
" Bisakah mulai sekarang kita menjadi teman? "
Sya terdiam mendengar permintaan Radit. Apakah benar Radit meminta kita untuk saling berteman?
" Maureen? Kamu masih disana? " Tanya Radit dari sebrang telfon.
" Masih Pak, iya saya masih disini. " Jawab Sya dengan suara yang sedikit tergagap.
" Jadi bagaimana, bisakan kita saling berteman? Saya rasa saya butuh memiliki teman seperti kamu agar pikiran saya lebih terbuka." Ujar Radit kepada Sya.
" Tapi Pak, Bapak kan atasan saya. Saya merasa tidak sopan saja jika saya menganggap Pak Radit teman saya." Jawab Sya dengan ragu.
" Tidak sopan? Memangnya selama ini kamu sopan sama saya, tidak sama sekali. Kamu cenderung lebih tidak sopan dibanding karyawan lain." Ujar Radit seraya terkekeh kecil. Radit mengingat detail kejadian setiap Sya berlaku tidak sopan kepadanya. Mematikan telfon secara sepihak, tidak mengangkat sambungan telfon darinya, membiarkan dia menunggu diruang tamu kosan Sya hanya bersama penjaga kos, dan yang terbaru adalah tidak menawari dia makanan saat gadis itu memakannya.
" Maaf Pak kalau selama ini saya kurang sopan. Tapi ya gimana ya, Bapak jadi laki-laki kadang ngeselin sih. Saya kan hilang kontrol jadinya." Jawab Sya dengan nada suara yang sedang seperti tidak enak hati.
" Jadi gimana? Saya diterima jadi teman kamu? " Tanya Radit kepada Sya.
" Ya udah deh, mulai sekarang kita temenan." Jawab Sya pada akhirnya. Mendengar jawaban dari Sya, tanpa sepengetahuan gadis itu, saat ini Radit tengah tersenyum sendiri. Rasanya dia sangat bahagia hanya karena Sya mau menjadi temannya.
" Oke, sekarang kita teman. Ya sudah saya juga mau tidur. Selamat malam Maureen. Tidurlah, ini sudah cukup malam." Ujar Radit kepada Sya.
" Baik Pak, selamat malam juga, kalo gitu saya tutup telfonnya sekarang ya." Sya meminta ijin terlebih dahulu untuk menutup sambungan telfon mereka karena dia masih ingat jika Radit mempertanyakan sopan santunnya tadi.
" Jangan terlalu forma Maureen. Sekarang kita teman. " Ujar Radit mengingatkan.
" Bapak juga manggil saya Maureen. Sya aja Pak biar kayak yang lain." Jawab Sya memprotes panggilan dari Radit. Karena sekarang mereka sudah berteman, Sya ingin Radit juga seperti yang lain, memanggilnya dengan nama kecil. Sedangkan panggil Maureen untuk seseorang yang tidak mengenalnya.
" Saya tidak ingin seperti teman kamu yang lain. Saya suka nama Maureen. Dan saya akan tetap memanggil nama kamu seperti itu." Ujar Radit.
" Ya udahlah terserah Bapak aja." Jawab Sya.
" Selamat tidur." Setelah mengatakan itu, Radit langsung mematikan sambungan telfonnya sebelum Sya membalas ucapan selamat tidur itu.
" Lah ini sekarang yang jadi nggak sopan malah dia sendiri." Ujar Sya dalam hati.
Sedangkan Sya sendiri bingung dengan sikap Radit kali ini. Sya merasa Radit sangat aneh. Berteman dengannya? Sedang kesambet apa laki-laki itu. Nada bicaranya yang terdengar santai dan lembuti terasa aneh ditelinga Sya karena terbiasa mendengar suara Radit yang lebih sering ketus dan dingin kepada orang lain. Setau Sya, Radit biasanya bersuara dan bersikap lembut hanya kepada Kendra dan Mamanya saja.
" Bodo amat lah, tidur aja, ngantuk. Toh Pak Radit emang pada dasarnya aneh. Ngapain juga dipikirin." Ujar Sya dalam hati.
Setelahnya Sya bersiap untuk tidur karena besok harus kerja dan masih hari Jum'at . Itu artinya hari libur masih lusa.
Setelah Sya mengatakan dia mau berteman dengannya, Radit merasa ada sebuah kelegaan yang dia rasakan. Sebesar inikah pengaruh Sya dihidupnya? Baru saja satu bulan mereka saling mengenal, walaupun hanya sebagai karyawan dan atasan. Dan sejak Kendra terbiasa melakukan video call atau hanya sekedar telfon biasa namun selama seminggu kemarin tidak mereka lakukan membuat Radit merasa ada sedikit perasaan tidak nyaman yang masuk kedalam hatinya.
" Kalau memang Kendra menginginkan Bunda Maureen untuk menjadi Bunda ya sesungguhnya, tolong buat Ayah juga agar bisa mencintai Bunda. Ayah tidak mau menjadi laki-laki pengecut lagi seperti kemarin. Laki-laki yang bahkan belum apa-apa sudah membuat hati Bunda Maureen kamu terluka. Walaupun menurut Ayah cinta akan datang karena terbiasa, tapi pemikiran itu ternyata salah menurut Bunda Maureen dan Om Andre. Ternyata kita harus mencintai pasangan kita terlebih dahulu baru kita bisa merencanakan sebuah pernikahan. Kendra tenang saja, Ayah akan memulai hubungan bersama Bunda Maureen dengan cara yang lebih benar dari pada kemarin. " Ucap Radit seraya mengelus kepala Kendra yang sudah tertidur lelap.
Pagi-pagi sekali Radit sudah bersiap untuk mengantarkan Kendra kerumah orang tuanya karena jadwal penerbangan pukul 7 pagi. Dan untung saja sehabis adzan shubuh tadi Kendra sudah terbangun sehingga Radit tidak terlalu sibuk pagi ini untuk membangunkan Kendra.
" Ayah kelual kota belapa hali? " Tanya Kendra yang sudah terduduk dikursi mobil. Masih dengan baju tidur dan tangan yang menggenggam sebotol susu rasa strawberry dan setangkup roti gandum berisi nutella.
" Hanya satu hari, besok Ayah sudah pulang. Nanti dirumah Oma jangan nakal-nakal ya, kasian Oma nya nanti. " Ujar Radit menasehati Kendra.
Kendra yang mendengar nasihat Ayahnya hanya menganggukan kepadanya.
Setibanya dirumah orang tuanya, terlihat Mama Riana sudah berdiri didepan pintu masuk.
Tadi malam Radit sudah menelfon Mama Riana jika dia akan keluar kota pagi ini dan berniat untuk menitipkan Kendra seperti biasa. Dan ya, tentu saja Radit masih mendapat omelan dari Mamanya karena terlalu mepet memberitahunya.
" Kamu ini, kan Mama udah sering bilang. Kalau ada jadwal keluar kota pagi tuh mending nginep sini, atau nggak Kendra aja yang dibawa kesini. Kasian kan pagi-pagi begini udah kamu bangunin Kendranya." Ujar Mama Riana begitu Radit dan Kendra turun dari mobil. Kendra tentu saja langsung turun dari gendongan Radit dan berlari masuk untuk bertemu dengan Grey setelah tadi memeluk Oma nya terlebih dahulu.
" Kendra tuh udah bangun dari tadi abis shubuh Ma. Dan masalah kalau aku nggak bawa Kendra nginep disini ya karena aku lupa. Aku aja baru ingat kalau hari ini ada kunjungan perusahaan anak cabang di Semarang setelah abis telfonan sama Maureen. Dan waktu aku telfon Mama itu Kendra udah tidur. " Jawab Radit memberikan penjelasan kepada Mama Riana.
Namun dari sekian panjangnya penjelasan yang Radit berikan, yang tertangkap di telinganya hanya bagian abis telfonan sama Maureen.
" Jadi udah ada kemajuan nih hubungan kamu sama Sya? Gagal dong Mama jodohin Sya sama Jero." Ujar Mama Riana seraya tersenyum lebar.
" Apaan sih Ma." Mendengar nama Jero dan mengingat bagaimana Sya dan Jero berfoto bersama pada waktu itu membuatnya merasa sedikit kesal.
" Udahlah aku pamit dulu. " Radit meraih tangan Mama Riana untuk menciumnya.
" Hati-hati." Jawab Mama Riana riang. Pagi ini dia merasa bahagia setelah mendengar kemajuan hubungan anaknya dengan Sya.
Radit masuk mobil yang dikendarai oleh Pak Udin supir pribadinya.
" Ndre kamu langsung berangkat ke Bandara saja tidak usah kerumah. Saya dari rumah Mama langsung ke Bandara juga." Ujar Radit kepada Andre melalui sambungan telfonnya.