Baby... I Love You

Baby... I Love You
Sudah lebih baik



Pagi ini Radit masih terlihat tidak semangat dikarenakan mimpi semalam yang masih bersarang di pikirannya. Radit lebih banyak diam dan hanya memperhatikan semua gerakan Sya. Dan itu sedikit membuat Sya merasa tidak nyaman.


Sya yang melihat Radit lebih banyak diam seperti itu menjadi bingung harus berbuat apa. Sya sudah berusaha membuat Radit agar menjadi lebih tenang, tapi sepertinya itu kurang berhasil.


"Udah Mas jangan terlalu dipikirkan, kita hanya harus terus berdoa agar Allah SWT memberikan yang terbaik untuk kita. Biar bagaimana pun apa yang akan terjadi nantinya itu merupakan takdir. Kalau Mas seperti ini justru aku yang jadi cemas memikirkannya. Nanti siapa yang akan menguatkan aku kalau mas sendiri sudah ketakutan dengan hal yang belum pasti terjadi seperti ini?" Ujar Sya kepada Radit, sebenarnya Sya tidak tega harus berbicara seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, Radit harus segera di sadarkan. Terlalu cemas berlebihan itu tidak baik untuk diri kita maupun untuk orang lain.


Radit terdiam mendengar ucapan Sya, dia berusaha untuk mencernanya. Dan sampai akhrinya Radit sadar, dia seorang laki-laki yang merupakan seorang suami dan juga ayah, bagaimana bisa dia menjadi lemah seperti ini. Jika dia saja lemah begini, lalu siapa yang akan menjadi sandaran untuk anak dan istrinya.


"Maafkan aku sayang, seharusnya aku tidak lemah seperti ini. Aku melupakan fakta kalau kamulah yang membutuhkan dukungan, kamulah yang nantinya akan berjuang dan bertaruh nyawa." Jawab Radit dengan lirih. Radit merasa sangat bersalah kepada Sya.


Sya tersenyum dan memebawa Raditt kedalam pelukannya.


"Tidak apa-apa Mas, aku paham kalau kamu mencemaskan aku. Tapi tidak boleh sampai berlebihan seperti itu."


Radit hanya menganggukan kepalanya.


Sejak bertemu dengan Sya, Radit merasa dirinya menjadi laki-laki yang sering kehilangan kontrol diri jika itu berkaitan dengan Sya. Dimulai dari rasa cemburu yang seringkali berlebihan dan rasa cemasnya kepada wanita itu yang juga berlebihan.


...~~~...


Setelah Sya memberikan pengertian kepada Radit tadi pagi, Radit sudah menjadi lebih baik. Sekarang laki-laki itu sedang bermain bersama Shanum. Kenapa tidak dengan Kendra? itu karena Rida dan Raga belum membawa putranya itu kembali ke rumah.


Berhubung Asti sedang sibuk di dapur bersama Mama Farida dan Sya, Sedangkan Fardan ada di ruangan kerjanya menyelesaikan design resort yang akan menjadi project selanjutanya di Lombok dan Ayah Dodi sedang mengajar di Kampus, jadi tidak ada salahnya kalau Radit membantu untuk menjagakan Shanum.


Dengan menggendong Shanum seperti ini membuat radit merasa tidak sabar ingin menggendongg anaknya yang masih ada di dalam perut Sya.


Sya yang melihat Radit sudah kembali seperti semula merasa bahagia. Setidaknya Radit sudah tidak tenggelam dari rasa cemasnya yang begitu berlebihan itu.


Tepat setelah selesai makan siang terdengar suara mobil yang berhenti di depan halaman rumah Sya. Sya menduga kalau itu adalah Kendra dan yang lainnya. Dan tentu saja tebakannya itu selalu benar.


"Assalamu'alaikum... Bunda... Abang pulang." Teriak kendra dengan suara keras, dan tanpa sengaja membuat Shanum yang mendengarnya menjadi kaget dan menangis.


"Abang pelan-pelan aja manggilnya, adek Shanum jadi kaget sayang." Ujar Radit menasehati Kendra.


Kendra buru-buru mendekati Ayahnya yang sedang menggendong Shanum untuk menenangkan bayi gemoy itu.


"Adek...maafin Abang ya, janji deh Abang nggak gitu lagi. Cup ya... Abang udah beliin hadiah buat adek Shanum loh, tadi belinya sama dedek Aulel, Tante Lida dan Om laga. Addek mau liat enggak?" Ujar Kendra lirih, dia merasa sangat bersalah karena sudah membuat adiknya itu menangis.


Kendra langsung beralih ke Raga yang memang membawa beberapa paperbag ditangannya. Mengeluarkan sebuah boneka berwarna coklat yang terlihat begitu lucu.



...photo by Google...


"Ini buat adek Shanum biar kalau bobok nggak takut kalena ada temennya." Kendra memberikan boneka yang ukurannya sangat cocok di pelukan Shanum. Memang ukurannya tidak terlalu besar, tapi jika di tanyakan berapa harganya, sudah pasti tidak murah.


"Makasih ya Abang Kendra sama Kakak Aurel, adek Shanum suka sama hadiahnya." Ujar Asti mewakilkan ucapan terima kasih dari Shanum.


Ternyata tidak hanya boneka saja, Rida juga memberikan beberapa setel pakaian dan juga gaun untuk dedek Shanum.


Setelah seslesai membongkar belanjaan dan hadiah-hadiah untuk dedek Shanum. Mereka berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar menemani anak-anak bermain dan bertukar cerita.


Besok Sya dan juga Radit harus kembali lagi ke Jakarta karena ada beberapa rapat yang harus dihadiri besok sore. Sedangkan Rida dan Raga juga kembali ke Bandung karena memang cuti yang Raga dapatkan hanya 3 hari.


Lalu kemana Mama Riana dan Papa Riyan saat ini? Tentu saja mereka menghabiskan waktunya untuk berburu oleh-oleh di Jogja. Meskipun sudah sering ke Jogja tapi oleh-oleh tidak akan pernah Mama Riana lupakan, dan Papa Riyan tentu saja hanya mengikuti kemana langkah istrinya itu pergi. Suami yang romantis bukan? Mungkin mereka akan kembali sore nanti.


...~~~...


"Bunda... Bunda... Abang tuh kemalin kangen tau sama Bunda, Abang sedih kalena boboknya enggak sama Bunda." Ujar Kendra bercerita kepada Sya.


Saatt ini Radit, Sya dan Kendra sudah ada di kamar karena memang sudah waktunya untuk tidur, sudah pukul 10 malam dan Kendra belum juga tidur.


"Ooo ya, tapi Abang nggak rewel kan?" Tanya Sya kepada Kendra.


"Enggak dong, Abang kan anak baik. " Jawab Kendra dengan bangga. Kendra ingat kalau Sya pernah bilang dia tidak boleh menyusahkan orang lain kalau tidak sedang bersama Sya atau Radit. Untuk itu meskipun semalam Radit merasa rindu dengan Sya dan ingin kemabli ke rumah, tapi dia menahannya karean tidak ingin membuat Rida dan Raga susah. Toh ikut ke hotel bersama mereka adalah keinginannya sendiri. Jadi Kendra harus bertanggungjawab dengan keputusannya itu.


"Anak Bunda ini emang hebat... Ya udah sekarang bobok yuk, jangan lupa berdoa." Ujar Sya seraya mengecup puncak kepala bocah tampan itu.


Radit yang mendengar pembicaraan antara Kendra dan Sya itu tersenyum. Hatinya selalu terasa hangat setiap melihat interaksi ibu dan anak itu. Meskipun tidak ada ikatan darah diantara mereka, tapi ketulusan yang mereka pancarkan begitu terasa nyata. Kendra selalu terlihat bahagia setiap bersama Sya, Kasih dan cinta Sya kepada Kendra sudah tidak perlu di ragukan lagi.


Radit merasa sangat bersyukur memiiki mereka di hidupnya. Meskipun sekarang ini Radit harus mengalah dengan tidur di bawah, tapi Radit tidak menyesalinya.Toh untuk sekarang ini yang lebih butuh perhatian Sya adalah putranya.