Baby... I Love You

Baby... I Love You
Posesif dan Protektif



Hari ini juga Sya sudah di perbolehkan untuk pulang karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Sekarang yang Sya butuhkan adalah istirahat agar janinnya kuat. Radit yang memang pada dasarnya posesif dan protektif sekarang ini sedang menunjukkan sikap protektifnya. Bagaimana tidak, setelah Sya di perbolehkan pulang Radit bahkan tidak memperbolehkan Sya untuk menginjakan kakinya di lantai sedikitpun. Dengan sigap Radit menggendong Sya keluar dari ruangannya menuju mobil.


" Mas, aku kan bisa jalan sendiri. Jalan kan nggak bikin dedeknya kenapa-napa Mas. Atau nggak pake kursi roda aja Mas. " Ujar Sya memberikan opsi lain kepada Radit. Pasalnya Sya merasa malu karena banyak yang memperhatikan mereka. Padahal Sya hanya hamil, bukan sakit parah. Tapi Radit justru memperlakukannya seolah dia manusia yang tidak berdaya.


" Enggak sayang, kamu nurut aja sama aku. Aku takut kalo kamu kecapean. Dan lagi, sepatu kamu itu tinggi. Jadi lebih aman aku gendong aja. Lagian kan ada aku, kenapa juga harus pake kursi roda. " Jawab Radit menyanggah ucapan Sya.


Jika sudah seperti ini tentu saja Sya tidak bisa membantah ucapan Radit. Yang bisa Sya lakukan saat ini hanya menelungkupkan wajahnya di dada Radit agar tidak melihat tatapan orang-orang di sekitarnya.


Di luar Andre sudah menunggu Sya dan Radit di dalam mobil. Tadi Radit melarang Andre untuk kembali ke kantor dan memintanya untuk menemaninya, bukan karena Radit tidak bisa sendiri, hanya saja Radit butuh Andre untuk menjadi supirnya karena dia ingin fokus dibelakang menjaga Sya.


" Bawa mobilnya pelan-pelan aja Ndre, ingat Sya sekarang lagi hamil. " Ujar Radit kepada Andre.


" Iya Pak. Ngomong-ngomong selamat atas kehamilannya mbak Sya, Pak Radit. " Ujar Andre memberikan selamat kepada sepasang suami-istri itu.


" Terima kasih Mas Andre. " Jawab Sya dengan ramah.


" Hmmm, Terima kasih Ndre. " Ujar Radit menimpali ucapan dari Andre.


Sepanjang perjalanan Radit terus mengelus pelan perut Sya. Kebahagiaan tidak bisa Radit tutupi.


" Mulai sekarang aku akan selalu ngontrol makanan kamu. Eehmm, atau aku panggil dokter gizi aja ya, biar kita tau makanan apa yang pas untuk ibu hamil. " Ujar Radit menyampaikan idenya. Yang pasti ide dari Radit itu dapat Sya rasakan jika itu akan membuatnya terkekang nantinya.


" Nggak usah Mas, kita kan bisa tanya sama Mama Riana dan Mama Farida. Aku yakin mereka pasti tau kok. Lagian kan sebulan sekali aku juga harus kontrol ke Dokter Lilis, kita tanya dia aja nanti. " Jawab Sya seraya tersenyum. Sya mengerti kalau apa yang Radit lakukan itu demi kebaikannya dan juga dedek bayi pastinya.


" Sekarang kamu lagi pengen apa sayang? " Tanya Radit kepada Sya. Radit ingat kalau dulu saat Audrey mengandung Kendra dia juga mengalami ngidam, tapi tidak dengan morning sickness. Dulu Audrey sering terbangun saat tengah malam dan menginginkan steak. Mungkin kali ini Sya juga akan mengalami masa ngidam itu.


" Enggak Mas, dedeknya lagi nggak pengen apa-apa kok. Cuma sekarang aku rasanya ngantuk banget. " Ujar Sya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Radit. Seketika juga Radit mengelus-elus kepala Sya agar istrinya itu bisa tidur dengan nyaman.


" Ya udah tidur aja, nanti aku gendong kok kalo udah sampe rumah. " Ujar Radit dengan lembut.


Sya langsung saja memejamkan matanya, dan tidak lama dia tertidur pulas seolah dari tadi menahan kantuk yang amat sangat.


Andre yang melirik pemandangan sepasang suami-istri di belakang dari sebuah kaca itu tersenyum. Andre merasa ikut bahagia melihatnya. Sekarang Radit berhasil menemukan pujaan hatinya yang Andre harap akan terus bersama sampai maut memisahkan. Andre adalah saksi dimana dia melihat sendiri bagaimana hancurnya Radit saat mengetahui perselingkuhan mendiang mantan istrinya. Jika di luar Radit akan bersikap seolah dia baik-baik saja dan tidak peduli dengan penghianatan yang terjadi itu. Namun saat sedang sendirian dan dalam pengaruh alkohol Radit akan menangis dan meraung seperti singa yang sedang kesakitan. Sangat terlihat kalau hati Radit hancur berkeping-keping.


Mereka tiba di depan rumah Radit.


" Kamu bisa kembali lagi ke kantor Ndre, aku takut Lisa akan kewalahan kalau harus meng-handle pekerjaanku sendirian. Mobilnya kamu bawa saja. " Ujar Radit kepada Andre. Yang langsung Andre iyakan.


Seperti yang Radit katakan tadi, dia keluar mobil dengan Sya yang ada di gendongannya. Sya tidur begitu pulas sampai tidak sadar kalau sekarang di gendong oleh Radit.


Mbok Inah yang kebetulan mau keluar berpapasan dengan Radit. Wanita paruh baya itu terlihat terkejut melihat Sya yang di gendong Radit dengan keadaan tidak sadar.


" Mbak Sya kenapa Pak? " Tanya Mbok Inah kepada bosnya itu.


" Nggak papa Mbok, Sya cuma lagi tidur kok. " Jawab Radit.


Radit segera membawa Sya ke kamar agar tidurnya menjadi lebih nyaman. Setelahnya Radit memilih untuk berganti pakaian. Namun saat melihat Sya yang masih menggunakan pakaian kerjanya yang terlihat sangat tidak nyaman. Radit merasa bingung, haruskah dia membangunkan Sya untuk sekedar mengganti baju terlebih dahulu? Ujar Radit dalam hati.


Sekarang sudah pukul setengah 1, dan itu waktunya Sya untuk makan siang dan minum vitamin juga obat penguat kandungan yang di berikan oleh Dokter Lilis. Mau tidak mau Radit harus membangunkan Sya.


" Sayang, bangun dulu yuk. Kamu harus makan siang dulu, tidurnya di lanjut nanti lagi. " Bisik Radit di telinga Sya. Tangannya tidak berhenti mengusap lembut lengan Sya. Hal ini membuat Sya mengeliat tidak nyaman sampai akhirnya membuka matanya perlahan.


" Masih ngantuk Mas. " Ujar Sya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


" Jam berapa? " Tanya Sya.


" Jam setengah 1."


Sya beranjak dari tidurnya dan hendak langsung berdiri.


" Pelan-pelan sayang, jangan langsung bangun gitu. Nanti kepala kamu pusing. " Ujar Radit mengingatkan Sya. " Aku bantu ke kamar mandi ya. " Tambah Radit.


" Mas, aku bisa sendiri kok. Mas tenang aja, aku bakalan hati-hati. " Ujar Sya menolak bantuan dari Radit dengan halus.


" Aku anter kamu sampe kamar mandi doang, habis itu aku tunggu di luar. "


Akhirnya Sya mengiyakan permintaan Radit. Suaminya itu langsung menggendong Sya ke dalam kamar mandi.


" Mas, tolong ambilin baju aku ya. " Ujar Sya meminta tolong Radit.


Radit keluar dari kamar mandi dan mengambilkan pakaian rumahan milik Sya. Setelah memberikannya barulah Radit keluar dari kamar mandi.


Sembari menunggu Sya yang sedang ada di kamar mandi, Radit menghubungi Pak Agus agar nanti mengantarkan Kendra pulang saja tidak seperti biasa yang langsung ke tempat Mama Riana.


Sya keluar dari kamar mandi dalam. keadaan yang lebih segar.


" Aku mau sholat dulu, Mas udah sholat belum?. " Ujar Sya kepada Radit.


Radit menggelengkan kepalanya tanda dia juga belum menjalankan sholat.


" Ya udah, aku tunggu disini. Mas ambil wudhu dulu sana. " Perintah Sya kepada sang suami.


Segera saja Radit ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


...***...


" Kamu harus makan nasi sayang. " Ujar Radit kepada Sya yang sedari tadi menolak untuk memakan nasi.


" Nggak mau Mas, aku lagi nggak selera liat nasi, aku pengen makan yang seger-seger aja. " Ujar Sya merajuk.


" Tapi tadi pagi kamu cuma minum jus alpukat doang. " Ujar Radit kepada Sya. " Sedikit aja sayang, demi dedek bayi loh. " Tambah Radit.


Akhirnya Sya mau menerima suapan dari Radit meski dengan sangat terpaksa.


" Assalamu'alaikum.... " Terdengar suara teriakan bocah kecil yang tak lain adalah Kendra. Bocah tampan itu terlihat menggemaskan dengan seragam sekolahnya.


" Wa'alaikumsalam. " Sahut Sya dan Radit.


Kendra yang sepertinya baru menyadari keberadaan Sya langsung tersenyum lebar begitu melihatnya.


" Bundaa... " Kendra berlari ke arah Sya. Namun belum sampai dia di depan Sya langkahnya harus terhenti karena tubuhnya yang diangkat oleh Radit.


" Sekarang Abang nggak boleh lagi minta gendong sama Bunda karena dedeknya udah ada di perut Bunda. " Ujar Radit kepada Kendra.