
" Kemana Kendra dan Mama, kenapa tidak ada dimanapun." Gumam Radit pelan.
Tidak ditemukan Mama Riana dan Kendra dimanapun. Tidak biasanya jam segini Mama keluar rumah, karena biasanya Mama menjadwalkan acara apapun itu sehabis dzuhur.
Radit melihat Bi Yati yang sedang membawa cucian kotor.
" Bi, liat Mama sama Kendra nggak? Saya cari-cari kok nggak ada dimana-mana." Tanya Radit kepada Bi Yati.
" Saya kurang tau Mas, tapi tadi sepertinya Ibu pergi keluar sama nan Kendra diantar sama Pak Agus." Ujar Bi Yati menjelaskan.
" Oo gitu, ya sudah, terimakasih ya Bi." Radit kembali ke dapur untuk mengambil sarapan.
Masih ada nasi goreng yang sudah dingin, dan dia yakin ini masakan Mamanya.
Radit memilih untuk menyeduh kopi terlebih dahulu. Menyeruput sedikit dan memulai sarapannya.
" Mungkin Mama dan Kendra lagi belanja." Pikir Radit.
Radit menikmati sarapan yang waktunya sudah terlambat ini, karena lebih cocok disebut dengan makan siang.
Setelah menyelesaikan sarapan, Radit keruang keluarga untuk melakukan salah satu hobinya, yaitu bermain PS.
Pikirannya sudah masuk kedalam game sampai akhirnya telfon dari Andre mengalihkan perhatiannya.
" Kenapa Ndre? " Tanya Radit masih fokus dengan layar game di televisinya.
" Maaf Pak Radit, saya mengganggu waktu libur Anda, tapi ada berkas mendesak yang harus Anda tandatangani sekarang. Copy.an berkasnya sudah saya kirim lewat E-mail. Nanti saya kerumah Anda membawa berkas aslinya kerumah Anda." Ujar Andre menjelaskan.
" Oke, bawa saja berkasnya ke rumah Mama, saya sedang ada disini." Jawab Radit langsung mematikan sambungan telfonnya.
Radit segera membuka e-mail yang sudah dikirimkan oleh Andre. Ternyata berkas kerja sama antara PT Santoso Group dengan PT Sindoro Group sebuah perusahaan dari Bandung.
Radit beranjak ke ruang kerjanya dan mulai mempelajari berkasnya.
Tidak lama kemudian Andre datang dan mengetuk pintu.
" Masuk Ndre." Jawab Radit dari dalam.
" Ini Pak berkasnya. Saya sudah meminta Lisa untuk menjadwalkan pertemuan antara PT Santoso Group dengan PT Sindoro, karena akan segera kami konfirmasi kepihak sana. " Ujar Andre menjelaskan.
" Iya, tolong urus saja semuanya. Kemarin saya sudah memberikan sedikit gambaran seluk beluk Sindoro Group pada Lisa. Saya rasa dia sudah sedikit paham apa yang harus dilakukan."
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Radit membuka wathsapnya. Terlihat Mama Riana mengunggah story baru. Betapa kagetnya Radit saat melihat foto itu menunjukkan potret seorang gadis yang dia hafal postur tubuhnya walau hanya dari belakang. Gadis yang membuat dirinya sedikit terganggu tadi malam karena ucapannya, Sya. Didalam foto itu terlihat Sya dan Kendra berjalan bergandengan di sebuah mall, sepertinya Mama Riana diam-diam mengambil foto tersebut.
Segera saja Radit hubungi Mamanya. Namun tidak diangkat.
Mama
Jangan telfon dulu. Mama lagi quality time sama Sya dan Kendra.
" Apa-apaan ini. Kenapa Mama bisa bersama Sya. Darimana dia bisa tau nomor ponsel Maureen." Ujar Radit dalam hati.
Mama
Radit semakin kaget melihat pesan Mamanya lagi.
Andre yang sedang membereskan berkas-berkas yang berserakan menjadi heran saat melihat kening Radit berkerut seperti ada sebuah masalah yang menderanya, memberanikan diri untuk bertanya kepada atasannya itu.
" Pak... Apa ada masalah? " Tanya Andre.
" Hah... " Radit terkejut mendengar suara Andre.
" Ada apa Pak? " Tanya Andre sekali lagi.
" Tidak ada apa-apa." Jawab Radit pelan.
Terjadi keheningan beberapa saat. Pada akhirnya Radit memilih untuk bertanya kepada Andre.
" Ndre, kira-kira kamu tau tidak darimana Mama saya bisa tau alamat kosan Maureen? Bukankah hanya kita yang tau dan mungkin beberapa karyawan teman Maureen." Ujar Radit kepada Andre.
" Ooo jadi ini yang sedari tadi mengganggu pikiran Pak Radit." Ujar Andre dalam hati. Andre sudah menduga jika bosnya ini pasti akan bertanya tentang ini, dan karena Mama Riana sendiri sudah memperbolehkan untuk menjawab jika Radit bertanya, maka dia akan memberitahukan.
" Tadi pagi Bu Riana telfon saya dan minta alamat kosan Mbak Sya. Katanya tadi saya tidak boleh memberitahu kepada Anda jika bukan Anda yang bertanya sendiri Pak." Jawab Andre santai.
Mendengar jawaban dari Andre rasanya dia ingin mengumpat anak buahnya itu. Seketika juga Radit teringat dengan ucapan Mamanya yang berniat menjodohkan Sya dengan anak teman arisannya.
" Kenapa aku tidak menghubungi Maureen dari tadi." Pikir Radit.
Segera dia raih ponselnya untuk menghubungi Sya. Namun yang terjadi tetep tidak aktif seperti tadi malam.
" Bapak kenapa terlihat cemas seperti itu? Memang kenapa kalau Ibu Riana dan Kendra pergi sama Mbak Sya, atau ternyata Mbak Sya orang jahat? " Tanya Andre semakin bingung melihat Radit yang terlihat semakin gusar.
" Bukan begitu. Tapi Mama sedang berniat menjodohkan Maureen dengan anak teman arisannya." Jawab Radit tanpa sadar dan masih tetap berusaha menghubungi Mama Riana dan Sya.
" Memang kenapa kalau Ibu mau menjodohkan Mbak Sya dengan anak teman arisannya? Terus apa hubungannya dengan Anda, sampai Anda secemas ini? Bukankah Anda tidak ada hubungan apa-apa dengan Mbak Sya." Ujar Andre dengan heran.
Radit yang mendengar pertanyaan dan pernyataan dari Andre langsung saja terdiam. Dalam hati dia membenarkan ucapan asisten pribadinya itu.
" Iya benar saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Maureen. Kamu boleh pulang kalau sudah selesai dengan berkasnya, ini masih hari libur kan." Jawab Radit dengan suara yang dia paksakan untuk tenang.
Radit kembali terdiam ditempat duduknya. Sedangkan Andre kembali membereskan berkas-berkas.
.
.
.
Dilain tempat, saat ini Sya, Kendra, dan Mama Riana sedang asyik makan siang disebuah mall. Setelah tadi pagi dia dan Kendra menjemput Sya di kosannya tanpa memberitahu gadis itu terlebih dahulu. Alhasil saat itu Sya masih tidur dengan nyaman di kasurnya.
Berhubung Mama Riana perempuan dan Kendra masih kecil, Pak Didin mengijinkan mereka untuk langsung ke kamar Sya. Betapa terkejutnya Sya saat membuka pintu dan melihat Mama Riana juga Kendra ada didepan pintu. Dengan baju tidur yang lusuh, muka bantal yang masih mengantuk karena belum cuci muka dan rambut yang berantakan seperti singa, Sya mempersilakan mereka untuk masuk dengan senyuman canggung diwajahnya.
Mama Riana menyampaikan maksud kedatangannya kekosan Sya, dia berniat mengajak Sya untuk menemaninya arisan dengan alasan dia repot karena harus membawa Kendra. Sehingga membutuhkan Sya untuk membantunya menjaga Kendra nanti. Mau tidak mau Sya mengiyakan permintaan Ibu dari bosnya itu.
Dan ya... Saat ini mereka sedang ada dimall. Dibelanjakan oleh Mama Riana dan bermain bersama Kendra di Timezone. Barulah sehabis dzuhur mereka akan ke tempat arisan Mama Riana.