saat 1 hari setelah lahir, Sya sedikit panik karena berat baby Rendra yang tadinya 2,8 kg justru turun menjadi 2,6 kg. Tapi Dokter Llilis bilang itu adalah hal yang wajar untuk bayi yang baru lahir. Dengan kita sering menyusui bisa membantu berat bayi akan bertambah. Dan benar, pagi tadi baby Rendra sudah di timbang lagi dan beratnya naik menjadi 3 kg.


"Sudah siap pulang ke rumah sayang?" Tanya Radit kepada Sya.


"Sudah dong Mas." Jawab Sya seraya tersenyum.


"Oke."


Radit mengambil kursi roda yang tanpa Sya sadari sudah ada di kamar inapnya dari tadi.


"Kursi roda buat apa Mas?" Tanya Sya kepada Radit.


Setaunya dia tidak membutuhkan kursi roda sama sekali. Dokter Lilis juga tidak melarangnya untuk jalan kaki.


"Buat kamu sayang. Jarak kamar ke lobi itu jauh kalau jalan kaki. Aku enggak mau kalau kamu kenapa-napa. Di tambah kamu juga harus gendong baby kan, Rendra lumayan berat loh yank." Ujar Radit memberikan penjelasan.


Sya mengangguk paham, kali ini dia tidak akan membantah ucapan Radit. Sudah cukup kekeras kepalaannya ini justru membuatnya celaka sendiri.


"Ya udah aku pake kursi roda." Jawab Sya.


"Bagus, ini baru istri aku, nurut sama ucapan suami." Ujar Radit menggoda Sya.


Dengan di bantu Radit, Sya turun dari ranjangnya dengan Rendra yang ada di gendongannya.


"Terima kasih Mas." Ujar Sya setelah dia duduk di kursi roda.


"Sama-sama sayang." Jawab Radit seraya mengecup puncak kepala Sya sebelum dia mendorong kursi roda ke luar kamar.


Sesampainya di lobi rumah sakit, terlihat Andre sudah menunggu mereka. Dengan sigap Andre berjalan ke arah Radit.


"Mas Andre, nunggu lama ya, maaf ya soalnya tadi ada beberapa barang yang ketinggalan." Ujar Sya dengan ramah.


"Enggak kok Mbak Sya, saya juga baru datang sekitar 5 menitan." Jawab Andre. "Ooo iya, selamat buat keahiran baby boy nya Mbak." Ujar Andre memberikan selamat untuk Sya.


"Wahh, namanya bagus. Mirip kaya namanya Kendra. Alvaro Kenandra Putra Santoso dan Alvino Narendra Putra Santoso. Kalau orang enggak tau pasti mereka bakal mikir kalau Kendra sama Rendra itu kembar." Ujar Andre.


"Ekhemm, bawain tasnya." Ujar Radit seraya melemparkan tas berisi popok yang sedari tadi tersampir di bahu kekarnya. Dan untung saja refleks Andre sangat cepat, dengan sigap Andre menangkap tas yang Radit lemparkan kepadanya.


"Mas kok main lempar-lempar gitu sih ke Mas Andre?" Tanya Sya kepada Radit. Kenapa suaminya ini melakukan hal seperti itu kepada Andre? Bukankah itu tidak sopan?


"Enggak papa, yuk kita ke mobil." Ujar Radit seraya mendorong kursi roda Sya meninggalkan Andre yang sedang mengulum senyumnya.


Disini siapa yang tidak tau kala Radit sedang menahan rasa cemburunya. Dari awal Andre menyapa Sya sampai mengucapkan selamat kepada Sya pun mata elang Radit seperti tidak lepas untuk terus mengawasinya seolah Andre adalah suatu ancaman. Dan Andre memang sengaja melakukan itu dengan tidak menyapa Radit. Andre ingin melihat raut wajah cemburu Radit seperti dulu karena itu bisa menjadi sedikit hiburan untuknya.


"Dulu aja berlagak sok enggak butuh Mbak Sya, giliran sekarang bucinnya bukan main. Ini nih yang di namakan menjilat ludah sendiri." Ujar Andre bergumam dengan lirih, raut wajahnya terlihat jelas kalau dia sedang mengejek bos nya itu.


Dengan langkah lebarnya Andre berjalan keluar mengikuti sepasang suami istri itu untuk ke mobil sebelum mendapat teriakan dari Radit.


"Bawa mobilnya jangan cepet-cepet, saya tidak ingin terjadi sesuatu kepada Maureen dan Rendra." Ujar Radit berpesan kepada Andre.


"Baik Pak Radit." Jawab Andre dengan nada suara yang terdengar malas. Tanpa di beritahu pun Andre juga tau apa yang harus dia lakukan. Tidak mungkin juga dia membawa mobil ngebut di saat dia membawa ibu yang baru saja melahirkan bersama bayinya.


Kenapa yang menjemput bukan Pak Agus? Ya karena seperti yang sudah di katakan, Pak Agus sudah datang kesini tadi untuk menjemput para orang tua.


Selama Sya di rumah sakit, Radit tidak mengijinkan baik teman-temannya maupun teman-teman Sya untuk datang menjenguk. Hal ini karena Radit tidak mau kalau sampai istirahat Sya dan baby Rendra terganggu. Lagi pula akan lebih nyaman kalau mereka menjenguknya di rumah kan?


"Adek kok bobok terus, coba bangun dulu sayang." Ujar Radit mencoba untuk membangunkan Rendra.


"Mas, jangan di bangunin, kita enggak ada stok asi loh kalau nanti adek bangun terus nangis." Ujar Sya mengingatkan Radit.


Seketika Radit langsung terdiam, benar juga yang Sya katakan. Kalau baby Rendra bangun dan nanti nagis, Sya harus menyusuinya. Sedangkan disini masih ada Andre, walaupun laki-laki itu ada di depan, tetap saja ada kemungkinan Andre melihat kalau Sya menyusui baby Rendra. Dan ya, Radit tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Radit mulai berpikir untuk memodifikasi mobilnya untuk di pasangkan skat pembatas antara supir dan penumpang. Untuk berjaga-jaga kalau nantinya Sya harus menyusui di mobil. Jadi supir tidak akan melihatnya. Atau kalau tidak dia membeli mobil baru saja? Oke, ini akan Radit pertimbangkan setelah sampai di rumah nanti.


Setelah 30 menit perjalanan dari rumah sakit akhirnya mereka sampai di rumah Radit dan Sya. Dan untungnya saja selama perjalanan baby Rendra sama sekali tidak terbangun dan menangis.


"Aku jalan kaki aja ya Mas, kan jalannya juga enggak jauh." UJar Sya kepada Radit.


Kali ini Radit mengiyakan permintaan Sya.


Di bantu oleh Radit, Sya berjalan dengan perlahan.


Seperti yang sudah di katakan, di rumah sudah menyiapkan surprise untuk Sya dan baby Rendra.


Saat Sya membuka pintu rumah, langsung terlihat tulisan WELCOME HOME BUNDA & BABY NARENDRA di tembok ruang tamu.